Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4 Penyebab Gelapnya Hati, Pertama Perut yang Terlalu Kenyang

4 Penyebab Gelapnya Hati, Pertama Perut yang Terlalu Kenyang
Hati (Foto: Neathelim)
A
A
A

DARI An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”

Hati adalah salah satu organ penting manusia yang merupakan pusat kehidupan. Bagaimana tidak, hati bisa menentukan baik buruknya manusia, sehingga hati sangat menentukan kualitas kehidupan seorang Muslim.

Jika hati baik maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya.

Rusak atau gelapnya hati adalah karena terjerumus ke dalam maksiat, keharaman, dan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya).

Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad menjelaskan bahwa terdapat empat penyebab gelapnya hati manusia. Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah berkata:

أَرْبَعَةٌ مِنْ ظُلْمَةِ الْقَلْبِ بَطْنٌ شَبْعَانٌ مِنْ غَيْرِ مُبَالَاةٍ وَ صُحْبَةُ الظَّالِمِيْنَ وَ نِسْيَانُ الذُّنُوْبِ الْمَاضِيَةِ وَ طُوْلُ الْأَمَلِ

“Empat yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu: perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang-orag dzalim, melupakan dosa yang pernah dilakukan, dan panjang angan-angan.”

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin” menerangkan bahwa perut yang terlalu kenyang mengakibatkan penyakit fisik dan penyakit batin. Dikatakan bahwa orang yang terbiasa dalam kondisi kenyang akan merasa cukup, perlahan-lahan melupakan Tuhan yang memberi rezeki, dan berpotensi membuat orang bermalas-malas untuk beribadah. Dari situlah hati mulai gelap, ia mengira bahwa makanan tersebut merupakan hasil keringatnay sendiri.

Berteman dengan orang-orang zalim dan melupakan dosa yang pernah dilakukan adalah sikap seseorang yang tidak lagi memiliki perasaan penyesalan setelah melakukan perbuatan dosa.

Dan ini salah satu indikasi dari matinya hati seseorang. Seharusnya ia berhijrah dari kesalahan yang ia lakukan, kemudian memilih untuk bergabung dengan teman yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar.

Selanjutnya adalah panjang angan-angan. Tumpukan harapan keduniaan yang diharuskan menjadi kenyataan tersebut berpotensi membentuk hati yang gelap.

Jiwa yang terlena oleh angan-angan yang panjang menyebabkan seseorang bermalas-malasan dalam ketaatan. Dan itulah indikasi dari hati yang tidak menemukan kesedihan atas ketaatan yang terlewatkan.

Demikian disampaikan mahasantri dari Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang, sebagaimana dikutip dari laman resmi Tebuireng pada Sabtu (18/4/2020).

(Abu Sahma Pane)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement