nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjalanan Atkinson, dari Keluarga Supremasi Kulit Putih hingga Jadi Imam Masjid

Muhammad Nazri, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 05:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 18 614 2080604 perjalanan-atkinson-dari-keluarga-supremasi-kulit-putih-hingga-jadi-imam-masjid-KMhmnSCjuA.jpg Atkinson jadi imam (Foto: About Islam)

Seorang pria kulit putih asal Amerika Serikat, Shane Atkinson dibesarkan di Jackson, Mississippi dalam sebuah keluarga yang menganut supremasi kulit putih. Selama ini penganut supremasi kulit putih sering dikenal melakukan diskriminasi terhadap Muslim maupun ras selain kulit putih.

 Kehidupan Atkinson

Namun, cintanya pada hip-hop Afrika 80-an telah membawanya menjadi seorang Muslim yang mengubah hidupnya selamanya seperti dilansir About Islam beberapa waktu lalu. Kita memang tak pernah tahu kapan hidayah Allah hadir ke dalam hati umat-Nya.

"Mereka bertanya, 'Apakah kamu Muslim?' Dan saya pikir itu adalah pertama kalinya saya benar-benar memikirkannya. Saya berkata, 'Ya, saya pikir saya seorang Muslim,'” ujar Atkinson mengenang ketika dia belum secara resmi masuk Islam.

Ketertarikannya yang mendalam pada agama dan gerakan hip-hop Afrika sangat kontras dengan cerita yang ia dengar saat tumbuh di antara komunitas rasis kulit putihnya.

“Orangtua saya mungkin membiarkan hinaan rasisme. Saya ingat saat masih kecil, saya mengulangi apa yang orang katakan, dan orang tua saya mengatakan kepada saya, 'Jangan katakan itu'. Mereka tidak memberi tahu saya bahwa itu salah untuk dikatakan. Mereka hanya mengatakan 'Jangan katakan kata-kata itu,' "kenang Imam Atkinson.

Setelah berpaling dari keyakinan orangtuanya, Atkinson mulai mengeksplorasi Islam sendirian. Dia membuat keputusan untuk masuk Islam setelah hampir sepuluh tahun melakukan eksplorasi secara pribadi.

Seiring berjalannya waktu, Atkinson mulai memahami bahwa ia harus mulai menghapuskan budaya rasis. Ia dibesarkan dengan keyakinan barunya yang anti-rasisme.

Pencarian itu membawanya untuk memulai sebuah grup Facebook yang disebut 'Society of Islamic Rednecks,' yang ia harapkan menjadi ruang bagi Muslim kulit putih Amerika Selatan.

Melalui Society of Islamic Rednecks, Atkinson berusaha untuk menghilangkan pengaruh supremasi kulit putih. Grup Facebook itu menjadi pusat bagi lebih dari seribu orang yang bertobat seperti dia yang tersebar di Amerika Selatan.

Gagasan tentang Islam yang anti-rasis menarik perhatian dan mendapat dukungan dari masjid-masjid yang secara historis banyak orang kulit hitam, banyak di antaranya telah melakukan proyek penciptaan kembali budaya beberapa dekade sebelumnya.

Masjid-masjid yang dipenuhi banyak orang keturunan Afrika memberi Atkinson ruang untuk menyelenggarakan lokakarya dan diskusi, baik untuk komunitas Muslim secara keseluruhan maupun untuk sekelompok kecil mualaf kulit putih.

Atkinson sekarang menjabat sebagai asisten Imam di dua masjid yakni di Pusat Islam Ar-Razzaq di Durham dan Pusat Islam As-Salaam di Raleigh.

Menurut penelitian pada tahun 2016 oleh Pew Research Center, sekitar 500.000 orang masuk Islam antara 2010-2015. Itu menjadi fakta bahwa Islam berkembang pesat di Amerika Barat.

Di Amerika Serikat saja, jumlah Muslim telah meningkat secara dramatis, dari sekitar 10.000 pada 1900 menjadi tiga juta atau lebih pada 1991, bahkan mencapai 4,5 juta.

Di Amerika, mayoritas mualaf Muslim adalah Afrika-Amerika, tetapi ada juga sejumlah besar Anglo-Amerika yang pindah agama, banyak dari mereka berpendidikan tinggi.

Di antaranya Ibrahim Douglas Hooper yang merupakan Muslim Amerika. Hooper adalah Direktur Komunikasi Nasional dan juru bicara Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR). Ia dilahirkan di Kanada dari keluarga keturunan Eropa dan bermigrasi ke AS setelah masuk Islam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini