Ramadhan, Mengembalikan Kita Menjadi Manusia (Seutuhnya)

Senin 27 April 2020 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 26 330 2205176 ramadhan-mengembalikan-kita-menjadi-manusia-seutuhnya-MslUjMsoyW.jpg

Bulan Ramadhan juga disebut dengan syahr al-qur’an. Pada bulan Ramadhan inilah Al-Quran diturunkan. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah 185, diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Dengan demikian, Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan, bukanlah sebuah peristiwa yang tiba-tiba saja terjadi, tetapi sebagai peristiwa yang telah ditentukan-Nya. Inilah mengapa Ramadhan menjadi bulan yang sangat diistimewakan, dan menjadi bulan yang diberkahi.

Dalam Fatihatul Kitab, kita akan selalu diingatkan kembali tentang siapa diri kita sesungguhnya. Setelah kita menyebut Allah dengan “Rahman dan Rahim”, kita diingatkan kembali bahwa kita adalah seorang hamba yang mendapat tugas dimuka bumi.

Dan oleh karena itu maka pada setiap roka’at sholat kita, kita akan selalu mengikrarkan diri sebagai hamba yang hanya kepada Allah kita menyembah dan memohon pertolongan. Hal ini menjadi pengakuan hubungan relasional kita sebagai makhluq dengan Sang Maha Pencipta.

Lalu, bagaimana relasi kita kepada sesama makhluq? Dalam Ummul Qur’an, sifat “Rahman dan Rahim” Allah ini harus mengejawantah dalam diri kita, termanifestasi dalam sikap, kata dan laku kita. “Rahman dan Rahim” terejawantah dalam “rahman dan rahim” kita sebagai makhluq.

Inilah mengapa Ramadhan disebut dapat menjadi bulan yang akan mengembalikan kita menjadi manusia seutuhnya, setidaknya melalui dua jalan yang tidak terpisahkan. Jalan pertama, pengakuan kita sebagai hamba/makhluq. Dan jalan kedua adalah bahwa apa yang kita lakukan harus merefleksikan sifat-sifat Tuhan dalam keseharian kita sebagai makhluq.

Bagaimana ciri-ciri manusia seutuhnya?

Pada jalan pertama, kunci utamanya bahwa apa yang kita lakukan harus kita niatkan dalam rangka beribadah. Dan ibadah adalah sebagai upaya untuk meraih ridho-Nya. Tanpa ridha Allah, maka ibadah kita akan sia-sia. Puasa Ramadhan misalnya, bukan lapar dan dahaganya yang kita persembahkan, tetapi ketaqwaan itulah yang Allah akan lihat.

Puasa adalah satu satunya ibadah yang berbeda dengan ibadah wajib lainnya seperti sholat, zakat, puasa dan haji dimana manusia lain bisa melihatnya. Pada ibadah puasa Ramadhan, ibadah ini adalah satu-satunya ibadah yang hanya diketahui oleh Allah dan hamba-Nya tersebut.

Inilah yang menjadi keistimewaan ibadah puasa, hubungannya langsung kita dengan Allah, antara makhluq dengan Sang Khaliq. Inilah hikmah dibalik mengapa Allah selalu mengingatkan agar puasa kita tidak sia-sia.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pada jalan kedua, dengan menyadari bahwa kita sebagai makhluq maka kita memiliki tugas memakmurkan bumi. Memakmurkan bumi kaitannya tidak hanya kepada manusia saja, tetapi juga terkait dengan makhluq Allah yang lain. Kepada manusia, kita harus memiliki adab dengan memanusiakan manusia. Tolong menolong dalam hal kebaikan kepada manusia. Sedang pada makhluq lain adalah memeliharanya dengan baik.

Ramadhan 1441 H yang kita laksanakan bersamaan dengan adanya wabah covid-19 ini, harus menjadi momentum agar kita lebih peduli kepada sesama. Sebab, wabah yang terjadi ini memiliki dampak ekonomi yang besar terhadap masyarakat kita, terutama kaum dhuafa dan mustad’afin. Jangan sampai ada yang kelaparan, sebab dengan puasa kita sendiri dapat merasakan bagaimana kita dalam kondisi lapar.

Kita tidak hanya dituntut untuk empati dan simpati, tetapi juga harus peka kepada lingkungan masyarakat sekitar kita. Mereka mungkin enggan meminta bantuan kita, tetapi kitalah yang musti lebih peduli dengan memberikan bantuan dengan apa yang kita mampu tanpa mereka meminta. Ini menjadi salah satu esensi keberadaan kita dalam masyarakat, memanusiakan manusia. Merasakan apa yang dirasakan oleh mereka kaum dhuafa dan mustad’afin.

Sedang adab kita dengan makhluq yang lain, dengan alam misalnya kita memiliki kewajiban untuk menjaganya dengan baik. Menjaga keseimbangan adalah tugas kita bersama setelah kita juga diberikan kewenangan untuk mengelolanya.

Dalam sejarah Islam, menebang pohon tanpa alasan adalah sebuah larangan meski dalam keadaan perang. Ramadhan ini menjadi refleksi kita, menjadi manusia sesungguhnya dalam menjaga adab terhadap alam adalah dengan mememeliharanya dengan baik, bukan justru merusaknya.

Semoga puasa Ramadhan ini menjadikan kita kembali kepada fitrah, yaitu menjadi manusia sesungguhnya. Selamat Ramadhan 1441 H.

Oleh: Nu’man Iskandar

Penulis adalah Ketua BRUTAL (Buruh Tani Nelayan) PP Pemuda Muhammadiyah

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya