Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Mualaf, Berawal dari Agama Animisme, Jadi Pendakwah hingga Raih Muhammadiyah Award 2019

Novie Fauziah , Jurnalis-Rabu, 20 November 2019 |14:45 WIB
Kisah Mualaf, Berawal dari Agama Animisme, Jadi Pendakwah hingga Raih Muhammadiyah Award 2019
Abdul Qodir (Foto: Suara Muhammadiyah)
A
A
A

Setelah panti asuhan berdiri, Qodir berkeinginan membangun masjid dan sekolah. “Mulanya, saya mengumpulkan seluruh keluarga dari Islam, Kristen, Katolik. Saya bersama keluarga besar suku Lenamah memusyawarahkan lahan tidur ini supaya menjadi lahan hidup produktif.”

Jika untuk pertanian saja, tidak akan maksimal, karena kondisi geografisnya yang kering kerontang. Keluarga setuju mewakafkan 7 hektar tanah pengunungan ini untuk mendirikan lembaga pendidikan formal dan nonformal.

Qodir yang menjabat Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah di daerahnya itu beruntung mendapat dukungan dari keluarga. Rahmawati Lanu, sosok istri yang dinikahi pada 1990 selalu mendukung perjuangannya. Istrinya juga merupakan seorang mualaf. Saat ini, mereka telah dikaruniai 4 anak, tiga di antaranya sedang menempuh pendidikan di Pulau Jawa.

Sehari-hari di rumah, Qodir menampung anak-anak lulusan Panti Asuhan. Tahun ini menampung 5 anak, sebelumnya sampai 10 anak. Alasannya, supaya anak-anak itu tetap bisa bersekolah di SMP yang jaraknya lebih dekat dengan rumahnya.

Kerja keras Qodir perlahan membuahkan hasil. Pada 2016, SD Muhammadiyah Mnelabesa yang mereka inisiasi mulai berdiri. Hanya ada tujuh siswa, tiga ruang belajar, dan sebuah masjid berukuran 25×25 meter, pada mulanya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama rombongan datang untuk meresmikan SD Muhammadiyah tersebut pada 6 November 2017. Perlahan, sekolah ini mendapat sambutan positif masyarakat yang terus didekati oleh Qodir. Para siswa terus bertambah menjadi 17, dan sekarang sudah 34 siswa.

Setahun kemudian, konsorsium Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang terdiri dari UM Surakarta, UM Yogyakarta, UM Kupang, dan Uhamka, melakukan peletakan batu pertama pengembangan gedung SD Muhammadiyah Mnelabesa. Peletakan batu pertama dilakukan bersamaan dengan penyerahan izin operasional SD dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) setempat.

Izin operasional ini sempat menjadi rintangan. Lebih dari sepuluh kali, Abdul Qodir dan tim harus bolak-balik ke Dinas PPO, memenuhi semua kelengkapan administrasi. Terutama karena jumlah guru dan jumlah siswa yang dinilai tidak layak untuk diberikan izin.

Padahal, SD Inpres terdekat berjarak lebih dari 10 kilometer yang harus dilewati dengan berjalan kaki di medan terjal. Sembari itu, Qodir membangun branding dan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah ini.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement