Di samping kegiatannya itu, Soedirman juga terus giat mengikuti anggota Kelompok Pemuda Muhammadiyah. Soedirman dikenal sebagai negosiator dan mediator yang lugas, berupaya untuk memecahkan masalah antar para anggota.
Tidak hanya itu, Soedirman juga gemar menyebarkan dakwah di masjid setempat. Sebagian besar waktu luangnya, ia habiskan dengan melakukan perjalanan dan berdakwah kepada masyarakat.
Pada tahun 1937, Soedirman terpilih sebagai Ketua Kelompok Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Banyumas. Selama menjabat, ia memfasilitasi seluruh kegiatan dan pendidikan para anggotanya, baik dalam bidang agama ataupun lainnya. Kemudian, Soedirman mengikuti seluruh kegiatan Kelompok Pemuda di Jawa Tengah.
Soedirman bermaksud untuk memberikan penekanan pada kesadaran diri. Hal ini juga dilakukan istrinya, Alfiah juga aktif dalam kegiatan kelompok putri Muhammadiyah, yaitu Nasyiatul Aisyiyah.
Pada tahun-tahun selanjutnya, Soedirman mulai giat untuk berjuang demi meraih kemerdekaan. Bergabung dengan kelompok Pembela tanah Air (PETA), Soedirman menjadi giat dan aktif dalam dunia militer. Hingga pada akhirnya, pada tahun 1949, Soedirman membuat taktik yang sampai sekarang menjadi sejarah terbesar Indonesia.