Tatkala Syukur Menjadi Motivasi Beramal

Sabtu 02 Mei 2020 00:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 01 330 2207854 tatkala-syukur-menjadi-motivasi-beramal-dWC8cG1DKn.jpg

Pada bagian awal surat Saba’ (surat ke-34) dijelaskan begitu banyak nikmat Allah yang dianugerahkan kepada dua Rasul-Nya yaitu Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.

Satu hal yang istimewa adalah apa yang Allah perintahkan kepada kedua Rasul yang mulia setelah berbagai nikmat tersebut diberikan.

Allah memerintahkan kepada keduanya untuk mensyukuri semua nikmat tersebut dengan melakukan amal shaleh. Allah meminta amal shaleh sebagai bentuk rasa syukur keduanya atas seluruh anugerah yang diberikan.

Hal tersebut secara eksplisit disebutkan dalam surat Saba’ ayat 11 dan 13 yang berbunyi: “Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.”

“Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”

(Baca Juga : Jawaban Gus Miftah Atas Isu Kiamat 15 Ramadhan)

Bersyukur dengan beramal shaleh menitikberatkan pada adanya amal shaleh sebagai bentuk syukur atas limpahan nikmat yang sudah Allah berikan. Pada saat seseorang melakukan amal shaleh sebagai bentuk syukur, secara otomatis ada memori atau ingatan akan banyaknya anugerah yang diberikan ketika beramal. Saat beramal diharapkan seseorang mengingat limpahan anugerah yang sudah diberikan.

Ada dua hal positif yang menjadi hikmah ketika seseorang diminta bersyukur dengan melakukan amal shaleh.

Pertama, bersyukur dengan amal shaleh akan memperpanjang ingatan manusia akan nikmat Allah yang terus-menerus diberikan tanpa henti. Manusia akan terus mengingat betapa nikmat itu tak terhitung jumlahnya. Betapa nikmat itu datang silih berganti tanpa jeda. Sedikit saja ada jeda di antara nikmat yang Allah berikan, sungguh tak mampu manusia menjalani hidupnya dengan baik.

Kedua, bersyukur dengan amal shaleh menambah kekuatan motivasi seseorang dalam beramal. Manusia tidak lagi sepenuhnya merasa terbebani dengan kewajiban yang diperintahkan. Seseorang akan merasa senang dan gembira saat melakukan kebaikan, tatkala semua itu dilakukan sebagai bentuk syukurnya kepada nikmat yang sudah terberi.

Laksana seorang pegawai yang baru saja diberangkatkan haji oleh pimpinannya, maka saat bekerja, ia tidak semata-mata melakukan kewajiban sebagai pegawai, akan tetapi didasari oleh dorongan untuk berterimakasih atas hadiah perjalanan haji yang sudah diberikan. Dengan begitu, aktivitas bekerjanya dapat dilakukan dengan penuh kesenangan.

Mari kita renungkan bagaimana respon Rasulullah dalam hadits Bukhari Muslim, ketika Aisyah terheran-heran melihat beliau sholat malam hingga kakinya bengkak, sementara Allah sudah mengampuni dosa dan kesalahannya. Pada saat itu Rasulullah menjawab dengan senyuman dengan satu kalimat yang indah; “Tidak pantaskah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

(Baca Juga : Gaya Hijab Penyanyi Tere, Mualaf yang Kini Gencar Berdakwah)

Melakukan satu kewajiban yang diiringi dengan ingatan akan besarnya anugerah Allah, yang kemudian menghadirkan rasa syukur yang begitu tinggi, maka kewajiban yang dilakukan menjadi sangat ringan.

Seseorang akan merasakan bahwa apa yang Allah perintahkan tidak sebanding dengan bentangan luas nikmat yang telah diberikan. Apa yang Allah perintahkan tidak seberapa dan sangat mudah untuk dilakukan oleh manusia, jika dibandingkan dengan nikmat yang begitu banyak.

Jika perasaan tersebut hadir pada diri setiap manusia, maka ibadah dan kewajiban yang dilakukan menjadi begitu ringan. Ibadah selalu diiringi dengan senyuman. Orang yang selalu menghadirkan rasa syukur tidak terlalu sibuk memikirkan nikmat apalagi yang belum diberikan, akan tetapi ia sudah habis waktunya untuk memikirkan bentuk amal shaleh apalagi yang harus dilakukan untuk meyempurnakan rasa syukurnya.

(Baca Juga : Putuskan Hijrah, Begini Gaya Hijab Artis-Artis Mualaf)

Pada diri orang tersebut akan terus muncul perasaan dan pikiran untuk melaksanakan perintah Allah lebih banyak lagi dan lebih baik lagi, demi menggapai ridha Allah Sang Maha Pemberi Rezeki.

Betapa nikmat dan indahnya amal shaleh ketika keinginan untuk mensyukuri limpahan nikmat, yang menjadi sumber motivasinya. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang manusia dustakan! Semoga Allah anugerakan kita kemampuan untuk selalu bersyukur, bersyukur lagi dan terus bersyukur.

Oleh : Ustaz Rachmat Tullah (Corps Dai Dompet Dhuafa)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini