Share

Sejarah Lahirnya Madrasah sebagai Pusat Kajian Islam

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 31 Januari 2020 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 30 614 2160797 sejarah-lahirnya-madrasah-sebagai-pusat-kajian-islam-JGnjLfgrUT.jpg Madrasah sebagi tempat belajar (Foto: Ilmkidunya)

Pusat kajian belajar umat Islam sejak zaman Rasulullah SAW hingga sekarang selalu berpusat di masjid. Kala itu belum ada madrasah, jadi semua berpusat di masjid.

Madrasah baru diperkenalkan di paruh kedua abad ke-empat Hijriah tepatnya semenjak berdirinya sebuah pusat pendidikan yang disebut dengan 'madrasah' di Kota Naisabur pada masa kepemimpinan Raja Mahmud al-Ghaznawi. Kala itu Raja Mahmud al-Ghaznawi membangun empat madrasah sekaligus dalam tempo waktu yang berdekatan yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Sa’idiyyah, Madrasah Abu Sa’id al-Ushturlab, dan Madrasah Abu Ishaq al-Isfirani.

 siswa madrasah

Pembangunan Madrasah awalnya adalah sebuah langkah yang dicanangkan Raja Mahmud al-Ghaznawi untuk menyebarkan ajaran Syiah. Ini dilakukan untuk menyaingi ajaran Sunni yang saat itu menjadi ajaran resmi Dinasti Abbasiyyah di Baghdad.

Namun uniknya, di masa setelahnya tepatnya di abad ke-lima Hijriah Perdana Menteri Nidzom al-Mulk malah memakai madrasah-madrasah peninggalan Raja Mahmud al-Ghaznawi sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Sunni.

Di abad ke-lima Hijriah, jauh di negeri Mesir sana Sultan Salahuddin al-Ayyubi juga sedang berkerja keras menyebarkan ajaran Sunni dengan mendirikan madrasah-madrasah yang beraliran Sunni.

Gerakan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penyebar ajaran Sunni adalah sebuah gerakan besar. Di mana sebelumnya diDinasti Fatimiyyah, tercatat hanya Gubernur adz-Dzofir di Kota Alexandria yang secara terang-terangan berani membangun madrasah dengan haluan ajaran Sunni pada tahun 546 Hijriah.

Seperti dilansir website Pondok Pesantren Lirboyo, kala itu, Sultan Salahuddin al-Ayyubi juga tokoh besar yang membangun Madrasah Al-Fadhiliyyah di Kairo dengan pengajaran Mahzab Maliki dan Syafi’i dalam ilmu fikih di madrasah yang sama pada tahun 580 Hijriah. Gagasan Salahuddin al-Ayyubi ini rupanya terinspirasi dengan gerakan pembangunan Madrasah Al-Asadiyyah di Kota Damaskus yang dua belas tahun sebelumnya telah menerapkan pengajaran dua mahzab fikih dalam satu tempat yang sama.

Lalu Sultan Najmuddin as-Shalih melanjutkan estafet gagasan keberagaman bermahzab dengan sangat apik di periode selanjutnya yaitu di tahun 639 Hijriah. Di mana, ia membangun Madrasah Ash-Sholihiyyah di bekas Istana Kesultanan Fatimiyyah di Kairo dengan pengajaran empat mahzab di tempat yang sama.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ia membangun empat tempat di dalam masjid yang bentuknya mirip dengan mihrab yang sering disebut dengan Iwan dan setiap Iwan tersebut digunakan untuk mengajarkan empat madzhab fikih yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Walhasil, sejarah telah mengajarkan kita betapa pentingnya sebuah eksistensi madrasah sebagai ujung tombak eksistensi sebuah ajaran akidah. Di mana dahulunya, para ulama dan pemerintahan khususnya para ulama dari etnis Kurdi di Syuriah dan Mesir di abad ke-empat dan ke-lima yang berhaluan sunni atau yang kini kita kenal dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah sukses menyebarkan ajaran akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan berkat sistem pengajaran yang bagus dalam madrasah-madrasah yang mereka buat.

Sejarah juga mencatat ulama dan pemerintah beraliran Sunni dahulu juga menjadikan madrasah sebagai jenjang pendidikan yang mengajarkan keberagaman berpendapat dan bermadzhab. Hal ini dibuktikan dengan pengajaran beragam mahzab fikih dalam satu madrasah yang sama.

Hingga saat ini banyak bertebaran madrasah-madrasah di Tanah Air yang mengajarkan ilmu agama Islam. Madrasah masih bertahan sampai era modern untuk mengajarkan dan menyebarkan Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini