Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penuh Suka Cita, Begini Tradisi Mesir Menyambut Rukyatul Hilal Ramadhan

Abu Sahma Pane , Jurnalis-Kamis, 23 April 2020 |09:41 WIB
Penuh Suka Cita, Begini Tradisi Mesir Menyambut Rukyatul Hilal Ramadhan
Ilustrasi. Foto: dok.Okezone
A
A
A

Lain negara lain pula tradisinya dalam menyambut bulan puasa. Contohnya di Indonesia, sebelum digelar sholat Tarawih, Muslim akan ziarah ke makam kerabat, sementara ulama dan umara memantau hilal Ramadhan untuk kemudian menggelar sidang isbat.

Tradisi ini berbeda dengan di Mesir, mereka punya kebiasaan sendiri dalam proses pemantauan hingga perayaan hilal Ramadhan. Rukyatul hilal alias menyaksikan penampakan bulan muda yang menandai awal bulan dalam kalender Islam atau hijriah, diikuti dengan penuh cita di sana..

Di Mesir, malam penampakan bulan disebut dengan malam Roaya, kemungkinan berasal dari kata ru’yat, menandai malam terakhir bulan Sya’ban dan awal Ramadhan, di mana umat Muslim melakukan puasa besok harinya.

Mesir merupakan salah satu negara yang punya tradisi merayakan penampakan bulan di hari pertama Ramadhan. Dikutip dari laman JATMAN yang melansir dailynewssegypt, tradisi ini sudah ada sejak kekhalifahan Fathimiyyah.

Konon, awalnya seorang wazir militer Fathimiyyah di bawah kekhalifahan al-Muntasir bernama Badr al-Jamali membangun masjid di kaki Gunung Mokattam, sebelah tenggara Kairo. Masjid selesai dibangun sekitar 1085 Masehi.

Menara Masjid Jamie al-Juyushi atau masjid tentara itu, sekaligus dijadikannya semacam observatorium untuk melihat bulan sabit.

Perayaan bulan pertama Ramadhan dilakukan dengan cara khalifah dan para menterinya berkeliling kota menunggang kuda melewati jalan-jalan yang penuh dengan dekorasi, pertokoan, dari mulai Gamaliya ke Bab al-Futuh (Conquest Gate), kemudian ke Bab el-Nasr (Gerbang Kemenangan) lalu ke Gamaliya lagi.

Gerbang-gerbang itu merupakan bagian dari benteng yang dulu dibangun oleh Wazir Badr al-Jamali.

Bab al-Futuh, Kairo:

Selama berkeliling, rombongan membagikan berbagai macam hadiah dan sedekah untuk keluarga miskin. Setelah itu, Khalifah menulis surat kepada para gubernur untuk mengumumkan datangnya bulan suci.

Di era kekhalifahan Mamluk, perayaan dilakukan dengan berangkatnya lima hakim untuk melihat bulan sabit atau hilal dengan membawa lentera dan lilin. Para saudagar dan pemimpin dari berbagai komunitas, profesi, berkumpul di mercusuar Al-Mansour School.

Ketika hilal Ramadhan terlihat, para hakim itu mengumumkan awal bulan puasa, dan para peserta yang hadir pun menyampaikan pengumuman itu kepada masyarakat lainnya. Tradisi ini terus bertahan hingga kekhalifahan Ottoman.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement