Sejarah Cadar di Padang Sahara

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 27 Januari 2020 15:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 27 614 2158949 sejarah-cadar-di-padang-sahara-Gz9CHOfCeo.jpg Perempuan bercadar (Foto: Behance)

Saat ini banyak muslim yang mengenakan cadar sebagai bagian dari cara berbusana mereka sehari-hari. Namun tak banyak yang mengetahui bagaimana sejarah cadar itu sendiri.

Guna mengetahui sejarah cadar, kita perlu menengok sejarah Dinasti Abbasiyah pada masa lampau. Selama lima abad berkuasa, Dinasti Abbasiyah mengalami keruntuhan pada 1258. Di antara faktor mendasar runtuhnya dinasti yang berhasil menjadikan Islam sebagai pusat pengetahuan dunia ini adalah munculnya dinasti-dinasti kecil.

 Memakai cadar

Perkembangan dinasti-dinasti kecil itu juga awalnya sebagai konsep pengembangan wilayah berbasis otonomi. Di antara dinasti kecil yang berdiri ialah Dinasti Murabithun pada abad ke-11.

Seperti dilansir NU Online, Philip K. Hitti dalam History of The Arabs (2014) menjelaskan, Dinasti Murabithun pada awalnya merupakan sebuah paguyuban militer keagamaan yang didirikan oleh seorang muslim yang saleh di sebuah ribath sejenis padepokan masjid yang dibentengi di sebuah pulau di Senegal, Afrika Barat.

Anggota-anggota pertamanya terutama berasal dari Lamtunah, sempalan dari suku Sanhaji yang orang-orangnya hidup sebagai pengembara di Padang Sahara. Salah satu keturunan mereka ialah Suku Thawariq (Tuareg) yang memiliki kebiasaan mengenakan cadar.

Ibnu al-Khathib dalam Hulal yang dikutip Philip K. Hitti menyebut cadar merupakan adat. “Adat mereka yang aneh ini memunculkan nama lain, Mulatstsamun (para pemakai cadar) yang kadang-kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabithun,” tulis Philip K. Hitti (2014: 689).

Yusuf ibnu Tasyfin (memerintah pada 1061-1106) yang juga salah seorang pendiri Kekaisaran Murabithun pada 1062 membangun Kota Maroko, yang menjadi ibu kota pemerintahannya yang juga diteruskan oleh keturunannya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Adapun di dataran Spanyol (Andalusia), mereka lebih memilih Kota Seville daripada Kordoba sebagai ibu kota kedua. Para raja Murabithun mempertahankan otoritas penguasa dan menyandang gelar amirul muslimin.

Dalam sejumlah literatur tidak dijelaskan tradisi bercadar di masa Dinasti Murabithun hanya dikenakan oleh kaum perempuan saja. Hidup sebagai pengembara di Padang Sahara membuat kaum Murabithun, baik yang laki-laki maupun perempuan mengenakan cadar sehingga disebut kaum Mulatstsamun.

Menjelang pertengahan abad ke-12 Dinasti Murabithun mulai retak. Di Spanyol Mulk al-Thawaif menolak kekuasaannya. Di Maroko sebuah gerakan keagamaan (muwahidun) mulai mengingkari kekuasaannya.

Pada tahun 1147 penguasa terakhir Dinasti Murabithun di Marakesy terbunuh dan mulailah Muwahidun bergerak ke Spanyol. Soal penggunaan cadar di masa pra-Islam, Abdul Halim Abu Syuqqah dalam An-Niqab fi Syariat al-Islam (2008) menjelaskan bahwa cadar merupakan bagian dari salah satu jenis pakaian yang digunakan oleh sebagian perempuan di masa Jahiliyyah.

Kemudian cadar tetap dipakai hingga masa Islam. Namun Nabi Muhammad SAW tidak mempermasalahkan model pakaian tersebut, tetapi tidak sampai mewajibkan, mengimbau ataupun menyunahkan niqab kepada perempuan.

Andaikan niqab dipersepsikan sebagai pakaian yang dapat menjaga marwah perempuan dan washilah untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka -sebagaimana klaim sejumlah pihak- niscaya Nabi Muhammad SAW akan mewajibkannya kepada istri-istrinya yang di mana mereka (istri-istri Nabi) adalah keluarga yang paling berhak untuk dijaga oleh Nabi. Namun justru Nabi tidak melalukannya.

Juga tidak berlaku bagi sahabat-sahabat perempuan Nabi. Hal ini merupakan bukti bahwa niqab -meskipun terus ada hingga di masa Islam- hanyalah sebatas jenis pakaian yang dikenal dan dipakai oleh sebagian perempuan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya