Share

Al-Azhar Akhirnya Melarang Kawin Kontrak

Intan Afika, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2019 15:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 09 614 2076621 al-azhar-akhirnya-melarang-kawin-kontrak-DpG7dqrJ1T.jpg Banyak anak muda kawin kontrak (Foto: Reuters)

Perkawinan adalah salah satu peristiwa yang sangat penting dan sakral dalam kehidupan anak manusia. Sebab perkawinan bukan hanya menyangkut kedua mempelai, tetapi juga orangtua kedua belah pihak, dan keluarga mereka masing-masing.

Dilansir dari The Arab Weekly beberapa waktu lalu, Lembaga Al-Azhar membuat keputusan kalau kawin kontrak merupakan salah satu bentuk perzinaan. Keputusan Al-Azhar tersebut menjadi perdebatan di masyarakat Mesir. Perkawinan merupakan salah satu isu sensitif di negara tersebut.

 nikah

(Foto: Pixabay)

Anggota Dewan Cendekiawan Senior di Al-Azhar, Mahmoud Mohanna mengatakan, versi rancangan undang-undang terbaru menyebutkan kawin kontrak untuk kesenangan dan kenikmatan itu merupakan salah satu bentuk perzinaan. Oleh karena itu perdebatan mengenai hukum kawin kontraktelah selesai. Parlemen Mesir harus menyetujui rancangan undang-undang tersebut.

Pandang Al-Azhar kali ini membalikkan pandangan cendekiawan yang 10 tahun lalu mengakui keberadaan kawin kontrak. Saat itu kawin kontrak tidak masalah asal diumumkan dan disaksikan oleh dua orang dewasa.

Dengan adanya stigma kawin kontrak merupakan perzinaan di masyarakat konservatif Mesir, berarti Al-Azhar bisa membuat hukum larangan kawin kontrak. Akibatnya para pelaku kawin kontrak bisa dijatuhi hukuman.

Para pakar hukum mengatakan, kawin kontrak tak bisa ditangani melalui hukum tanpa mempedulikan dimensi intelektual dan budaya. Berusaha memperbaiki masalah dengan cepat melalui fatwa agama bisa memperburuk masalah dan tidak membantu anak-anak muda yang kemungkinan memasuki hubungan rahasia, terlarang, dan tidak sah.

Para ahli menunjukkan, menangani masalah kawin kontrak dengan intimidasi malah berefek kontraproduktif. Sebab dapat menimbulkan perlawanan sosial.

Profesor Sosiologi di Helwan University, Souhir Latif mengatakan, berupaya menghapuskan praktek kawin kontrak tanpa melibatkan anggota keluarga tak akan mengatasi krisis. Mengecilkan isu kawin kontrak hanya pada dimensi agama tak akan mendapatkan perhatian dari generasi milenial yang cenderung hidup bebas, suka membuat keputusannya sendiri, dan tak peduli dengan tradisi dan norma masyarakat.

Namun, terang Latif, larangan kawin kontrak itu sejalan dengan pemikiran orangtua yang berpendapat kalau hukum agama itu sakral.

Latif menjelaskan, pasangan kawin kontrak menganggap diri mereka telah melakukan perbuatan yang buruk. Mereka mengatakan, masyarakat yang mendorong mereka untuk mencari hubungan rahasia dan mereka seharusnya tidak dituntut hukum atas hal itu.

Masyarakat termasuk para cendekiawan dan pakar agama konservatif yang melarang kontak antara pria dan wanita, lembaga pemerintah yang gagal mengendalikan inflasi ekonomi, membuat generasi milenial tak mampu memberikan persyaratan minimum pernikahan resmi.

Apalagi orangtua serta keluarga sering mengajukan tuntutan harta yang terlalu tinggi pada siapa pun yang ingin menikah putri mereka. Adat perkawinan ini memberatkan pria.  Ini membuat kawin kontrak jadi jalan keluar.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Mengapa banyak anak muda melakukan kawin kontrak?

Perkawinan rahasia sering kali terjadi akibat ikatan emosional yang kuat antara pasangan muda. Meskipun mereka sesungguhnya tidak siap secara finansial untuk melaksanakan pernikahan resmi. Ini sering terjadi di kalangan mahasiswa.

Banyak pasangan memilih kawin kontrak untuk memaksa keluarga mereka guna menyetujui keinginan mereka untuk hidup bersama. Ada juga beberapa istri yang kawin kontrak tetap melakukan itu guna mempertahankan hak asuh atas anak-anak mereka, atau mendapat tunjangan jaminan sosial.

Seorang jurnalis Mesir mengatakan, ia kawin kontrak karena karena keluarga istrinya menolak untuk menyetujui pernikahan mereka sebab dia tidak mampu membeli rumah di Kota Kairo. "Ketika kondisinya memungkinkan, kami akan mengumumkan perkawinan kami," katanya.

Dia bersikeras, ada perbedaan antara kawin kontrak demi kesenangan dan kawin kontrak demi cinta. Beberapa orang terpaksa melakukan kawin kontrak karena kekejaman orangtua mereka.

Orangtua di Mesir dan negara-negara Timur Tengah pada umumnya menuntut mahar yang sangat tinggi terhadap pria yang mau menikahi putri mereka. Ini tentu saja sangat memberatkan laki-laki, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang makin tak menentu.

 

Jurnalis yang tak mau disebutkan namanya itu menekankan, jenis kawin kontrak yang dilakukan karena cinta namun tak mendapat restu dari orangtua perempuan sebab mahar yang sangat tinggi tak bisa dimasukkan ke dalam label hubungan perzinaan. Ini terjadi karena tuntutan masyarakat memaksa situasi yang amat berat terhadap kaum muda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini