“Hasil pemetaan ini pun tidak bisa begitu saja menjadi dasar generalisasi bahwa 22 persen mahasiswa kita yang mengisi kuesioner telah terpapar paham radikal. Sebab tujuannya ingin mengetahui secara dasar pemahaman keagamaan dan pemaknaan aspek teologis dan aspek politik mereka terkait konsep kepemimpinan dan kenegaraan. Jadi ibarat peta, kita tahu dimana kota Jember tapi tidak tahu apa saja isi kota Jember itu,” tuturnya.
Akhmad Munir menjelaskan, setelah pemetaan itu dilakukan, banyak agenda kampus terkait deradikalisasi yang dilakukan berdasarkan pada hasil mapping tadi. Misalnya saja hasil pemetaan dijadikan bahan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) merekonstruksi kurikulum berbasis moderatisme Islam.
Dulu tidak ada teologi kebangsaan tapi sekarang dimasukkan tema tersebut. Dulu tidak ada HAM dan demokrasi dalam Islam tapi sekarang sudah ada tema ini dalam rencana pembelajaran semester.
(Dyah Ratna Meta Novia)