SIAPA yang tak mengenal Ali bin Abi Thalib, ia adalah salah satu sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Ali juga termasuk salah satu tokoh yang sangat besar pengaruhnya dalam kekhalifahan Islam.
Dikutip dari buku “Mulut yang Terkunci, 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi” karya Siti Nurlaela, suatu ketika, salah seorang anak Ali bin Abi Thalib sakit. Berbagai usaha disertai doa ia lakukan demi kesembuhan anaknya. Kemudian menantu Nabi Muhammad itu pun bernazar, apabila anaknya sembuh, ia akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.
Setelah berjalannya waktu, akhirnya Allah mengabulkan doanya, yaitu kesehatan anak Ali pulih kembali. Ali dan istrinya, Fathimah Az-Zahra, pun melaksanakan nazar tersebut.
Menjelang senja, mereka bersiap untuk buka puasa. Di meja telah terhidang beberapa potong roti kering dan air putih. Saat itu kehidupan dan perekonomian keluarga Ali sedang sulit, hanya itulah makanan yang mereka miliki saat itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan seseorang mengucap salam. Ali bergegas membuka pintu dan tampak tamu yang tak diundang, seseorang berpakaian lusuh. Dengan wajah yang memelas orang itu berkata, "Aku orang miskin. Seharian ini aku belum makan. Perutku sangat lapar. Tolonglah aku, berilah aku sedikit makanan".
Ali terdiam sejenak, kemudian ia mengambil roti bagiannya dan menyerahkannya kepada orang itu. Ternyata Fathimah juga melakukan hal yang sama. Hari itu mereka berbuka hanya dengan air putih.
Hari kedua Ali dan Fathimah berpuasa, ketika mereka hendak berbuka, datanglah seorang anak. Tubuhnya tampak lemah dan wajahnya pucat. "Apa yang terjadi denganmu, Nak?" tanya menantu Nabi Muhammad itu.
Kemudian anak itu menjawab, "Aku anak yatim. Ayahku sudah lama meninggal. Beberapa hari ini, ibuku pergi bekerja. Selama itu perutku kosong. Tak ada makanan yang bisa kumakan".
Melihat keadaan anak itu Ali sangat sedih, tanpa banyak pikir, Ali memberi roti bagiannya kepada anak yatim itu. Apa yang dilakukan Ali lagi-lagi ditiru oleh Fathimah. la menyerahkan roti bagiannya kepada si anak yatim.
Lalu di hari berikutnya, kejadian yang sama pun berulang lagi. Menjelang berbuka datanglah seseorang mengetuk pintu, dan itu adalah seorang tawanan perang. "Aku orang muslim yang baru dibebaskan oleh orang kafir," katanya kepada Ali. "Aku kelaparan sampai tubuhku terasa sangat lemah. Aku mohon berilah aku makanan".
Ali dan Fathimah saling berpandangan. Sejak mereka berpuasa nazar, tak sebutir kurma atau sepotong roti pun masuk ke dalam perut mereka. Selama itu mereka berbuka hanya dengan minum air putih.
Sungguh mulia hati pasangan suami istri ini. Ali dan Fathimah ternyata memberikan roti lagi, makanan berbuka mereka kepada si tawanan perang tersebut. Mereka rela menahan lapar selama berhari-hari demi menolong orang lain. Mereka lakukan itu dengan mengharap ridha Allah semata.
Menurut Ibnu Abbas, Allah berkenan menurunkan ayat Al-Qur'an atas kedermawanan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra tersebut. Dalam QS. Al-Insan ayat 7-10,
Allah berfirman:
"Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan (sambil berkata). Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan."
Dari kisah Ali dan Fathimah, dapat kita ambil hikmah bahwa beramal infak dan sedekah amatlah penting. Sesedikit apa pun akan sangat berarti bagi kaum miskin.
(Abu Sahma Pane)