nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Makna Kurban, Salah Satunya Mengajarkan Sifat Dermawan!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 09 Agustus 2019 19:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 09 614 2089953 makna-kurban-salah-satunya-mengajarkan-sifat-dermawan-ofXwD79pBJ.jpg Hewan kurban (Foto: Slavic Beauty)

Salat Idul Adha dan ibadah kurban pada hakikatnya merupakan syariat Islam yang menghubungkan umat Muhammad SAW dengan umat Nabi Ibrahim AS.

 Hewan kurban diberi makan

Ibadah kurban dan haji adalah dua rangkaian ibadah yang merupakan napak tilas perjuangan ketuhanan Nabi Ibrahim dalam melaksanakan dan mematuhi perintah Allah SWT.

Mengutip Dakwah Uswatun Hasanah oleh H. Agus Tri Sundani, Jumat (9/8/2019), kurban bukan hanya rangkaian seremonial, tetapi ibadah yang sarat dengan hikmah, nilai-nilai spiritual, sosial, dan kemanusiaan.

Hikmah tersebut dapat diraih dengan memahami secara mendalam, melakukan rekonstruksi historis dan interpretasi kontekstual perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Seperti diketahui, kurban berasal dari kata qarraba, yuqarribu, qurbanan yang berarti pendekatan diri. Menurut istilah, mendekatkan diri kepada Allah SWT sama dengan mengeluarkan sebagian nikmat yang dikaruniakan Allah kepada orang-orang yang membutuhkan, atau dapat juga mematuhi dengan segala daya seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya.

Kurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT sebagaimana firmannya dalam Alquran surat Al-Kautsar ayat 1-3: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membenci kamu dialah yang terputus."

Ayat ini menjelaskan adanya keterkaitan antara perintah salat dengan perintah kurban yang menunjukkan bahwa perintah kurban sangat ditekankan di dalam Islam. Ini merupakan suatu hal yang logis, karena menurut ajaran Islam misi hidup adalah pengabdian serta pendekatan diri pada Allah semata.

Sebagaimana firman-Nya:

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi kepada-Ku.” ( Qs AdzDzariat: 56).

Hidup yang bermakna di sisi Allah SWT adalah hidup yang tiduk pernah sunyi dari pengabdian dan pendekatan diri kepada-Nya. Di samping nilai spiritualnya, ibadah kurban memiliki nilai-nilai sosial kemanusiaan yang luhur. Di antara lain;

Pertama, kurban mengajarkan pada kita untuk bersikap dermawan, tidak tamak, rakus, serakah, dan kikir. Kurban mendidik kita untuk peduli dan mengasah sikap sosial. Sebab seseorang tidak pantas kenyang dan kaya sendirian sementara banyak tetangganya, masyarakat di sekitarnya, bahkan di negerinya yang sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan.

Kedua, secara simbolis kurban mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat tercela sebagaimana disampaikan di atas. Di antara sifat-sifat tercela yang harus kita kubur yaitu sikap mau menang sendiri, egois, berbuat sesuatu atas nama nafsu, dan lain-lain.

Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surat At-Tin, bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, akan tetapi jika tingkah lakunya tidak didasari iman dan amal shaleh, maka manusia akan jatuh martabatnya hingga menjadi lebih hina dari bidantang. (Lihat juga Qs. Al-A'raf: 179).

Ketiga, kurban mengingatkan kita agar selalu menjunjung tinggi nilai-nilai, harkat, dan martabat kemanusiaan. Digantinya Ismail AS dengan domba menyadarkan kita bahwa mengorbankan manusia di atas altar adalah perbuatan yang dilarang Allah. Ibadah yang kita laksanakan harus menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak manusia.

Bahkan, hewan kurban yang akan disembelih pun harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena itulah, perbuatan semena-mena, keji, kejam, dan munkar sangat dilarang oleh Islam.

Dalam pandangan Islam, membunuh sesama manusia tanpa dasar yang benar sama nilainya dengan membunuh seluruh umat manusia (Qs. Al-Maidah: 32).

"Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi."

Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa kehormatan dan harga diri seseorang tidak ditentukan oleh miliaran harga yang dimiliki, tidak pula gelar, pangkat, dan jabatan yang disandang.

Harkat dan martabat seseorang sangat ditentukan oleh pengabdian dan pengorbanan pada Allah SWT.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini