MEMPERINGATI hari ulang tahun cukup sering dilakukan masyarakat Indonesia, biasanya dengan cara menggelar pesta, memberikan kue hingga tiup lilin sebagai simbol rasa syukur.
Namun sebenarnya, Islam tidak pernah mengajarkan perayaan hari ulang tahun seperti di atas. Peringatan kelahiran Rasululullah SAW dalam tajuk Maulid misalnya, biasanya dilakukan dengan cara berdoa bersama, membaca barjanzi, salawat, dan lainnya.
Wakil Ketua Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadist Indonesia Ustadz Fauzan Amin, mengatakan bahwa sebenarnya merayakan ulang tahun diperbolehkan asal tidak bertentangan dengan agama. Misalnya, Nabi Muhammad merayakan ulang tahunnya dengan cara puasa setiap Senin.
"Merayakan ulang tahun boleh-boleh saja dengan catatan tidak melanggar hukum agama," katanya saat dihubungi Okezone, Selasa (5/11/2019).

Ilustrasi. Foto: Istimewa
Sementara itu ketika merayakan ulang tahun pasti segala doa terbaik dipanjatkan. Adapun doa yang bisa Anda baca ketika memperingati hari kelahiran tersebut, di dalamnya memohon dipanjangkan umur, diberi kesehatan, dan lainnya. Contoh doanya yaitu:
اَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالۤاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya:
"Ya Allah, panjangkan umur kami, sehatkan badan kami, terangi hati kami, tetapkan iman kami, baikkan amalan kami, luaskan rezeki kami, dekatkan kami pada kebaikan, dan jauhkan kami dari kejahatan, kabulkan segala kebutuhan kami, baik dalam agama, dunia, maupun akhirat. Sesungguhnya Kau adalah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Sementara dilansir dari NU Online, kaum Ahlussunnah Wal Jamaah menyikapi tradisi perayaan ulang tahun secara proposional. Artinya bahwa selama perbuatan itu terdapat unsur-unsur kebaikan di dalamnya., dalam artian hukumnya mubah (boleh).
Contohnya adalah menyampaikan tahni'ah atau ucapan selamat kepada sesama Muslim untuk mempererat kerukunan antar saudara dan lainnya. Apakah ada dalilnya? Tentu saja iya. Yaitu disebut dalil qiyas, artinya mengqiyaskan masalah ini dengan perilaku Sahabat Nabi.
Seperti dalam riwayat Imam Bukhari, bahwa ketika Sahabat Ka'bah bin Malik menerima suatu kabar gembira dari Nabi Muhammad SAW, yakni tentang diterimanya taubatnya. Maka Sahabat Thalhah bib Ubaidillah menyampaikan kepadanya ucapan selamat (tahni'ah).
(Abu Sahma Pane)