nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pentingnya Ridha Ibu agar Pintu Surga Terbuka

Intan Afika, Jurnalis · Selasa 23 Juli 2019 12:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 23 614 2082453 pentingnya-ridha-ibu-agar-pintu-surga-terbuka-lBFlhn98sb.jpg Pintu surga terbuka dengan ridha ibu (Foto: Shutterstock)

Saat ini banyak orang ketika sudah menikah, ia jadi jarang sekali mendatangi rumah ibu kandungnya. Mungkin hanya seminggu sekali, sebulan sekali atau bahkan ketika ada perlunya saja.

 Anak harus berbakti pada ibu

Ada juga yang punya handphone selalu menghubungi anak buahnya atau menghubungi istrinya sehari mungkin bisa 5 sampai 6 kali. Namun menghubungi ibunya jarang sekali. Mungkin hanya sebulan sekali atau bahkan ketika ingat saja. Padahal seorang ibu membutuhkan perhatian dan kasih sayang anaknya.

Tahukah kamu bahwa ridha ibu adalah ridha Allah juga? Simak penjelasan Okezone mengenai hal ini, Selasa (23/7/2019).

Keridhaan orangtua adalah keridhaan Allah Ta’ala, begitu pun sebaliknya, ketika orangtua murka terhadap kita, maka Allah pun murka kepada kita.

Dari Abdullah bin ’Amru radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (Hadits riwayat Hakim, ath-Thabrani)

Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsy dalam sebuah video di Instagram mengatakan, jika pagi hari kita mendapatkan ridha dari orangtua maka dua pintu surga akan terbuka. Ia juga mengingatkan kepada umat Islam untuk selalu menghubungi orangtuanya walaupun sedang berada di tempat jauh.

"Kau berada (di tempat) jauh, telpon ibumu pagi dan sore. Supaya apa? Dapat ridhanya. Kata Nabi Muhammad, bangun pagi kau dapat ridha orangtuamu, dua pintu surga terbuka. Begitu juga di waktu petang. Jangan pernah malu, datangi rumah ibumu. Dan setiap hari datanglah. Karena engkau akan merindukan hal tersebut saat orangtuamu tidak ada," ucapnya.

"Saat orangtuamu ada, mungkin kau malas. Dua hari, tiga hari kau tidak kunjungi ibumu. Seminggu kau baru kesana. Nanti kalau orangtuamu tidak ada, yang paling kau rindukan apa? Pergi ke rumah orangtuamu. Mumpung orangtuamu masih ada. Datangi!" lanjutnya.

Suatu ketika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepada seseorang, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk ke dalam surga?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibnu Umar berkata, “Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau melembutkan kata-kata untuknya, memberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Bukhari)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata:

“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?” Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “kemudian siapa lagi?” Beliau shallallahhu 'alaihi wa sallam mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “kemudian siapa lagi?” Beliau shallallahhu 'alaihi wa sallam mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “kemudian siapa lagi?” Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, “Ayahmu.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut.

Kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 10 hal. 239)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini