nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meneladani Rumah Tangga Gus Baha dan Istrinya

Minggu 15 Maret 2020 14:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 03 12 614 2182362 meneladani-rumah-tangga-gus-baha-dan-istrinya-9oidxNonXi.jpg Nasihat Gus Baha (Foto: Inst)

Gus Bahauddin Nursalim yang akrab disapa Gus Baha merupakan kiai yang saleh. Meski memiliki ilmu yang tinggi namun ia memilih gaya hidup sederhana.

Istri Gus Baha merupakan anggota keluarga Pesantren Sidogiri yang ternama. Namun saat pernikahannya, Gus Baha malah memilih untuk naik bus ekonomi dari Kragan, Rembang, Jateng menuju rumah mertuanya di Sidogiri.

 menikah

Setelah mempersunting istrinya yang berasal dari Sidogiri tersebut, Gus Baha memilih hidup di Yogyakarta. Ia dan istrinya mengontrak rumah di sana.

Di sana, bukan berarti Gus Baha hidup enak dan serba mewah. Gus Baha hidup pas-pasan. Bahkan, tak jarang telat bayar kontrakan karena tidak punya uang.

Namun perlu diketahui Gus Baha itu bukan kiai kacangan. Ia merupakan kiai besar yang keilmuannya diakui oleh ulama-ulama Indonesia, bahkan oleh Syaikhona Maimoen Zubair yang akrab disapa Mbah Moen.

Seperti dilansir dari website Laduni.id, Gus Baha juga Ketua Tim Lajnah Mushaf UII, yang anggotanya terdiri dari profesor dan doktor. Padahal, Gus Baha tidak memiliki gelar satupun.

Namun Gus Baha sangat sederhana. Ia naik bus ke sana ke mari, bahkan saat ke Madura ia tidak mau dijemput dengan mobil. Bahkan ia memilih naik ojek saja.

Meski hidup sederhana rupanya istri Gus Baha tetap saja bahagia. Sebab suaminya Gus Baha, pria yang baik, saleh, dan penuh humor.

Gus Baha tak pernah marah pada istrinya, mengerti akan istri, mengayomi keluarga dengan baik, menjadi penyejuk bagi keluarganya, perbuatan dan ucapannya semuanya dengan ilmu, tidak asal-asalan. Itulah yang harus dijadikan teladan, kehidupan rumah tangga ala Gus Baha dan istrinya.

Istrinya yang tak banyak mengeluh. Selalu tersenyum dalam setiap kesempatan.

Hidup itu bagaikan daun yang hanyut di sungai. Daun itu adalah kita, dan sungai adalah takdir.

Semakin banyak harap dan angan, hidup semakin sumpek, takut kehilangan, takut tak kesampaian, takut keduluan orang, takut ini, takut itu. Hidup itu ikuti aliran takdir saja sambil terus berdoa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini