Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Mualaf, Berawal dari Agama Animisme, Jadi Pendakwah hingga Raih Muhammadiyah Award 2019

Novie Fauziah , Jurnalis-Rabu, 20 November 2019 |14:45 WIB
Kisah Mualaf, Berawal dari Agama Animisme, Jadi Pendakwah hingga Raih Muhammadiyah Award 2019
Abdul Qodir (Foto: Suara Muhammadiyah)
A
A
A

Kupang merupakan wilayah Indonesia Timur yang memiliki pemandangan indah meskipun gersang. Di kawasan gersang dan terpencil di sepanjang lereng perbukitan Amanuban Timur, Timor Tengah Selatan itu, Desa Tliu berada. Di tempat itulah perjalanan seorang mualaf hingga berdakwah seorang pria hebat, Abdul Qodir Lenamah dimulai.

Pada mulanya Qodir merupakan pemeluk agama animisme. Namun hidayah Islam masuk ke dalam hidupnya dengan penuh berkah hingga menjadi seorang mualaf dan kini menjadi pendidik dan pendakwah Muhammadiyah. Mari simak kisahnya!

 Naik kuda untuk berdakwah

Selama ini Qodir memegang teguh slogan kairunnas anfa’uhum linnas. “Yakni sebagai warga Muhammadiyah, kita harus terus memberi manfaat. Insya Allah warga di sekitar akan menerima kehadiran kita. Saya melihat kondisi kita sebagai daerah 3T, yaitu terluar, tertinggal, dan terlantar. Oleh karena itu, kita harus kerja keras, cerdas, tuntas, ikhlas,” katanya beberapa waktu lalu.

Secara keseluruhan, hanya ada 9 persen umat Islam di NTT. Oleh karena itu, Qodir terbiasa hidup dengan penuh toleransi antar umat beragama. Sebab sejatinya Allah menciptakan manusia berbeda-beda agama, suku, dan ras untuk saling mengenal.

Sedari kecil Qodir terbiasa hidup penuh perjuangan. Ia dibentuk oleh kondisi alam dan realitas sosial budaya masyarakatnya.

“Mama meninggal ketika saya masih SD. Pada awalnya kami beragama animisme. Namun suatu ketika, seorang Raja Timor masuk Islam. Saya bersama 16 anak kemudian disekolahkan oleh Raja Gunawan Isu ke Pondok Pesantren yang ada di Pulau Jawa. Saya saat itu juga mendapat bapak angkat KH Idham Cholid di Ponpes Darul Qur’an Cisarua Bogor, Jawa Barat,” katanya bercerita kisah hidupnya.

Islam masuk ke pelosok Timor Tengah Selatan pada 1967 setelah Raja Suku Dawam, Raja Usif Gabriel Isu atau Fetor Noebunu, memeluk Islam atas ajakan saudagar Bugis. Setelah mualaf, nama Gabriel Isu diganti menjadi Gunawan Isu.

Ketika Sang Raja masuk Islam maka mayoritas rakyatnya mengikuti jejak Sang Raja ikut memeluk Islam. Di sana Islam merupakan agama yang dijuluki akama boeb metan (agama peci hitam).

Sejak masuk Islam, Raja Gunawan Isu mendirikan madrasah dan masjid. Bahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya umat Islam, Raja Gunawan Isu mengirim 17 kader inti ke Pulau Jawa. Mereka dikirim ke Pulau Jawa untuk belajar ilmu Islam dan ilmu pengetahuan untuk menyebarkan pengetahuan ke warga lokal di daerahnya.

Kader yang dikirim tersebut antara lain Qodir, M. Tamrin Manu, Ahyar B. Liunokas, Moh. Salim Tabun, Kasim Taneo, Umar Asmau, Kasmad Takela, Abdullah Selan, Fakhruddin Tasip, Usman Sole, Mardan Sole, Moh Ali Yuda, Ali Tatang Sone, Hasan Sakan, Sutarman Nenosaet, Sabri Un, dan Alimin Leonutu.

Tiba di Pulau Jawa, Qodir pada mulanya bersekolah PGA di Jawa Barat. Lalu masuk Aliyah di Jakarta dan tamat tahun 1982. Setelah lulus, ia kembali ke kampung halaman dan mengajar di sebuah MI di Takari.

Sampai suatu ketika, Qodir dipanggil oleh Ketua PWM NTT, Zainuddin Akhid, ditawarkan untuk kembali belajar ke Pondok Pesantren Hajjah Nuriyah Shobron sembari berkuliah di Jurusan Ilmu Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Setelah tamat pada 1986/1987, Qodir meminta SK Lembaga Dakwah Khusus untuk kembali berdakwah ke kampung halaman dan daerah-daerah terpencil.

“Sebelum pulang, saya sempat bersilaturahim kepada Pak Idham Cholid yang menjadi Ketua Umum PBNU ketika itu dan Pak AR Fachruddin yang menjadi Ketua PP Muhammadiyah. Keduanya memberi pesan supaya saya berdakwah dengan membawa bendera Islam, dan mengesampingkan identitas sempit organisasi," terangnya.

Hingga saat ini, sudah lebih dari 30 tahun Qodir berdakwah tidak mengenal lelah untuk memajukan warganya. Ia terbiasa menempuh perjalanan kaki dan berkuda demi panggilan mulia.

Alhamdulillah, fisiknya selalu prima. Ketika masih berkuliah di UMS, Qodir pernah meraih juara 2 lomba lari marathon 45 km.

Sekitar 20 kilometer jaraknya dari kampung Qodir, terdapat dua keluarga Muslim yang anaknya sama sekali tidak memperoleh pendidikan agama Islam, bersekolah di sekolah non muslim. “Sejak saat itu, saya berkeinginan membuatkan panti asuhan yang menampung mereka yang letaknya jauh untuk belajar di sini,” ujarnya.

Tahun 2011, Abdul Qodir bersama beberapa kolega mendirikan Panti Asuhan Muhammadiyah. Panti asuhan ini mengajak anak-anak berkumpul, bermain, dan mengaji di sore hari. Saat ini, lembaga yang diberi nama Panti Asuhan Abu Bakar Ash Shidiq ini menampung 20 anak miskin, yatim piatu, dan umumnya rumah mereka jauh dari masjid dan sekolah.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement