Sebagaimana penjelasan imam al-Maqshidi dari madzhab Hanafi:
وَلَهُ دُخُوْلُ بِيْعَةٍ وَكَنِيْسَةٍ وَنَحْوِهِمَا وَالصَّلَاةُ فِي ذَلِكَ وَعَنْهُ يُكْرَهُ اِنْ كَانَ ثَمَّةً صُوْرَةٌ
“Diperbolehkan bagi orang Islam untuk memasuki Biah (tempat ibadah agama Yahudi) dan gereja (tempat ibadah agama Nasrani) atau sesamanya. Bahkan boleh salat di dalamnya, namun makruh apabila di tempat tersebut terdapat gambar yang diharamkan.”[1]
Begitu pula menurut mayoritas ulama madzhab Syafi’i pun memperbolehkan. Namun sebagian ulama mengajukan beberapa syarat, sebagaimana penjelasan Muhammad bin Sulaiman al-Madani dalam kitab Mawahib al-Madaniyyah:
وَشَرْطُ الْحِلِّ أَيْضًا أَنْ لَا تَحْصُلَ مَفْسَدَةٌ مِنْ تَكْثِيْرِ سَوَادِهِمْ وَاِظْهَارِ شِعَارِهِمْ وَاِيْهَامِ صِحَّةِ عِبَادَتِهِمْ وَتَعْظِيْمِ مُتَّعَبَّدَاتِهِمْ