Share

Mulai Puasa Selasa, Ini Cara Islam Aboge Tentukan Awal Ramadan dan Idul Fitri

krjogja.com, Jurnalis · Selasa 07 Mei 2019 12:32 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 07 614 2052497 mulai-puasa-selasa-ini-cara-islam-aboge-tentukan-awal-ramadan-dan-idulfitri-WVNoFlnIxK.jpg

MESKI pemerintah telah menetapkan awal Ramadan jatuh pada Senin 6 Mei, namun sejumlah masyarakat memutuskan untuk memulai puasa di hari yang berbeda. Islam Aboge dan Tarekat Syattariyah misalnya, memutuskan untuk mulai puasa pada Selasa 7 Mei.

Sementara penganut Terekat Naqsabandiyah di Kota Padang, Sumbar, sudah berpuasa sejak Sabtu 4 Mei. Mereka meyakini awal Ramadan jatuh pada hari itu.

Islam Aboge sendiri merupakan singkatan dari Alif Rebo Wage. Yaitu sebuah sistem penanggalan Jawa kuno. Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sistem ini masih digunakan oleh beberapa masyarakat desa, salah satunya di Desa Cikakak, Wangon.

Menurut Juru Kunci Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Sulam (49), Hampir semua masyarakat di desanya masih menggunakan sistem penanggalan ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk menentukan hari-hari besar agama Islam.

Sistem penanggalan Aboge di Desa Cikakak sudah digunakan sejak adanya Masjid Saka Tunggal, sebuah masjid tua di desa ini. Konon, masjid tersebut merupakan masjid tertua di Indonesia yang dibangun sebelum masa Kerajaan Demak. Tradisi penghitungan ini masih digunakan sampai sekarang untuk menentukan hari, tanggal, dan bulan hijriah.

Baca Juga : Para Wanita Avengers Endgame di Met Gala 2019, Siapa Paling Mencuri Perhatian?

Masa penanggalan Aboge adalah satu windu atau 8 tahun. Masing-masing tahun memiliki nama dan rumus yang digunakan untuk menentukan hari pertama dalam tahun tersebut, dan patokan untuk menentukan hari-hari lain. Cara penghitungan yang dipakai adalah hisab, sehingga hari-hari tertentu sudah dapat diperkirakan jauh-jauh hari.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Bulan dalam sistem penanggalan Aboge sama seperti penanggalan Hijriah yang dimulai dari bulan Muharram (Suro) sampai Dzulhijah (Besar). Sedangkan untuk hari, sama seperti kalender Masehi yang dimulai dari Minggu sampai Sabtu. Bedanya, sistem ini mengenal hari pasaran yang terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing.

Tahun ini merupakan tahun ke-6 atau yang disebut Be’. Rumus tahun Be’ adalah Bemisgi (Be’, Kemis, Legi) yang berarti hari pertama atau 1 Muharram di tahun ini adalah hari Kamis Manis. Hari tersebut digunakan sebagai patokan untuk menentukan hari lain, salah satunya adalah hari mulainya puasa ramadan.

Sesuai dengan penanggalan Aboge, Ramadan tahun ini akan jatuh pada hari Selasa Pahing, atau tepatnya 7 April 2019. Hitungan tersebut sesuai dengan rumus bulan Ramadan yaitu Sanemro (Puasa, Enem, Loro) yang berarti hari ke 6 dan pasarannya 2.

Maksudnya, Ramadan akan jatuh 6 hari setelah hari Kamis sebagai hari pertama di tahun ini, dan jatuh di pasaran nomor dua setelah Manis sebagai pasaran pertama di tahun ini. Sesuai dengan rumus, 6 hari setelah Kamis berarti Selasa, dan pasaran urutan kedua setelah Manis adalah Pahing. Sedangkan untuk 1 Syawal, akan jatuh pada hari Kamis Pahing, 6 Juni 2019 sesuai dengan rumus Waljiro (Syawal, Siji, Loro).

Meskipun memiliki sistem penanggalan sendiri, tidak ada yang berbeda dalam tata cara berpuasa. Menurut Sulam, tidak ada tradisi khusus yang dilakukan masyarakat. Hanya saja, sebelum memasuki bulan Ramadan, masyarakat di sekitar masjid banyak melakukan ziarah atau nyekar ke makam kerabat. Hal tersebut dilakukan sebagai momentum di Bulan Sya'ban yang diyakini sebagai bulan yang tepat untuk melakukan ziarah.

Dalam beberapa waktu, perhitungan 1 Ramadan dan 1 Syawal Aboge tidak sama dengan hitungan pemerintah ataupun ormas Islam lain. Terkadang, perhitungan Islam Aboge lebih 1 hari dari hitungan pada umumnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini