Virus Sombong di Masa Pandemi Corona

Selasa 28 April 2020 00:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 27 330 2205675 virus-sombong-di-masa-pandemi-corona-Fpu7Qti4q0.jpg

MENYIKAPI penyebaran wabah virus Corona (COVID-19) saat ini, seharusnya setiap umat Islam di Indonesia merujuk pada seruan tiga pihak.

Ketiga pihak tersebut, yakni pemerintah sebagai Ulil Amri, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah Fuqaha sebagai yurisprudensi hukum Islam dalam merumuskan fatwa-fatwa agama, dan dokter sebagai pihak yang menguasai ilmu kesehatan. Semuanya dilakukan sesuai kaidah keilmuan masing-masing, namun dengan satu tujuan demi menumpas penyebaran Covid-19.

Yang terjadi saat ini bermunculan pihak-pihak yang mengikuti perasaan dan hawa nafsu dengan membantah fatwa MUI yang jelas-jelas berdampak pada kemaslahatan bersama. Kalaulah mereka dengan berbagai latar belakang keilmuan yang mempuni saja tidak ditaati juga, siapa lagi yang mau ditaati di negeri ini?

Melalui pendekatan Madzhab Imam al-Syafi’i yang mayoritas dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia bahkan se-Asia Tenggara, pandangan untuk menaati orang-orang berilmu sangatlah dianjurkan. Imam Syafii menjelaskan:

َلَا تَسْكُنَنَّ بَلَدًا لَا يَكُوْنُ فِيْهِ عَالِمٌ يُفْتِيكَ عَن دِينِك، وَلَا طَبِيبٌ يُنْبِئُكَ عَنْ أَمْرِ بَدَنِك

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, h. 244)

Sebagai seorang muslim yang moderat, hal yang elok dalam menyikapi peristiwa pandemi global ini dengan berpikir jernih. Pertarungan politik, ekonomi, budaya bahkan pergulatan ideologi keagamaan sebaiknya dihindari karena dapat menghilangkan kestabilan alam serta menyebabkan musibah yang silih berganti.

Allah SWT memiliki sifat Qudrat atau Maha Berkuasa. Kekuasaan-Nya tak terbatas dan meliputi segala sesuatu sesuai kehendak. Sifat lainnya, Iradat, artinya Allah Berkehendak. Konteks keduanya memerlihatkan bahwa Allah tidak memandang sebanyak apa ritual yang dilakukan hamba-Nya.

Andaikan hamba-Nya satupun tak lagi menyembahnya, derajat ketuhanan yang dimiliki Allah SWT tidak akan menurun. Andaikan semua umat menyembah-Nya sebagai Tuhan, tak akan bertambah derajat-Nya karena Allah SWT adalah pemilik kesempurnaan.

Esensi ketuhanan tak bisa dihalangi oleh adanya sebab sesuatu. Akan tetapi manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya tentunya harus mengikuti tata nilai yang menjadi sunatullah (hukum alam) atau hukum kausalitas (sebab akibat). Maka dari itu adanya pandemi Covid-19 ini agar manusia berikhtiar mencegah, bukan malah menyalahkan Allah SWT.

Allah memerintahkan kepada manusia harus ada di jalan sebab akibat, walaupun hakekatnya takdir baik maupun buruk itu telah Allah ciptakan.

Pertanyaannya, jika kita sebagai manusia tidak mau mengikuti seruan pemerintah dengan alasan percaya dan yakin saja kepada Allah SWT, lalu kenapa harus menghambat pelaksanaan ibadah berjamaah di masjid?

Pertanyaan tersebut harus dijawab sendiri. Lebih tinggi mana keilmuan Anda dengan ulama Imam Syafii? Beliau saja melarang untuk tidak meninggalkan unsur sebab akibat selain keyakinan segala apapun terjadi karena Iradat Allah. Wallahu alam.

Oleh Ahmad Suhadi

Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Matsail PCNU Kabupaten Bogor

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya