Virus Korona COVID-19 telah mengakibatkan 2.004 orang di China meninggal dunia, 2 orang di Hong Kong, serta Prancis, Jepang, Filipina dan Taiwan masing-masing 1 orang sejak kasus pertama muncul di Wuhan pada pertengahan Desember 2019.
COVID-19 praktis sudah menjamah puluhan negara di lima benua dengan jumlah orang terinfeksi 74.185 di China dan lebih dari 700 kasus di luar negeri. Dampaknya, nyaris semua sendi kehidupan terpengaruh. Mulai dari perdagangan, pariwisata hingga aktivitas ibadah.
Contoh nyata, sebuah gereja di Manila, Filipina sepi dari jemaat akibat wabah virus Korona COVID-19. Beberapa jemaat yang hadir ke gereja juga diimbau untuk menahan diri supaya tidak melakukan kontak fisik, dengan cara berjabat tangan, atau memegang orang lain selama mereka beribadah.
Dilansir dari Latimes.com, Rabu (19/02/2020) di beberapa negara virus Korona COVID-19 membuat masyarakat takut untuk datang langsung ke tempat ibadah. Hal ini membuat sejumlah tempat beribadah seperti gereja, masjid dan kuil-kuil menjadi sepi dari jemaah.
Di Wuhan sendiri tempat beribadah sudah ditutup sejak 29 Januari. Sejumlah masjid telah membatalkan kegiatan salat Jumat, guna menghindari penyebaran dari virus.
Di Jepang di mana kuil Buddha dan kuil Shinto adalah kuil yang sangat ramai akan jemaahnya, namun kini setelah muncul penyebaran virus Korona COVID-19, kuil-kuil tersebut terlihat sangat sepi dari pengunjung dan jemaah.
Tak kalah berbeda, kuil Suzumushi atau yang biasa disebut kuil Jangkrik, juga sangat sepi dikunjungi oleh para jemaah serta pengunjung. Justru di sana terdapat sebuah papan yang dipasang langsung oleh WHO, yang bertuliskan: "Karena dampak COVID-19, maka kegiatan beribadah ditunda sementara."
"Akibat adanya penyebaran virus Korona, kali ini jemaah yang hadir beribadah sangat sepi, hanya beberapa orang saja, karena mereka takut akan terinfeksi virus tersebut," ungkap Siegfred Arellano, pendeta di gereja Binondo Chinatown, Filipina.
Namun, setelah melakukan konsutasi di Konferensi Wali gereja Katolik Filipina, mereka mengumumkan dan mengambil langkah agar jemaat yang hadir disarankan untuk tidak bersentuhan atau melakukan kontak fisik dengan jemaah lain.
Di Hong Kong, para pendeta menyetujui untuk para jemaat agar melakukan ibadah di hari Minggu secara online, dan para jemaat yang memilih untuk pergi ke gereja, disarankan untuk memakai masker dan tidak melantunkan nyanyian yang panjang, karena virus Korona bisa saja menyebar melalui pernapasan.
Gereja Protestan yang berada di Seoul, Korea, telah ditutup dan para jemaat beralih beribadah via online. Hal itu dilakukan setelah salah satu jemaah dinyatakan positif terkena virus.
Gereja Protestan lain yang berada di Korea juga telah melakukan pencegahan akan virus ini, seperti menyemprotkan ruang beribadah dan kamar-kamar lainnya dengan cairan disenfektan, kemudian mereka telah melakukan penundaan pada program sekolah Alkitab untuk para anak-anak.
Mereka pun menyarankan bagi para jemaat yang ingin hadir ke gereja untuk beribadah agar memakai masker. Gereja juga melarang mereka yang memiliki gejala virus Korona COVID-19 seperti flu dan demam, untuk datang.
Sejumlah masjid yang berada di Malaysia juga ditutup untuk sementara, guna menghindari penyebaran virus Korona, dan akan dibuka kembali setelah Perdana Menteri Mahathir Mohammad mengumumkannya.
Di Indonesia sendiri belum terdapat pengumuman imbauan mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk mencegah penyebaran virus Korona COVID-19. Sampai saat ini juga belum ada seseorang yang benar-benar dinyatakan positif terinfeksi, bahkan orang asing yang berada di bawah pengamatan pemerintah Indonesia pun dinyatakan negatif untuk virus tersebut.
Menteri Kesehatan Indonesia Terawan Agus Putranto mengatakan, kekebalan yang kuat dan gaya hidup yang sehat serta doa adalah senjata terbaik untuk melawan wabah tersebut, kunci kita saat ini adalah berdoa, dan jangan meremehkan dari kekuatan doa.
(Muhammad Saifullah )