Kemudian mengumumkam rencana keberangkatan. Hal tersebut bertujuan supaya saudara, tetangga dan kerabat mengetahui, sehingga dapat membantu memperhatikan dan menjaga keluarga yang ditinggalkan.
"Selain pamitan dan makan - makan, di sini kita sekalian menitipkan keluarga yang ditinggal ke Tanah Suci, misal anak - anaknya." Lanjutnya.
Ibnu ‘Umar pernah mengatakan pada seseorang yang hendak bersafar , “Mendekatlah padaku, aku akan menitipkan engkau sebagaimana Rasulullah SAW menitipkan kami, lalu beliau berkata: “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”. (HR. Tirmidzi no. 3443).
Walimatus safar merupakan tradisi turun temurun yang sudah lama ada di Indonesia. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian Doa yang dipanjatkan agar memohon keselamatan dan keberkahan dalam melaksanakan Rukun islam yang terakhir itu.
"Jadi itu tradisi aja, orang - orang tua kita dulu buat acara itu niatnya baik, walaupun di zaman Nabi tidak ada, niatnya yang paling utama itu Berdoa" Pungkas Ustadz Ahmad Firdaus.
(Dinno Baskoro)