MADINAH - Sejak Kamis (26/7/2018) pagi, sesaat setelah adzan subuh berkumandang, tampak antrean bus memadati kawasan Masjid Nabawi. Jaraknya hanya sekira 200 meter. Pagi itu memang tidak biasanya, ribuan jamaah haji yang berada di area itu sibuk menenteng barang-barangnya bawaanya sambil mencari bus yang akan ditumpanginya.
Antrean kendaraan di jalan itu sesaat terlihat mengular, sehingga memaksa mobil-mobil pribadi warga setempat harus berputar mencari jalan lain. Ada 168 bus yang bersandar disana, tentu bukan jumlah yang sedikit. Belum lagi kendaraan pendukung lainnya yang ikut memadati area tersebut.
Itulah gambaran suasana pagi Kota Madinah yang sesak oleh ribuan jamaah haji Indonesia yang bersiap meninggalkan Madinah untuk bergerak menuju kota Makkah. Namun sebelum ke kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu, jamaah wajib transit terlebih dahulu di Masjid Bir Ali untuk melakukan Miqat atau Berihram diikuti niat Umrah wajib sebelum berhaji.
Tepat pukul 06.30 waktu Arab Saudi, satu persatu bus meninggalkan lokasi dan bergerak menuju Masjid Bir Ali. Hanya butuh waktu 30 menit untuk tiba di lokasi. Atau tepatnya 11 kilomter dari Masjid Nabawi.

Foto: Amril Amarullah/Okezone
Setibanya di Masjid Bir Ali, jamaah langsung turun dan bergegas menuju masjid untuk melasanakan salat sunah 2 rakaat, dan setelah itu mereka langsung niat Umrah bagi yang belum. Waktunya yang ditentukan panitia hanya 30 menit, setelah itu jamaah kembali ke bus masing-masing untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa jamaah yang akan berhaji tamatu di awali dari Madinah diwajibkan singgah terlebih dahulu ke Masjid Bir Ali. Bahkan bila ada bus jamaah yang terlewatkan, maka bus tersebut wajib memutar balik ke Bir Ali lagi.
Begitu istimewanya Masjid Bir Ali bagi jamaah yang akan melaksanakan ibadah haji dan umrah.Menurut sejarah, masjid ini tergolong sangat istimewa di kalangan para jamaah haji. Rasulullah SAW selalu singgah dan mengambil miqat di masjid ini. Miqat adalah tempat bermulanya ihram. Jarak antara Masjid Bir Ali ke kota Makkah masih cukup jauh sekira 450 kilometer, bisa ditempuh 5-6 jam tanpa macet, dengan kecepatan 100-110 km/jam.

Meskipun begitu, para jamaah begitu menikmati perjalanan, alunan kalimat talbiyah terus berkumandang sepanjang perjalanan, berzikir dan berdoa. Bahkan ada juga jamaah yang memilih tidur untuk beristirahat sejenak.
Masjid Bir Ali seakan menjadi favorit para jamaah. Dengan memiliki menara setinggi 64 meter yang tampak menjulang gagah dari balik rindangnya pepohonan di bawah sebuah lembah. Di zaman Rasulullah lembah tersebut dikenal dengan nama Lembah Aqiq. Lembah yang terletak di perbatasan tanah haram ini merupakan lokasi berdirinya Masjid Bir Ali. Letaknya sekitar 11 kilometer dari Masjid Nabawi dan 9 kilometer dari sisi luar kota Madinah.
Selain dikenal sebagai masjd bersejarah tempat Rasulullah memilih miqat untuk berangkat umroh, keistimewaan lainnya adalah ketika memasuki kawasan itu, tampak pemandangan di sekitar masjid yang sangat mengagumkan. Karena berada di dasar lembah, menjadikan lokasi masjid ini sangat rimbun yang ditumbuhi banyak pohon menjadikan kawasan tersebut seperti lembah hijau.

Ditambah lagi, dengan latar belakang bukit berbatu cadas, sehingga tampak kontras dan sangat indah. Karenanya sangat disayangkan bila tidak diabadikan dengan kamera. Mmasjid ini tampak berdiri kokoh dan berwibawa. Bangunannya mirip benteng dimasa peperangan. Bercatkan putih, dikelilingi pepohonan kurma dan rerumputan, sehingga terlihat gagah namun tetap asri.
Menurut data dari Wikipedia, sang arsitek Abdul Wahid El Wakil membangun masjid dengan luas 26 ribu meter persegi itu terinspirasi oleh kehidupan masyarakat sekitar yang bertekad keras dan disiplin dalam membangun dan menyusun rancangan Masjid Bir Ali yang gagah ini.

Lapangan parkir Masjid Bir Ali sangat luas, mirip sebuah terminal bus yang mampu menampung sekira 90-100 bus dan ratusan kendaraan kecil. Sehingga tidak perlu khawatir kehabisan parkir ketika tiba di area masjid.
Memasuki bagian depan gerbang, mata para jamaah akan terpusat pada menara berbentuk kubah. Ditambah lorong-lorong di dalam masjid, sehingga serasa memasuki istana kerajaan. Sungguh pemandangan yang akan memanjakan mata para jamaah ketika berada di masjid tersebut. Bergeser ke arah toilet, bila ingin mandi atau sekedar berwudhu, jamaah tidak perlu berebut, karena jumlahnya banyak dan leluasa mandi di toilet yang jauh dari kesan kotor dan jorok.
(Khafid Mardiyansyah)