Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ijazah Mars Syubbanul Wathan, Kenang-kenangan Berharga Gus Yaqut dari Mbah Moen

Novie Fauziah , Jurnalis-Selasa, 06 Agustus 2019 |19:12 WIB
Ijazah Mars Syubbanul Wathan, Kenang-kenangan Berharga Gus Yaqut dari Mbah Moen
Mbah Moen (Inst)
A
A
A

KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) wafat di Tanah Suci. Ini menyisakan kehilangan mendalam, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

 Mbah Moen

Salah satunya adalah Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas atau akrab disapa Gus Yaqut. Ia mengaku kehilangan mendengar kabar wafat Mbah Moen.

“GP Ansor kehilangan figur ulama yang memperjuangkan nilai-nilai Islam dan ke-Indonesiaan. Sosok pemersatu semua kalangan dan figur teladan bagi Ansor,’’ kata Gus Yaqut dalam rilis GP Ansor Pusat, Selasa (6/8/2019).

Dalam pandangan Gus Yaqut, Mbah Moen merupakan figur yang sangat spesial. Saat berkunjung ke pesantren Al Anwar Sarang Rembang, ia diberikan ijazah mars Syubbanul Wathan. Yaitu, sebuah lagu kebanggaan dan kebangsaan bagi warga NU.

“Saat kami sowan ke Pesantren Al Anwar Sarang Rembang, Kiai Maimoen mengijazahkan syair Syubbanul Wathan yang beliau dengar tiap hari saat mondok di Pesantren Tambak Beras, Jombang,” ujarnya.

Lagu ciptaan KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), kata Gus Yaqut, membuktikan pandangan Mbah Maimoen yang utuh tentang berbangsa Indonesia adalah martabat, mempertahankan NKRI adalah harga diri.

“Semoga teladan yang telah diberikan Mbah Maimoen tentang agama dan bangsa bisa menjadi bekal kita menghadapi tantangan bangsa ini,” ujarnya.

Kemudian Gus Yaqut menambahkan, Kyai Maimoen adalah seorang yang alim, faqih sekaligus muharrik atau penggerak.

“Kedalaman ilmu beliau tak perlu diragukan lagi, belajar dan banyak ulama baik di Indonesia maupun Arab Saudi menunjukkan beliau sosok yang selalu ingin mengisi ilmunya. Beliau juga penggerak bagi NU dan bangsa ini. Mari kita panjatkan Fatihah untuk beliau. Insya Allah husnul khotimah," tutupnya.

Dilansir dari situs NU Online, singkat cerita KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan atas bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya, menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itu Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air (Choirul Anam, 2010: 29).

Sebelum memulai kegiatan belajar dan mengajar, para murid diwajibkan menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab ciptaan Mbah Wahab yang berjudul Yaa Lal Wathan yang juga dikenal dengan Syubbanul Wathan artinya pemuda cinta tanah air. Hingga kini mars tersebut masih bergema di kalangan pesantren. Khususnya sebelum kegiatan acara NU dimulai.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement