Share

Cara Mudah Meredam Amarah ala Rasulullah

Ade Charisma, Jurnalis · Selasa 27 Agustus 2019 00:23 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 27 616 2096976 cara-mudah-meredam-amarah-ala-rasulullah-Q2sJvDQfoN.JPG Ilustrasi anak marah-marah (Foto: Mazevietnam)

Rasulullah SAW merupakan teladan kehidupan. Tak hanya persoalan besar, masalah-masalah sepele pun tak luput dari perhatiannya, seperti soal marah. Nabi pun telah memberikan resep meredam amarah.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya memaknai emosi dengan marah saja. Begitu ada orang marah maka ia disebut sedang emosi, padahal emosi itu cakupannya sangat luas. Semua perasan yang menyebabkan perubahan fisik dapat dianggap sebagai emosi.

Marah hanya salah satu dari emosi dasar yang dialami oleh semua manusia, hanya cara marahnya bisa berbeda-beda pada individu. Ada yang meletup-letup, agresif, melotot, menyumpah serapah, menggerutu, bahkan ada yang hanya diam meskipun sejatinya ia sedang marah besar.

Buku Fenomena Kejiwaan Manusia dalam Perspektif Alquran dan Sains terbitan Kemenag menyebutkan ekspresi marah pada umumnya tergambar pada raut muka. Muka manusia diangggap sebagai cerminan totalitas dirinya. Marah adalah emosi yang paling dikenal oleh manusia, sehingga marah diidentikan dengan emosi, persis seperti sebutan lampu merah untuk lampu pengatur lalu lintas, meskipun di sana ada lampu kuning dan hijau.

Emosi marah, apalagi yang sering dan meledak-ledak, akan merusak sistem saraf dan metabolisme tubuh. Marah menyebabkan jantung seseorang berdegup kencang, aliran darahnya meningkat dan kadang-kadang kacau, serta berbagai sistem dalam tubuhnya menjad tidak stabil. Boleh jadi karena kondisi demikian Rasulullah menyarankan kepada seseorang yang meminta nasihat kepada beliau untuk tidak gampang marah dalam situasi apapun.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Meski demikian, manusia tentu pernah mengalami marah, hanya saja tiap orang berbeda-beda dalam mengantisipasi, mengendalikan diri, dan melakukan resolusi atau recovery setelah marah besar.

Ada orang yang bertipe eksplosif, di mana semua hal yang merintanginya mencapai harapannya akan dia hancurkan, bahkan sasaran lain terkait dengan rintangan itu. Gelas yang dipakai minum kopi saat tiba-tiba amarahnya bangkit pun ikut dibanting bersama cairan kopi di dalamnya. Ini salah satu bentuk pelampiasan amarah yang meletup, yang dikenal dengan istilah katarsis.

Islam melarang tindakan katarsis dengan cara eksplosif, apalagi sampai menyasar orang atau benda yang tidak ada kaitannya dengan sumber amarah. Rasulullah telah mengajarkan katarsis yang sangat halus; bila seseorang terbangkitkan emosi marahnya maka ia dianjurkan untuk mengubah posisinya.

Jika seseorang dalam keadaan berdiri terasa mau marah maka hendaklah ia mengubah posisinya dengan duduk, berbaring, atau pergi berjalan-jalan. Kemudian kalau seseorang marah besar hendaknya yang lain diam.

Kalau pun ada yang perlu dijelaskan maka hal itu bisa dilakukan sesudah amarahnya mereda. Ada baiknya setiap individu menyadari bahwa amarah bersumber dari setan yang membawa malapetaka dalam kehidupan fisik dan psikis, sehingga perlu dihindari atau diredakan segera. Beberapa hadis berikut menjelaskan hal tersebut.

Rasulullah berpesan kepada kami “jika seseorang di antara kamu marah dalam posisi berdiri makan hendaklah ia duduk. Jika dengan cara demikian amarahnya hilang, makan cukup lah. Namun, bila amarahnya belum mereda maka sebaiknya ia berbaring.” (Riwayat Ah-mad dan Abu Dawud).

Nabi bersabda, "Ajarilah manusia kebaikan; hendaklah engkau mempermudah dan tidak mempersulit orang lain. Bila seseorang di antara kamu dilanda emosi marah maka hendaklah ia diam menahan diri." (Riwayat Ahmad dari Ibnu 'Abbas).

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya emosi marah itu bersumber dari setan, dan setan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Karena itu, apabila seseorang di antara marah maka hendaklah ia segera berwudhu." (Riwayat Abū Dāwūd dari 'Ațiyyah as-Sa'diy).

Cara-cara seperti disebutkan dalam hadis-hadis di atas: mengubah posisi saat marah, berwudu, dan semacamnya, merupakan bentuk relaksasi saraf dan otot yang tegang saat bangkitnya emosi. Tiap individu tentu harus belajar untuk mengendalikan emosi marahnya agar tidak merusak sistem kerja tubuh yang menuntut kestabilan.

Menurut D. Goleman (1997: 88) pergi menyendiri merupakan salah satu relaksasi yang cukup efektif dilakukan saat adrenaline dalam tubuh melonjak. Tentu, menurut Hude, akan lebih afdal jika relaksasi itu dibarengi sikap sabar dan salat yang khidmat, pelan, dan khusyuk (sudah termasuk di dalamnya wudu, gerakan relaksasi tubuh yang berpindag dari satu gerakan ke gerakan lain, dan zikir melalui bacaan-bacaannya, juga zikir sesudah salat), (hude, 2006:291), sebagaimana diajarkan Alquran untuk dijadikan medium pertolongan dari Allah.

Allah berfirman,”Dan mohonlah pertolongan (kepada allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. ( Al-Baqarah/2:45)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini