Pesan Damai Malam Lailatul Qadar

Jum'at 15 Mei 2020 00:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 15 330 2214310 pesan-damai-malam-lailatul-qadar-NyKXjdLv9L.jpg Pesan Damai Malam Lailatul Qadar (Foto: Okezone)

Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, setiap mukmin berpuasa dianjurkan untuk semakin konsentrasi dalam beribadah untuk menggapai lailatul qadar. Demikian salah satu pesan Nabi Muhammad dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah”.

Ibarat orang ikut lomba lari marathon, semakin mendekati garis finis, maka dia akan semakin kencang dalam berlari, seluruh tenaganya dikeluarkan untuk mencapai garis penghabisan bahkan berazam menjadi sang pemenang. Begitu juga seyogyanya, bagi mukmin berpuasa harus mengencangkan ikat tali, mengatur ritme nafas dan berazam untuk fakus beribadah di malam-malam terakhir bulan Ramadhan terlebih malam ganjil untuk menggapai lailatul qadar.

Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa disepuluh hari terakhir ini, Allah menjanjikan kebaikan yang kebaikan tersebut nilainya tak terhingga yaitu malam lailatul qadar. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qadr: 3 “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.

Disebut malam lailatul qadar paling tidak memiliki dua makna; Pertama, menurut Ali Asshabuny dinamakan malam lailatul qadar karena kemuliaan malam tersebut mengalahkan kemulian malam, hari dan bulan yang lain. Di malam tersebut Allah tunjukkan keagungan, kesucian dan kelembutanNYA sebagai tanda bukti kemuliaan turunnya Alquran, sebagaimana ungkapan orang Arab fulan dzu qadrin ‘adzim (fulan punya kemuliaan nan agung).

(Baca Juga : Tata Cara Sholat Tahajud untuk Menyambut Malam Lailatul Qadar)

Kedua, lailatul qadar bermakna ketetapan (taqdir) dimana pada malam tersebut Allah menurunkan ketetapanNYA tentang kehidupan, kematian dan rizki. Pendapat yang kedua ini merujuk pada firman Allah dalam surat al-Dukhan: 3-4 “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada suatu malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.

Salam Damai Lailatul Qadar

Selain lailatul qadar adalah malam kemuliaan akan tetapi malam tersebut juga membawa misi malam perdamaian (salam), dimana ayat ke lima dari surat al-Qadr tersebut diakhiri dengan kata salamun yang berarti keselamatan, perdamaian dan ketentraman.

Pesan perdamaian ini menjadi isyarat bahwa untuk mendapatkan malam lailatul qadar meskipun bersifat privasi akan tetapi dampak dari kemuliaan malam tersebut harus bisa dirasakan oleh banyak orang yaitu menciptakan perdamaian dan keselamatan.

Menurut al-Sa’dy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata salam berarti keselamatan dari setiap kejahatan dan mara bahaya yang demikian itu dikarenakan melimpahnya kebaikan dan kedamaian. Keselamatan dan perdamaian yang dimaksud pada penutup surat al-Qadr tersebut tentu tidak saja hanya berlaku pada saat malam lailatul qadar, lebih dari itu pesan perdamaian tersebut harusnya mengikat pada setiap diri seorang muslim untuk selalu menebar perdaiaman dan keselamatan bagi orang-orang disekitarnya.

(Baca Juga : Mbah Moen Sebut Kebangkitan Islam akan Datang dari Negara Penghasil Biji-bijian)

Selain itu makna dan fungsi malam lailatul qadar juga terletak sejauh mana seseorang yang ingin mendapatkan kebaikan malam tersebut terus menerus menyampaikan pesan damai, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman. Sebagaimana karakter mukmin sejati adalah membuat orang lain merasa aman dari ancaman kejahatan lisan dan perbuatannya, demikian Nabi Muhammad mensabdakannya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pesan damai di malam lailatul qadar menjadi sangat urgen untuk ditransformasikan mengingat saat ini muslim, khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya, lagi bersama-sama menghadapi wabah pandemic covid 19. Bencana corona telah dan mungkin akan berdampak pada setiap sisi kehidupan manusia tidak terlewatkan sisi ekonomi. Kegiatan ekonomi menjadi lesu, penghasilan masyarakat berkurang, bahkan tidak sedikit yang kehilangan sumber-sumber ekonominya.

Jika kondisi demikian tidak disikapi dengan saling menebar kedamaian, maka yang terjadi adalah saling curiga antar satu orang dengan lainnya, dan pada akhirnya akan terjadi tindak destruktif. Tindak destruktif alasan dan atas nama apapun tentu sangat bertentangan dengan spirit salamun dalam surat al-Qadr tersebut. Salam para Malaikat kepada para pencari malam lailatul qadar tidak akan memiki makna ta’abudi jika tidak dibarengi dengan beberapa hal berikut ini;

Pertama, komitmen untuk selalu menebarkan perdamaian sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari “……maukah kamu kutunjukkan sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai?tebarkanlah salam (perdamaian) di antara kamu…” Dalam surat an-nisa; 86 Allah berfirman”…..apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas segala sesuatu”.

(Baca Juga : Doa Malam Lailatul Qadar, Baca 1.000 Kali)

Kehidupan yang damai adalah kehidupan yang saling mencintai antar anak bangsa, menghormati hak masing-masing tanpa menegasikan yang lain dan menjaga spirit kebersamaan dalam perbedaan serta munculnya kesadaran untuk saling berbagi terlebih dalam suasana pagebluk akibat corona seperti sekarang ini.

Kedua, memahami pesan sentral Alquran yaitu perdamaian. Terdapat korelasi simbolik antara surat al-Qadr yang menjelaskan tentang turunnya Alquran dengan perdamaian. Alquran adalah sumber perdamaian, jalan menuju keselamatan dan ketentraman serta puncak dari kebijaksanaan. Maka sungguh sangat ironis tatkala segelintir orang membuat ulah ketidaknyamanan ditengah-tengah masyarakat yang bertentangan dengan pesan sentral Alquran tersebut (perdamaian).

Kata salam di dalam Alquran terulang sebanyak 146 kali, yang mayoritas kata tersebut bermakna anjuran untuk menebarkan perdamaian. Ketiga, anjuran untuk selalu berdoa mendapatkan keselamatan dan perdamaian. Hal tersebut sebagaimana kebiasaan Nabi Muhammad setelah selesai mengerjakan sholat fardhu selalu membaca do’a “Allahumma antassalam, wa minkassalam, wa ilaika ya ‘udussalam, fahayyina rabbana bissalam, wa adkhilna jannata daarassalam”

Malam lailatul qadar adalah malam turunnya malaikat untuk menebar kedamaian dan mendoakan manusia agar berlimpah ruah karunia di atas bumi Allah ini. Maka tugas manusia selanjutnya berbagi atas kelimpahan karunia tersebut kepada sesame dan menebarkan rasa damai diantara sesamanya sebagai ciri dia mendapatkan keberkahan di malam al-Qadr.

ustadz Muhajir Lailatul Qadar

Dr. H. Muhajir, S.Pd.I., MSI

(Dai Ambassador Dompet Dhuafa dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya