Menyusul seruan Mufti besar Libya yang memboikot perjalanan ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, Muslim Australia juga menyerukan pemboikotan ibadah haji ke Tanah Suci karena mereka takut pemasukan dari para jemaah haji malah digunakan untuk biaya perang di Yaman.
Musim ibadah haji telah tiba, dan lebih dari dua juta muslim dari seluruh dunia diperkirakan akan turun ke kota-kota seperti Makkah dan Madinah.
Namun semakin banyak umat Muslim yang berpaling dari salah satu rukun islam, mengingat seruan pemboikotan haji, termasuk salah satunya adalah Australia.
Menurut pembuat film yang berbasis di Sydney, Faraaz Rahman, naik haji saat ini secara moral kurang tepat. Sebab saat ini Arab Saudi sedang beperang di Yaman.
Dikutip dari SBS News, Senin (29/7/2019), pria 31 tahun tersebut mengatakan, “Pergi haji akan berkontribusi secara finansial kepada rezim Saudi, yang saat ini melakukan kekejaman massal di Yaman terhadap sesama Muslim. Ini bukanlah apa yang dimaksud dengan ibadah haji.”
Bagi umat Islam yang mampu secara finasial dan memiliki kondisi fisik yang sehat, pergi haji setidaknya sekali seumur hidup dianggap sebagai kewajiban beragama oleh banyak orang.
Tetapi pada bulan April, Mufti besar yang paling terkenal di Libya, Sadiq al-Gharawani meminta umat Islam di seluruh dunia untuk memboikot haji karena pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Arab Saudi kepada warga Yaman yang makin kelaparan. Ia adalah salah satu pemimpin Muslim Sunni terkemuka yang menyerukan boikot ini.
Alasan fatwa Ghariani adalah uang yang dibayarkan ke Arab Saudi untuk pergi haji akan membantu penguasa Arab Saudi untuk melakukan kejahatan terhadap sesama Muslim. Hal ini ia ungkapkan dalam pidato yang disiarkan televisi di Ean Libya.
Seperti yang diketahui, Arab Saudi adalah kepala koalisi internasional yang memimpin perang di Yaman. Bersama Uni Emirat Arab, yang juga merupakan sekutu penting Jenderal Khalifa Haftar, mereka berencana akan memulai serangan pada awal bulan ini terhadap pemerintah Libya yang diakui PBB di Tripoli.
Tagar media sosial #BoycottHajj telah menjadi tren di Twitter di beberapa negara mayoritas Muslim.
“Sebelumnya mungkin ada kelompok pinggiran di sana-sini, tanpa daya tarik apa pun, tetapi kini para pemimpin terkemuka menyerukannya (boikot). Saya berharap hal itu membuat para pemimpin agamauntuk mengikuti dan melakukan seruan serupa," ujar Rahman.