Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Meski Berat Buruh Angkut Pasir Tetap Puasa, Satu Keranjang Dibayar Rp1.000

Solopos.com , Jurnalis-Rabu, 22 Mei 2019 |15:24 WIB
Meski Berat Buruh Angkut Pasir Tetap Puasa, Satu Keranjang Dibayar Rp1.000
Puasa Buruh Angkut Pasir
A
A
A

PUASA bagi orang yang bekerja berat seperti buruh angkut pasir bukanlah perkara mudah. Terik matahari dan beban fisik yang berat menjadi makanan sehari-hari. Mereka harus berjalan puluhan bahkan ratusan meter dengan menggendong keranjang berisi pasir puluhan kilogram (kg).

Kendati demikian, kewajiban berpuasa tak pernah ditinggalkan para buruh angkut pasir yang mayoritas perempuan ini. Itulah gambaran kehidupan keseharian Partini, buruh gendong pasir di tepi sungai Desa Gubug, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Sama seperti umat islam lainnya, Partini juga menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Dia tetap bekerja menjadi buruh gendong pasir seperti biasa. Dengan menggendong sekeranjang pasir di punggung, dia menuju gundukan pasir di pinggir sungai. Sambil menjaga keseimbangan, Partini mulai menaiki gundukan pasir dan kemudian berhenti di puncaknya. Ia melepas gendongannya kemudian menuang pasir di keranjang.

Ini adalah keranjang pasir ke-25 yang ia bawa dari sumber penambangan pasir tradisional di aliran sungai itu hari itu. Keringat membasahi wajah wanita berusia 59 tahun ini dan segera ia menyekanya menggunakan ujung kain jarit yang dia pakai untuk pengikat keranjang ke punggungnya.

Matahari di atas ubun-ubun menjadi penanda waktu sudah memasuki tengah hari. Artinya, ini adalah waktunya beristirahat. Partini yang siang itu naik dari sungai bersama temannya sesama buruh gendong pasir, Prapti (47), memutuskan duduk di tepi gundukan pasir yang teduh. Pada waktu hampir bersamaan, suara azan Duhur dari kejauhan mulai terdengar sayup-sayup.

Sambil mengibas-ngibaskan kain jaritnya, Partini menceritakan setiap hari dia mengangkut rata-rata 50-60 keranjang pasir. Dengan beban pasir sekitar 50 kg per keranjang, dia berjalan menanjak lumayan jauh dari lokasi penambangan menuju titk pengumpulan pasir itu.

“Yang di sini buruh angkut pasir nya ada 4, yaitu saya, Prapti, lalu ada dua lagi yaitu Sumi dan Temu yang sekarang masih di bawah (di sungai). Semuanya orang sini saja. Masing-masing dari kami mengangkut 50-60 keranjang setiap hari,” ungkap Partini.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement