Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menag: Semoga Tidak Ada Perbedaan Awal Puasa

Dede Suryana , Jurnalis-Kamis, 26 Juni 2014 |14:39 WIB
Menag: Semoga Tidak Ada Perbedaan Awal Puasa
Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin (Foto: Antara)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin berharap agar tahun ini tidak ada perbedaan awal puasa. Bila tetap terjadi perbedaan pendapat, Menag meminta umat Islam untuk saling menghargai satu sama lain.

“Sejak 1962, atas nama Pemerintah, Kemenag melakukan Sidang Itsbat (penetapan) awal bulan, di mana hasil hisab dan rukyat hilal, dikaji bersama, baik oleh Kemenag, ormas Islam, perguruan tinggi, dan lain sebagainya, untuk memberi pertimbangan kepada Menag sebelum Menag mengambil keputusan,” kata dalam Acara ‘Sarasehan Mencari Titik Temu Awal Ramadhan’ di Jakarta, Kamis (26/6/2014).

Pemerintah, kata Menag, berkewajiban menetapkan 1 Ramadan dan satu Syawal karena negara bertanggung jawab terhadap mayoritas umat Islam yang membutuhkan kepastian hukum dalam menjalankan ibadah puasa.

Lukman berharap, sarasehan ormas Islam dan para ahli astronomi bisa membuahkan titik temu untuk menyatukan persepsi penentuan awal Ramadan. "Kita harapkan ada titik temu mengenai metode penentuan dan penglihatan hilal sebagai tanda awal ramadhan dan syawal. Sehingga tidak ada lagi perbedaan," tambah Lukman.

Menag menjelaskan, keputusannya bersifat resmi dan mengikat agar umat mempunyai kepastian dan tidak tercerai berai. Meski demikian, jika terpaksa karena beberapa hal ada masyarakat yang berbeda pandangan, Menag meminta jangan agar perbedaan itu tidak konflik di masyarakat.

“Kita berupaya sedapat mungkin agar persamaan itu dicapai. Kalau tidak bisa juga, ya tentu masing-masing dari kita harus berjiwa besar untuk toleran,'' ujarnya. Lukman meminta agar semua pihak bisa saling menghormati jika tetap terjadi perbedaan.

Buat Terobosan

Acara ‘Saresehan Mencari Titik Temu Awal Ramadhan 1435 H’ ini juga diharapkan bisa menghasilkan terobosan baru dalam penetapan awal bulan Hijriyyah. “Hal ini penting, agar penetapan awal bulan semaksimal mungkin bisa diakui oleh semua pihak, tanpa dikotomi dan diskriminatif,” kata Menag.

Sebab, dia mengakui, dalam penentuan awal bulan Qamariyah, baik di Indonesia maupun di beberapa negara Islam, sering kali terjadi perbedaan, yang berdampak rentannya terjadi gesekan di masyarakat.

Menurut Menag, adanya perbedaan itu terjadi karena banyaknya sistem hisab yang berkembang di masyarakat dan kriteria-kriteria yang digunakan. Di samping itu, tidak bisa diingkari kaitannya dengan sisi sosial astronomis maupun sosial agama yang mengiringi penetapan tersebut.

Adapun, sidang Itsbat penentuan awal bulan Ramadan tahun 1435H/2014M akan dilakukan pada Jumat 27 Jumat besok. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sidang itsbat ini tidak akan disiarkan langsung oleh stasiun televisi, namun hasilnya akan disampaikan melalui konperensi pers terbuka, seusai pelaksanaan sidang.

(Dede Suryana)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement