Demikian juga dengan Imam Malik apabila telah datang bulan Ramadan beliau meliburkan mejelis haditsnya dan mengkhususkan diri membaca Alquran dari mushaf. Bahkan, Imam Asy-Syafi`i setiap memasuki Ramadan selalu mengkhatamkan Alquran dua kali khatam setiap hari, artinya beliau tidak berpisah dengan bulan Ramadan kecuali sudah mengkhatamkan enam puluh kali.
Bukankah Rasulullah Saw melarang mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari?
Abdullah bin `Amr bin `Ash pernah bertanya ke Rasulullah Saw.: “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Alquran? Beliau menjawab, ‘Dalam satu bulan.’ Abdullah berkata, ‘Aku masih lebih kuat dari itu.’ Abdullah terus minta dispensasi hingga Nabi Saw mengatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi Saw lantas bersabda, “Tidak akan bisa memahaminya orang yang mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Menanggapi hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan dalam Lathaiful Ma`arif, “Larangan mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari itu jika dilakukan terus menerus. Namun jika dilakukan sesekali saja, apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadan, lebih-lebih pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.”
Mana yang lebih utama, membaca dengan tadabbur atau membaca cepat?
Jawaban pertanyaan tersebut kembali kepada kondisi pembacanya. Pembaca Alquran dalam hal ini terbagi dalam dua kelompok: