Mengenal Hari Kasih Sayang Versi Rasulullah SAW

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 15 Februari 2020 17:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 15 614 2168916 mengenal-hari-kasih-sayang-versi-rasulullah-saw-cAg0RwrEpx.jpg Kasih Sayang Rasulullah SAW (Foto: Masjid E Bilal)

Rasulullah SAW merupakan manusia paling berakhlak mulia. Kelahiran beliau merupakan rahmat bagi semesta alam. Beliau selalu mengajarkan cinta kasih kepada umatnya, baik cinta kasih kepada sesama manusia, maupun terhadap binatang.

"Hari ini bukanlah hari pembantaian, tapi hari kasih sayang dan kalian semua dimaafkan (dimerdekakan) untuk kembali kepada keluarga masing-masing," sabda Rasulullah SAW saat berpidato usai menaklukkan Kota Makkah atau peristiwa yang dikenal dengan 'Fathu Makkah'.

 Makkah

Rasulullah menekankan kata 'yaumul marhamah' yang artinya hari penuh kasih sayang, bukan 'yaumul malhamah', hari pembantaian. Lalu apakah Islam mengenal hari kasih sayang?

Islam sendiri bermakna 'Salaam' yang artinya kedamaian atau keselamatan yang hanya dapat diwujudkan dengan sikap saling mengasihi serta saling menyayangi. Ajaran-ajaran Islam, penuh dengan kelembutan, kasih sayang terhadap sesama. Tapi juga mengajarkan sikap yang tegas bahkan keras terhadap perilaku kufur dan kezaliman.

Kenapa Rasulullah harus menaklukkan Kota Makkah kala itu? Sebab perilaku manusia dan penguasa di kota itu terus-menerus berupaya merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan. Rasulullah sendiri terusir dari Makkah karena berupaya menegakkan kebenaran.

Seperti dilansir Jatman, menurut catatan sejarah, peristiwa penaklukkan Kota Makkah terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah.

Setelah Makkah berhasil ditundukkan, Rasulullah kemudian membangun kekuatan Islam yang membungkam arogansi kekuasaan kaum Quraisy yang berpusat di sana.

Tak terbayangkan oleh mereka, Muhammad yang dulu sangat mereka benci dan bahkan mereka anggap gila, kini kembali ke kota mereka sebagai seorang pemimpin besar.

Muhammad sanggup merebut Kota Suci itu dengan kemenangan yang gemilang. Bahkan Alquran mengabadikan momen itu dengan sebutan ‘fathan mubina’ yang artinya kemenangan yang nyata (QS. Al-Fath, ayat 1).

Setelah menaklukkan Kota Makkah, bukankah Rasulullah sebenarnya bisa membalas dendam? Terutama terhadap orang-orang yang memprovokasi kaum Quraisy agar membenci dan mengusirnya dari tanah kelahirannya.

Tapi beliau tidak melakukannya. Rasulullah lebih memilih memaafkan mereka, mengasihi, dan menyayangi mereka.

Fathu Makkah menjadi momentum merayakan sebuah kemenangan besar. Bukan dengan aksi balas dendam, tapi dengan perayaan kasih sayang yang begitu luar biasa.

Ketika itu, ribuan tawanan diberikan pengampunan secara massal. Masyarakat Makkah dijamin keselamatannya. Harta benda serta rampasan perang pun dibagikan.

Inilah sebuah peristiwa di mana Islam menunjukkan nilai-nilai keluhuran akhlak serta nilai-nilai kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Melalui catatan sejarah ini diharapkan generasi milenial mengenal peristiwa ‘Fathu Makkah’ sebagai momentum perayaan kasih sayang terhadap umat manusia versi Rasulullah.

Sebab sejatinya Rasulullah selalu mengajarkan cinta kasih kepada kita semua. Sebagai muslim sudah sepatutnya kita mencontohnya dengan memberikan kasih sayang kepada anak-anak yatim dan fakir miskin dengan memperbanyak sedekah.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini