Sholat Tarawih 11 dan 23 Rakaat, Afdol-nya Berapa Rakaat?

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Minggu 03 Mei 2020 00:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 02 616 2208293 sholat-tarawih-11-dan-23-rakaat-afdol-nya-berapa-rakaat-wVwfp1VLgb.jpg Ilustrasi Sholat Tarawih Berjamaah di Rumah (Foto: Okezone)

Jumlah rakaat sholat tarawih yang popular di Indonesia adalah 11 rakaat atau 23 rakaat, dengan witirnya. Perbedaan di antara para ulama muncul lantaran dasar yang dipakai berbeda-beda, baik kelompok pertama maupun kedua sama-sama memiliki argumentasi yang kuat.

Lantas muncul pertanyaan, sebenarnya sholat tarawih lebih afdol berapa rakaat?

Wakil Kepala Pondok Pesantren TebuIreng 2 Ustadz Arif Khuzaini, S.A., S.Pd.I mengakui jumlah bilangan rakaat sholat tarawih memang masih diperdebatkan di kalangan ulama. “Tapi kondisi ini sebaiknya tidak sampai menimbulkan pertengkaran antar sesama saudara muslim,” ujarnya kepada Okezone.

Menurut ustadz Arif Khuzaini, selaku pengikut madzhab syafi’iy, dalam madzhab ahlussunnah wal jamaah, jumlah rakaat sholat tarawih adalah 20 rakaat. Sholat tarawih hukumnya sunnah ‘ain yang muakkad bagi kaum lelaki dan perempuan, menurut pendapat ulama hanafiyyah, syafi’iyyah, hanabilah dan malikiyyah.

Sholat tarawih sunnah a’in dilakukan secara berjamaah, menurut ulama syafi’iyyah dan hanabilah. Ulama Malikiyyah memandangnya mandub (dianjurkan) dilakukan secara berjamaah.

(Baca Juga : Viral Hadist Nabi Dikaitkan Asteroid Tabrak Bumi pada 15 Ramadhan? Ini Penjelasannya)

Sementara ulama hanafiyyah memandang tarawih secara berjamaah sebagai sunnah kifayah bagi penduduk kampung. Jika sebagian penduduk sudah ada yang melakukannya, maka yang selebihnya gugur kesunnahan berjamaah.(Madzahib al-Arba'ah, Syaikh Abd Rahman al-Jaziri, I/324)

Kesunnahan sholat tarawih ditetapkan oleh para imam madzhab berdasarkan perbuatan Rasulullah SAW. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadist yang menyatakan, bahwa Rasulullah SAW pernah keluar rumah di tengah malam pada beberapa malam di bulan Ramadhan, tepatnya selama tiga malam secara terpisah-pisah, yakni pada malam tanggal 23, 25 dan 27 Ramadhan.

Beliau SAW sholat di masjid dan orang-orang pun ikut sholat seperti sholat beliau pada malam-malam tersebut. Beliau SAW sholat bersama mereka delapan rekaat (yakni dengan empat kali salam, sebagaimana yang dijelaskan nanti).

(Baca Juga : Akhir Wabah Corona Menurut Para Ahli hingga Pertanda Bintang Tsurayya)

Mereka kemudian meneruskan rakaat selebihnya di rumah masing-masing, (dalam arti mereka menyempurnakan sampai 20 rakaat, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti). Dan suara sholat mereka terdengar seperti suara lebah.(Madzahib al-Arba'ah, Syaikh Abd Rahman al-Jaziri, I/324, Hawasyai asy-Syarwani II/240, dan Bujairimi Khotib III/472).

“Dari sini jelaslah bahwa Rasulullah SAW mensunnahkan melakukan sholat tarawih dan dilakukan secara berjamaah. Hanya saja, beliau melakukannya bersama mereka tidak dengan bilangan 20 rakaat, sebagaimana bilangan tarawih yang sudah berjalan sejak zaman sahabat dan zaman sesudahnya sampai sekarang. Sementara tidak keluarnya beliau SAW kepada mereka (pada selain tiga malam tersebut) disebabkan khawatir kalau-kalau sholat tersebut nantinya diwajibkan kepada mereka, sebagaimana yang dijelaskan pada sebagian riwayat,” ujar ustadz Arif Khuzaini.

Dari cerita ini pula maka jelaslah bahwa bilangan rekaat tarawih tidak terbatas pada delapan rekaat sebagaimana yang pernah beliau SAW lakukan bersama para sahabat. Dengan alasan bahwa mereka meneruskan tarawihnya (sampai 20 rakaat) di rumah masing-masing.

(Baca Juga : Gaya Hijab Penyanyi Tere, Mualaf yang Kini Gencar Berdakwah)

“Dan lagi, tindakan Umar bin Khatthab ra benar-benar menjadi penjelas bahwa jumlah rekaat tarawih adalah 20 rakaat, dimana pada akhir masa pemerintahannya, Umar mengorganisir orang-orang untuk melakukan sholat tarawih 20 rakaat di masjid. Para sahabat pun menyetujui tindakan Umar dan tidak ada seorang pun dari khulafaur-rasyidin yang datang sesudahnya yang menentang atau memprotes tindakannya. Mereka pun meneruskan sholat tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rekaat.

(Umat Islam di Masa Khalifah Utsman salat Tarawih 20 Rakaat (riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra No 4801), dan Sayidina Ali memerintahkan umat Islam salat Tarawih 20 rakaat (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah II/285))

Rasulullah SAW bersabda :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ. عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ. (رواه ابن داود)

Artinya : “Kalian harus berpegangan pada sunnah (tradisi)-ku dan sunnah (tradisi) khulafaur-rasyidin yang memperoleh petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi gerahammu” (HR Abu Dawud).

Abu Hanifah pernah ditanya seseorang tentang tindakan yang dilakukan oleh Umar bin Khatthab ra. Jawabnya : “Sholat tarawih itu sunnah muakkad. Umar tidak melakukan tindakan seperti itu sekedar menuruti hawa nafsunya dan juga tidak berarti bahwa ia melakukan perbuatan bid’ah. Perintah Umar tersebut semata-mata atas dasar / dalil yang ada pada dirinya dan berdasarkan kenyataan yang terjadi pada masa Rasulullah SAW.( Baca Fatawa al-Azhar I/48).

(Baca Juga : Pulih dari COVID-19, Tung Desem Waringin: Wim Hof Method Percepat Penyembuhan)

Memang benar, bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, yang saat itu ia menjadi gubernur Dinasti Umaiyah di Madinah, ada tambahan jumlah rekaat tarawih. Sholat tarawih tidak sekedar 20 rakaat, tetapi dijadikan 36 rakaat.

Maksud dan tujuannya adalah agar penduduk Madinah dapat menyamai keutamaan penduduk Makkah, disebabkan mereka melakukan thawaf setiap memperoleh empat rakaat tarawih (artinya setelah tiap-tiap dua kali salam). Umar bin Abdul Aziz – yang pada saat itu menjadi imam tarawih – berpendapat untuk menambah empat rekaat (dua kali salam) sebagai ganti dari setiap thawaf.

(Baca Juga : Tatkala Syukur Menjadi Motivasi Beramal)

Dengan demikian, jumlah rakaat sholat tarawih adalah 20 rakaat menurut seluruh Imam Madzhab, selain rakaat sholat witir. Ulama malikiyyah mengatakan, jumlah sholat tarawih 20 rakaat selain rakaat genap dan ganjil (witir), menurut istilah mereka. (Sumber : kitab Al-Fiqhu ‘alal madzahibil arba’ah).

Namun di sana ada orang yang mengatakan, bahwa sholat tarawih itu delapan rekaat, berdasarkan hadis ‘Aisyah ra, yang menyatakan:

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لَا فِي غَيْرِهِ عَلَى ِاحْدَى عَشَرَةَ رَكْعَةً, يُصَلِّي اَرْبَعًا, فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ. ثُمَّ يُصَلِّي اَرْبَعًا, فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ. ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. قَالَتْ عَائِشَةُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ : أَتَنَامُ قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ ؟. قَالَ : يَا عَائِشَةُ, إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَ لَا يَنَامُ قَلْبِيْ. (متفق عليه)

Artinya : “Adalah Rasulullah saw, baik di bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan, tidak melakukan sholat (malam) melebihi 11 rakaat. Beliau SAW sholat empat rekaat (dengan dua kali salam, seperti penjelasan di belakang nanti).

Maka jangan tanya tentang bagusnya dan panjang/lamanya sholat beliau. Lalu sholat lagi empat rekaat (dua kali salam), dan jangan tanya pula tentang bagus dan lamanya sholat beliau. Selanjutnya beliau sholat tiga rekaat”. ‘Aisyah bertanya kepada beliau, “Ya Rasulallah! Apakah engkau tidur sebelum melakukan sholat witir itu?”. Jawab beliau : “Kedua mataku memang tidur, tetapi hatiku tidak tidur”. (HR Muttafaq ‘alaih).

(Baca Juga: Humor Gus Dur: Penghuni Surga Vs Penghuni Neraka)

“Akan tetapi penggunaan hadist ‘Aisyah ra tersebut sebagai dasar sholat tarawih delapan rekaat, menurut saya tidak benar, karena tema hadist tersebut secara tekstual dan nyata adalah berbicara soal sholat witir. Sudah kita maklumi, bahwa jumlah rakaat sholat witir paling sedikit satu rakaat dan paling banyak 11 rakaat. Sementara itu, beliau SAW ketika itu melakukannya setelah tidur sebanyak empat rakaat yang dilakukan dengan dua kali salam secara bersambung, lalu sholat lagi empat rekaat dengan dua kali salam secara bersambung. Selanjutnya sholat tiga rakaat dengan dua kali salam seperti itu,” terang ustadz Arif Khuzaini.

Argumentasi yang menunjukkan bahwa sholat yang beliau lakukan tersebut merupakan sholat witir, adalah :

1) Pertanyaan ‘Aisyah ra : “Ya Rasulallah! Apakah engkau tidur sebelum melakukan sholat witir ?”. Sementara itu, yang namanya sholat tarawih adalah dilakukan setelah sholat ‘isya dan sebelum tidur.

2) Sholat tarawih tidak akan ditemui di luar bulan Ramadhan.

3) Imam Bukhari menempatkan hadis tersebut pada bab sholat witir. (Al-Hafidz Ibnu Hajar menjadikan hadist ini sebagai dalil salat Witir dalam Bulugh al-Maram No 277, bukan dalil Tarawih)

“Dengan begitu, maka tidak ada kontradiksi/pertentangan dan dapat dikompromikan di antara beberapa dalil yang ada,” terang ustadz Arif Khuzaini.

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Quran dan Hadist Ustadz Fauzan Amin menyatakan sejatinya sholat tarawih itu tidak ada ketentuan khusus berapa jumlah rakaat-nya alias bebas. “Sejarah awal tarawih Nabi hanya sholat 2-3 kali saja di masjid. Sisanya Nabi sholat di rumah karena khawatir dianggap wajib oleh umatnya. Tentu ini sesuai perintah Allah,” ujarnya.

Saat Nabi SAW sholat di rumah, sambung dia, para sahabat tetap ramai-ramai sholat di masjid. Bahkan sebagian sampai dini hari saking semangatnya mengisi malam Ramadhan dengan ibadah. “Jadi yang tahu persis bagaimana Nabi sholat tarawih adalah Aisyah. Hanya Allah Yang Maha Tahu,” ujarnya.

Mengenai jumlah rakaat tarawih 20 rakaat, kata ustadz Fauzan Amin, adalah hasil ijtihad Umar bin Khattab hingga ditiru sampai kini oleh kalangan NU. Jumlah 20 itu di tengah alias sedang. Bagi yang malas tarawih, 20 rakaat itu masih bisa dipaksa. Bagi yang terlalu semagat 20 itu sudah lebih dari cukup.

"Saya sendiri tarawih macam-macam. Kalau lagi semangat 20 rakaat. Kalau lagi capek 11 rakaat. Formasi 2-2-2-2-2-1. Kalau lagi sibuk mengisi tadarus di luar formasi bisa jadi 4-4-3, kalau zaman mudik alias musafir cukup 2 rakaat,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya