nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Seks di Luar Nikah Sah di Mata Syariat Islam?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 30 Agustus 2019 18:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 30 614 2098707 seks-di-luar-nikah-sah-di-mata-syariat-islam-0X6KsZncaF.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Membaca judul artikel ini mungkin membuat Anda bertanya-tanya; dari mana bolehnya? Sudah jelas-jelas seks di luar nikah atau yang biasa disebut zina itu dosa besar yang dibenci Allah SWT.

Tapi, pemahaman itu mungkin bisa Anda dapatkan dari hasil disertasi mahasiswa program doktor UIN Sunan Kalijaga Jogja, Abdul Aziz. Dalam disertainya, dia mengajukan konsep 'Milk Al Yamin' yang digagas Muhammad Syahrur dalam ujian terbuka disertasi berjudul 'Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital'.

Secara sederhana, Abdul Aziz coba menyampaikan seks di luar pernikahan dalam batasan tertentu tidak melanggar syariat Islam. Bahkan, dalam abstrak disertasinya, dia menuliskan, hubungan seksual, baik marital atau nonmarital, merupakan hak asasi manusia yang berkaitan dengan seksualitas yang dilindungi negeri, hukum, dan pemerintah.

Dia melanjutnya, sayangnya dalam tradisi hukum Islam (fiqh), hanya hubungan seksual marital yang dipandang sebagai hubungan legal, sementar hubungan seksual nonmarital dipandang sebagai hubungan ilegal.

Pandangan ini tentu sangat tegas jika kita menggunakan kacamata Islam. Tapi, Abdul Aziz melakukan penelitian disertasi ini bukan dengan tanpa ilmu. Penelitian ini diketahui dikaji dengan pendekatan hermeneutika hukum. Bentuk penelitian ini adalah kepustakaan. Data penelitian dikumpulkan melalui kajian teks kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif-hermeneutik.

 Laki-laki dan perempuan

Dalam hasil penelitiannya, Aziz menemukan, ulama seperti Imam asy Syafii dan Imam at Tabari memahami konsep 'Milk Al Yamin' sebagai hubungan seksual nonmarital dengan budak perempuan melalui akad milik. Kemudian, di sisi lain Muhammad Syahrur yang lebih progresif menemukan ada 15 ayat Alquran tentang 'Milk Al Yamin' yang masih eksis hingga kini.

Fakta tersebut tertuang dalam abstrak disertasinya, di mana penelitian Abdul Aziz menemukan, munculnya gagasan Milk Al Yamin Muhammad Syahrur dilatarbelakangi pemahaman bahwa Milk Al Yamin adalah budak perempuan (ar-riq) oleh kalangan tradisional. Sementara realitasnya sistem perbudakan telah dihapus sejarah.

Namun, di sisi lain, Muhammad Syahrur dalam pendekatan hermeneutika hukum dari aspek filologi (fiqh al-lugah) dengan prinsip anti-sinonimitas istilah ketika melakukan interpretasi konsep 'Milk Al Yamin' tidak lagi berarti budak, melainkan partner hubungan seksual nonmartial.

Dalam disertasi Abdul Aziz juga diketahui ekstensitas keabsahan hubungan seksual nonmarital dalam konsep 'Milk Al Yamin' Muhammad Syahrur meliputi; nikah al-mut'ah, nikah al-muhalil, nikah al-urfi, nikah al-misyar, nikah al-misfar, nikah friend, al-musakanah (samen leven), dan atau akad ihsan.

Sedangkan, limitas makna hubungan seksual nonmarital menurut konsep 'Milk Al Yamin' Muhammad Syahrur adalah nikah al-maharim, nikah al-mutazawwijah, az-zina, as-sifah, al-akhdan, dan nikah manakaha al-aba.

Jadi, dapat dijelaskan dari konsep 'Milk Al Yamin' Muhammad Syahrur ini tidak lagi berarti keabsahan hubungan seksual dengan budak, tapi dalam konteks lebih modern, menjadi keabsahan memiliki partner seksual di luar nikah yang tidak bertujuan membangun keluarga atau memiliki keturunan.

Bahkan, Abdul Aziz menegaskan kalau pemahaman konsep ini bisa menjadi sebah teori baru yang dapat dijadikan sebagai justifikasi terhadap keabsahan hubungan seksual nonmarital. Dengan teori ini, hubungan seksual nonmarital adalah sah di mata Islam. Lebih dalam lagi, konsep ini menawarkan akses hubungan seksual yang lebih luas dibanding dengan konsep 'Milk Al Yamin' tradisionalis.

Konsep Milk Al Yamin dari sudut pandang emansipatoris

Abdul Aziz tidak menelan mentah-mentah konsep ini dan mengiyakan kalau seks di luar nikah memang sah di mata syariat. Sebab, dia pun memberi pandangan lain mengenai pemahaman konsep ini dilihat dari perspektif emansipatoris.

Di mana, dalam perspektif itu, ekstensitas akses seksual dalam konsep 'Milk Al Yamin' masih tampak timpang, karena hanya dapat dinikmati laki-laki, sementara bagi perempuan cenderung stagnan.

Selain itu, Abdul Aziz juga di awal mengatakan kalau ada beberapa batasan yang tidak kemudian membaskan begitu saja seks di luar nikah. Batasan itu adalah memiliki hubungan darah, pesta seks, mempertontonkan kegiatan hubungan badan di depan umum, dan homoseksua.

Sekali lagi, Abdul Aziz menekankan bahwa hubungan seksual nonmarital sejatinya merupakan hak asasi manusia dan seksualitas yang dilindungi agama, hukum, dan pemerintah. Di sisi lain, dalam tradisi fikih Islam, hubungan yang legal adalah hubungan seksual marital.

Bagi Abdul Aziz, paham seperti itu dapat memunculkan dampak mengerikan dalam dunia modern, yaitu maraknya kriminalitas hubungan nonmarital yang dilakukan secara konsensual.

Kritik promotor dan penguji sidang disertasi

Prof. Khoiruddin Nasution sebagai promotor menjelaskan, disertasi yang ditulis Abdul Aziz membahas kohsep 'Milk Al Yamin' dalam kehidupan kontemporer sekarang dengan beberapa perkawinan yang bertujuan memenuhi kebutuhan biologis, yaitu nikah al-mut'ah, nikah al-muhalil, nikah al-'irf, nikah al-misyar, nikah al-misfar, nikah friend, nikah al-musakanah (samen leven).

"Nikah-nikah sejenis ini sekarang umum dilakukan orang-orang Eropa, termasuk Rusia, dimana Syahrur hidup lama. Secara hermenutika konteks inilah barangkali yang menginspirasi Syahrur," terangnya dalam pernyataan resmi yang diterima Okezone, Jumat (30/8/2019).

Prof. Khoiruddin melanjutkan, jenis-jenis nikah ini telah ada dalam tradisi muslim dengan hukum kontraversial. Ada ulama yang membolehkan, dan ada muslim yang mengamalkan. Sebaliknya, ada ulama yang mengharamkan.

Lebih lanjut, dalam disertasi, Abdul Aziz mengkritik konsep Syahrur, dengan menyebut tampaknya ada bias-bias subjektivitas pencetusnya. Di antara bias dimaksud barangkali adalah Syahrur ingin mengubah hukum zina yang disusun berdasarkan sentimen pribadi (politik), bukan atas pembuktian.

Sebab pensyaratan pembuktian zina yang demikian ketat, menurut Syahrur, ingin menunjukan agar janganlah mudah menghukum orang berzina.

"Sayangnya, dalam abstrak, Abdul Aziz tidak menulis kritik tersebut. Malah menyebut konsep Syahrur ini sebagai teori baru dan dapat dijadīkan justifikasi keabsahan hubungan seksi nonmarital. Kalimat terakhir ini juga yang menjadi bagian dari keberatan tim penguji promosi. Selanjutnya tim meminta Abdul Aziz menyempurnakan abstrak untuk disesuaikan dengan isi disertasi," paparnya.

Sementara itu, sebagai penguji, Dr Agus Najib punya beberapa poin penting sebagai kritiknya. Hal pertama yang dia sampaikan ialah penyebutan istilah 'Milk Al Yamin' dalam Al-Quran tidak hanya berakitan dengan 'budak perempuan' yang dimiliki laki-laki (ma malakat aimanuhum), tetapi juga 'budak laki-laki' yang dimiliki perempuan (ma malakat aimanuhunna).

Syahrur hanya terfokus pada 'Budak perempuan' yang dimaknai secara kontemporer, sehingga pembahasan yang dilakukan tidak komprehensif dan secara konseptual masih dipertanyakan, apalagi kemudian akan diterapkan dalam masyarakat.

Lalu, poin lain yang menjadi kritikan Agus ialah hubungan nonmarital ini berbeda dengan akad nikah, disebut oleh Syahrur dengan istilah aqd ihson 'akad komitmen'. Kalau pun dianggap sebagai sebuah akad, seharusnya Syahrur mengemukakan syarat dan rukunnya. Syahrur belum menjelaskan syarat rukun akad tersebut secara jelas.

Kemudian, pandangan Syahrur berangkat dari kebiasaan dan tradisi ('urf) masyarakat Barat-sekuler saat ini yang mentolerir adanya samen leven (musakanah, kumpul kebo). Karena perebdaan 'urf, kebiasaan dan tradisi semacam itu tidak bisa diterima masyarakat Muslim.

"Dengan alasan itu, pandangan Syahrur tersebut di samping secara teoritis masih diperdebatkan, juga secara praksis tidak sesuai dengan 'urf masyarakat muslim," tegas Agus.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini