Seorang muslimah mengaku dipaksa pulang oleh seorang akademisi dari Oxford University yang mendukung kebijakan larangan penggunaan burka di Inggris.

Melansir laman Metro, Selasa (1/10/2019), kejadian tersebut berlangsung pada 18 September lalu di Yorkshire, Inggris. Seorang muslimah, Aisha Ali Khan mengatakan, ia menjadi korban rasisme saat menghadiri makan malam yang diselenggarakan oleh salah seorang temannya.
Kala itu, Aisha duduk di sebuah meja dengan orang-orang yang berasal dari bidang pendidikan. Selama makan malam berlangsung, mereka membicarakan berbagai topik termasuk politik.
Aisha menjelaskan, Dr Peet Moris menyuruhnya pulang jika dia tetap mendukung penggunaan hijab atau burka bagi muslimah.
Ia menambahkan, istri Dr Morris yakni, Dr Harriet Dunbar-Morris juga hadir pada jamuan makan malam tersebut dan mencoba untuk menenangkan keadaan. Namun berakhir gagal.
“Sebagai seorang perempuan yang lahir dengan warna kulit yang berbeda, saya merasa dikucilkan dan merasa menjadi korban rasisme. Semakin aku berbincang dengan tamu-tamu lainnya, aku semakin tertekan,” kata Aisha.
Perempuan yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris dan sejarah itu menjelaskan, meskipun dia tidak mengenakan hijab atau burka, dia merasa itu adalah hak seorang perempuan untuk mengenakan busana yang dia inginkan.
Aisha juga sempat membagikan pengalaman tidak menyenangkan ini di akun Twitter pribadinya. Namun hingga saat ini belum mendapat tanggapan langsung dari pihak Oxford University.
Melihat kasus ini semakin viral di media sosial, seorang juru bicara Oxford akhirnya mengeluarkan sebuah pernyataan resmi di akun media sosial mereka.
“Kami diingatkan oleh berbagai pihak, atas kasus yang terjadi di sebuah acara pribadi yang tidak ada kaitannya dengan universitas. Dr Peet Moris bukanlah mahasiswa ataupun akademisi dari universitas kami. Dia hanya menjalani kontrak biasa untuk memberikan pelatihan komputer,” tulis pernyatan itu.
“Dalam kebijakan kami, Oxford University selalu berkomitmen untuk mendorong budaya inklusif yang mempromosikan kesetaraan, nilai-nilai keanekaragaman, dan memelihara lingkungan di mana hak dan martabat semua orang di hormati,” tambahnya.
Untuk menutup tuduhan ini, Oxford University juga menegaskan bahwa mereka selalu merangkul keberagaman di antara para mahasiswa maupun orang-orang yang berkaitan langsung dengan universitas. Mereka juga selalu mempromosikan kesadaran akan kesataran dan mendorong prakti-praktik yang positif.
“Semua anggota komunitas universitas diharapakan untuk bertindak sesuai dengan kebijakan ini dan memahami nilai-nilainya,” tutup pernyatan tersebut.
(Dyah Ratna Meta Novia)