nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Begini Ucapan Ijab Kabul yang Benar, Biar Sah!

Annisa Aprilia Nilam Sari, Jurnalis · Sabtu 29 Juni 2019 00:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 28 614 2072262 begini-ucapan-ijab-kabul-yang-benar-biar-sah-s5gGlIFBPO.jpg Pasangan Muslim menikah (Foto: Shutterstock)

Prosesi ijab kabul dalam pernikahan merupakan gerbang utama bagi pasangan calon suami istri untuk mengikat satu sama lain dalam sebuah ikatan perkawinan. Jadi atau tidaknya, sah atau tidaknya pasangan calon suami istri menjadi pasangan suami istri sangat ditentukan oleh sah atau tidaknya proses akad nikah yang di antaranya terdiri dari unsur ijab dan kabul.

Di beberapa daerah di Indonesia kerap dijumpai satu pemahaman di masyarakat bahwa salah satu syarat sahnya ijab qabul dalam pernikahan adalah apabila diucapkan dalam satu tarikan napas.

 menikah

(Foto: Aouraa)

Maka tak jarang sebagian saksi menyatakan tidak sah dan meminta diulangi akad nikah dengan alasan mempelai laki-laki tidak mengucapkan kalimat kabulnya dalam satu tarikan napas.

Lantas, bagaimana ucapan ijab kabul yang benar? Berikut beberapa rincian keterangan ulama yang bisa membantu memahami syarat ijab kabul yang telah dirangkum dari berbagai sumber oleh Okezone, Sabtu (29/6/2019).

Di antara rukun nikah adalah adanya ijab kabul. Ijab adalah perkataan wali pengantin wanita kepada pengantin pria: Zawwajtuka ibnatii…, saya nikahkan kamu dengan putriku….

Sedangkan kabul adalah ucapan pengantin pria: Saya terima…

Jika sudah dilakukan ijab kabul dan dihadiri dua saksi laki-laki atau diumumkan (diketahui khalayak ramai), maka nikahnya sah. Dalam pengucapan ijab kabul, tidak disyaratkan menggunakan kalimat tertentu dalam ijab kabul.

Lajnah Daimah ditanya tentang lafadz nikah. Mereka menjawab, semua kalimat yang menunjukkan ijab kabul maka akad nikahnya sah dengan menggunakan kalimat tersebut, menurut pendapat yang lebih kuat. Yang paling tegas adalah kalimat: ‘zawwajtuka’ dan ‘ankahtuka’ (aku nikahkan kamu), kemudian ‘mallaktuka’ (aku serahkan padamu). Fatawa Lajnah Daimah (17:82).

Bolehkah akad nikah (ijab kabul) dengan selain bahasa Arab?

Pendapat yang lebih kuat, bahwa akad nikah sah dengan selain bahasa Arab, meskipun dia bisa bahasa Arab.

Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah al-Kuwaitiyah:

Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang yang tidak bisa bahasa Arab boleh melakukan akad nikah dengan bahasa kesehariannya. Sebab dia tidak mampu berbahasa Arab sehingga tidak harus menggunakan bahasa arab.

Sebagaimana orang bisu. Kemudian disebutkan perselisihan ulama tentang akad nikah dengan selain bahasa Arab, yang kesimpulannya:

Akad nikah sah dengan bahasa apapun, meskipun orangnya bisa bahasa Arab. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Syafi’iyah – menurut keterangan yang lebih kuat –, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qudamah.

Dalam hal ini kedudukan bahasa non-Arab dengan bahasa Arab sama saja. Sebab orang yang menggunakan bahasa selain Arab, memiliki maksud yang sama dengan orang yang berbahasa Arab.

Akad nikah tidak sah dengan selain bahasa Arab. Meskipun dia tidak bisa bahasa Arab. Ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi’iyah. Mereka beralasan bahwa lafadz ijab kabul akad nikah statusnya sebagaimana takbir ketika salat yang hanya boleh diucapkan dengan bahasa Arab.

Akad nikah sah dalam pernikahan menggunakan selain bahasa Arab dengan syarat pelakunya tidak bisa bahasa Arab. Jika pelakunya bisa bahasa Arab maka harus menggunakan bahasa Arab. Ini adalah pendapat ketiga dalam madzhab syafii. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah: 11:174).

Apakah harus disebutkan nama pengantin wanita?

Di antara syarat sahnya nikah adalah adanya kejelasan masing-masing pengantin. Seperti menyebut nama pengantin wanita atau dengan isyarat tunjuk, jika pengantin ada di tempat akad. Misalnya, seorang wali pengantin wanita berkata kepada pengantin lelaki, “Aku nikahkan kamu dengan anak ini." Kemudian si wali menunjuk putrinya yang berada di sebelahnya. Hukum akad nikahnya sah.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Di antara syarat nikah adalah adanya kejelasan pengantin. Orang yang melakukan akad dan yang diakadkan harus jelas. Kemudian dilihat, jika pengantin wanita ada di tempat akad, kemudian wali mengatakan, ‘saya nikahkan Anda dengan anak ini’ maka akad nikahnya sah. Sebab isyarat sudah dianggap penjelasan. Jika ditambahi misalnya dengan mengatakan, ‘saya nikahkan kamu dengan anakku yang ini’ atau ‘…dengan anakku yang bernama fulanah’ maka ini sifatnya hanya menguatkan makna.

Jika pengantin wanita tidak ada di tempat akad maka ada dua keadaan: 

Wali hanya memiliki satu anak perempuan. Maka dia boleh mengatakan, “Saya nikahkan Anda dengan putriku.” Jika disebutkan namanya maka statusnya hanya menguatkan.

Wali nikah memiliki anak perempuan lebih dari satu. Wali ini tidak boleh menggunakan kalimat umum, misalnya mengatakan, “Saya nikahkan kamu dengan putriku.” Dalam keadaan ini akad nikahnya tidak sah, sampai si wali menyebutkan ciri khas salah satu putrinya yang hendak dia nikahkan, baik dengan menyebut nama atau sifatnya.

Misalnya dia mengatakan, “Saya nikahkan kamu dengan putriku yang pertama atau yang bernama…” (Al-Mughni, 7:444).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini