nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lahir dari Ketidaksukaan, Intoleransi Akar Radikalisme

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 13 November 2019 19:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 13 614 2129505 lahir-dari-ketidaksukaan-intoleransi-akar-radikalisme-UoyIySQowq.jpg Radikalisme harus dihapuskan (Foto: Asia Philantrohpy)

Peneliti senior di Wahid Foundation Alamsyah M. Djafar mengatakan, biasanya paham intoleransi itu lahir dari rasa ketidaksukaan terhadap sesuatu atau orang lain akibatnya mereka menolak hak-hak dasar yang dijamin oleh konstitusi. Lalu kalau dari intoleransi, dia mendukung kekerasan maka sudah lahirlah radikalisme.

"Ciri-ciri kelompok yang memiliki paham intoleransi adalah tidak mau menghargai hak-hak dasar bahkan menentang kelompok yang tidak disukainya. Biasanya intoleransi itu terjadi kalau mereka merasa dirinya terancam, itu salah satu indikatornya," ujar mantan Program manager Wahid Foundation itu, Rabu (13/11/2019).

 Alamsyah

Orang-orang dengan paham intoleransi saat terancam suatu kelompok biasanya merespons dengan melakukan ujaran kebencian di media sosial. Namun sejatinya intoleransi itu bisa muncul bukan hanya karena adanya perbedaan, tetapi lebih kepada adanya politisasi kebencian.

Ada situasi dimana ada praktek politisasi kebencian terhadap kelompok tertentu. “Yang sebetulnya menjadi masalah adalah adanya praktek politisasi, ada kelompok atau pihak yang menggunakan isu isu ketidaksukaan terhadap kelompok yang lain, bisa macam-macam seperti LGBT, bisa Kristen bisa Yahudi dan sebagainya sehingga berkembang intoleransi di masyarakat," ujar Alamsyah.

Jadi kalau mau mengurangi intoleransi seharusnya adalah mengurangi politisasi kebencian ini yang mana di dalamnya ada aktor-aktornya tetapi juga dari tren populisme. Politisasi ini biasanya juga dipengaruhi oleh faktor populisme ini karena untuk mendorong orang mau memilih atau setuju dengan gagasan kita, tentunya perlu argumen untuk tidak memilih mereka atau lawan kita.

Argumen atau cara yang paling masuk akal dan mudah adalah dengan mengembangkan politik kebencian terhadap kelompok tertentu itu sehingga dengan begitu mereka memiliki pendukung.

Misalnya contoh di pemilu, ada pihak yang mengatakan, 'Kalau kamu pilih A maka akan jadi radikal. Lalu kalau kamu pilih B maka Indonesia itu akan dikuasai Cina.’

"Itulah salah satu faktor intoleransi itu muncul akibat politisasi kebencian dan biasanya berkaitan dengan politik,” kata Alamsyah menjelaskan.

Ia berpendapat, penting untuk mengurangi kebencian di masyarakat sehingga tidak ada lagi intoleransi atau membenci orang yang dianggap berbeda. Hal ini erat berkaitan dengan media, utamanya media sosial.

“Jadi ketika media sosial banyak menginformasikan berita-berita berisi kebencian, berisi hoaks, berisi intoleransi, maka hal itu dapat mempengaruhi atau berpotensial mempengaruhi orang untuk membenci kelompok lain berdasarkan informasi yang ada di media sosial itu. Artinya kalau kita mau mengurangi maka kita harus, bisa membatasi informasinya, terutama yang mengandung kebencian dan kekerasan karena itu melanggar hukum,” ungkapnya.

Alumni pasca sarjana dari Univeritas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga meminta bangsa ini memperkuat persatuan dan berpikiran lebih terbuka ketika menyikapi adanya perbedaan.

Masyarakat, lanjutnya, harus diberikan informasi yang lebih beragam sehingga mereka tidak hanya menerima informasi dari satu pihak saja, tapi bisa dari pihak lain seperti yang dilakukan oleh Pusat Media Damai (PMD) BNPT dalam upaya menciptakan suasana perdamaian di masyarakat.

“Saya melihat teman-teman di PMD BNPT ini sangat gencar membanjiri media sosial dengan informasi yang lebih benar dan beragam, sehingga bisa membuat suasana menjadi lebih damai. Itu cara di mana agar masyarakat mendapat informasi yang mendamaikan. Jadi bukan hanya terpapar yang kiri saja, tetapi ada yang tengah dan ada yang kanan," tutur Alamsyah.

Lalu di dalam keberagamaan seperti Islam, Kristen dan sebagainya menurutnya, diperlukan upaya bersama untuk mendorong masyarakat terhadap pandangan keagamaan yang terbuka.

Ia mencontohkan soal fatwa MUI Jatim tentang tidak boleh mengucapkan salam terhadap semua agama. Di mana caranya adalah kita bisa menghormati pandangan MUI Jatim ini tapi juga ada pandangan lain yang berbeda.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini