nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Makna Ucapan Semoga Kembali kepada Fitrah Saat Idul Fitri

Minggu 26 Mei 2019 02:27 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 26 330 2060419 makna-ucapan-semoga-kembali-kepada-fitrah-saat-idul-fitri-EuWpuJslyX.jpg Idul Fitri momentum manusia untuk kembali kepada fitrah

SALAH satu ungkapan yang lazim menyongsong hari raya Idul Fitri adalah semoga kembali kepada fitrah. Apakah fitrah itu? Secara kebahasan, fitrah berarti asal kejadian, agama yang benar atau kesucian.

Dijelaskan dalam Alquran (al-Rum/30: 30): “Fa aqim wajhaka li al-din haniifa, fithratallah – I lati father al-nas ‘alaiha, ia tabdila li khalqillah, dzalika al-din al-qayyim wa lakinna aktasara al-nas la ya’lamun” (Hadapkanlah dirimu kepada agama yang lurus, kepada asal kejadian yanmg suci yang telah ditetapkan Allah kepada manusia. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah, demikian itulah agama yang lurus, namun kebanyakan manusia tidak mengerti).

Dalam al-hadits dikatakan: “Kullu maulud yuladu ala-I fithrah, fa innama abawahu yuhawwidanihi, aw yumajjisanihi aw yunasshiranihi” (Anak yang terlahir seluruhnya dalam keadaan fitrah, yaitu membawa potensi untuk Islam dan berserah diri. Namun orang-orang tua merekalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani).

Fitrah dalam pengertian ini adalah jangkar transcendental yang menghubungkan dorongan alamiah manusia kepada Allah. Fitrah adalah hasil dari perjanjian primordial antara Tuhan dan jiwa-jiwa anak cucu Adam saat dikeluarkan dari sulbi mereka, ketika Tuhan berkata: “alastu birabbikum” (Bukanlah aku ini Tuhanmu?), mereka serempak menjawab: “bala syahidna” (ya, kami bersaksi Engkau Tuhan kami) (al-A’raf/7: 172).

Fitrah manusia secara potensial adalah kecenderungannya yang tulus dan murni kepada kebenaran. Sementara secara actual fitrah manusia berada di garis tengah antara iman dan kufur, patuh dan ingkar, serta takwa dan lacur. Sebab manusia adalah yang diberi akal sekaligus nafsu.

Alquran (QS. Al-Syams/91: 8-10) menegaskan: “Fa’alhamaha fujuraha wa taqwaha. Qad Aflaha man zakkana wa qad khaba man dassaha” (Allah telah memberi pribadi manusia kecenderungan lacur dan takwa. Maka beruntunglah yang menyucikannya dan merugilah yang menodainya).

Kembali kepada fitrah adalah kembali menemukan keseimbangan untuk mengelola totalitas anugerah yang diberikan Allah: menyeimbangkan orientasi jasmani dan ruhani, tubuh dan jiwa, akal dan nafsu, dan akhirnya keseimbangan antara orientasi duniawi dan ukhrawi.

Prinsip-prinsp ini diringkas dalam istilah tawassuth (sikap tengah), tawadzun (keseimbangan dan keselarasan), Tasamuh (toleransi antara sesama manusia meskipun ada perbedaan, I’tidal (teguh dan tidak berat sebelah), dan iqtishad (bertindak sewajarnya dan tidak berlebihan).

Puasa yang tujuan utamanya adalah insan muttaqin di mana wujud esensi spiritualnya seseorang itu kembali fitri seperti saat lahir yang tidak ada noda hitam setitikpun.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini