Mau Ibadah dengan Ikhlas? Begini Caranya

Novie Fauziah, Jurnalis · Minggu 01 Maret 2020 04:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 28 614 2175647 mau-ibadah-dengan-ikhlas-begini-caranya-xBGPJttIa7.jpg Ibadah harus ikhlas (Foto: CAIR)

Setiap muslim harus memiliki sifat ikhlas dalam menjalankan ibadah. Ia harus beribadah hanya demi meraih berkah Allah SWT saja, bukan karena ingin mendapatkan pujian manusia.

Dalam Kitab Tazkiyatun Nufus, ikhlas adalah melaksanakan ibadah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Masih di dalam kitab yang sama, ikhlas juga diungkapkan lupa kepada semua makhluk (ketika melakukan amal), dengan sebab sibuk memikirkan Sang Maha Pencipta.

 berdoa

Sejatinya ikhlas adalah syarat diterimanya amal saleh, yang sesuai dengan sunah Rasulullah SAW. Telah diperintahkan pula oleh Allah SWT dalam Alquran,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Banyak pula hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan perihal ikhlas, bahkan seorang hamba tidak akan merdeka dari godaan setan kecuali dengan ikhlas, karena sudah disebutkan dalam Alquran,

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Kecuali hamba-hambamu yang ikhlas.”(QS. Shad:83), ketika setan berkata bahwa dia akan menyesatkan seluruh hamba-hamba Allah.

Dengan demikian, selain menjadi syarat akan diterimanya sebuah amal, ikhlas memiliki peranan penting untuk menjauhkan manusia dari musuh nomor satunya itu.

Maka, yang perlu kita ketahui saat ini adalah bagaimana caranya agar kita bisa ikhlas, bagaimana kita belajar untuk ikhlas?

Obat ikhlas dalam kitab Tazkiyatun Nufus, bisa diperoleh dengan menghancurkan nafsu terlebih dahulu.

Caranya adalah berhenti untuk tidak tamak pada dunia. Selain itu juga harus selalu berpikir untuk akhirat.

Banyak manusia yang bekerja keras untuk amal yang salih, dan menyangka bahwa dia sudah ikhlas, ternyata dalam melaksanakan amalnya dengan tanpa sadar terbuai dengan hal-hal lain, karena yang dipandang adalah ‘pandangan manusia’, bukan ‘pandangan Allah SWT’.

Sedikit kisah dari sebagian ulama, bahwa pernah ada seseorang yang melaksanakan salat dalam waktu yang cukup lama di shaf pertama. Suatu hari, ia mengakhirkan salatnya dan menempati shaf yang kedua.

Kemudian ia malu karena melaksanakan salat di shaf kedua itu, karena ia merasa terbiasa dilihat jamaah yang lain salat di shaf awal. Perasaan seperti ini bisa dikategorikan tidak ikhlas, walaupun sangat samar dan tanpa kita sadari.

Seperti dilansir dari website Pondok Pesantren Lirboyo, orang-orang yang lupa pada dirinya sendiri, dalam artian ia selalu merasa ikhlas, namun tanpa sadar dalam melakukan amal masih memprioritaskan penilaian orang, di akhirat kelak kebaikan itu justru menjadi keburukan.

Orang-orang seperti ini sudah disebut dalam Alquran,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا . ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Oleh karena itu hendaknya umat Islam terus berupaya beribadah dengan ikhlas. Dan semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai hamba yang ikhlas, dan dijauhkan dari tipu daya setan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini