Argumen atau cara yang paling masuk akal dan mudah adalah dengan mengembangkan politik kebencian terhadap kelompok tertentu itu sehingga dengan begitu mereka memiliki pendukung.
Misalnya contoh di pemilu, ada pihak yang mengatakan, 'Kalau kamu pilih A maka akan jadi radikal. Lalu kalau kamu pilih B maka Indonesia itu akan dikuasai Cina.’
"Itulah salah satu faktor intoleransi itu muncul akibat politisasi kebencian dan biasanya berkaitan dengan politik,” kata Alamsyah menjelaskan.
Ia berpendapat, penting untuk mengurangi kebencian di masyarakat sehingga tidak ada lagi intoleransi atau membenci orang yang dianggap berbeda. Hal ini erat berkaitan dengan media, utamanya media sosial.
“Jadi ketika media sosial banyak menginformasikan berita-berita berisi kebencian, berisi hoaks, berisi intoleransi, maka hal itu dapat mempengaruhi atau berpotensial mempengaruhi orang untuk membenci kelompok lain berdasarkan informasi yang ada di media sosial itu. Artinya kalau kita mau mengurangi maka kita harus, bisa membatasi informasinya, terutama yang mengandung kebencian dan kekerasan karena itu melanggar hukum,” ungkapnya.
Alumni pasca sarjana dari Univeritas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga meminta bangsa ini memperkuat persatuan dan berpikiran lebih terbuka ketika menyikapi adanya perbedaan.