Mengelola Ruang Publik dalam Suasana Ramadhan

Minggu 17 Mei 2020 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 17 330 2215253 mengelola-ruang-publik-dalam-suasana-ramadhan-pxYFU2mxrG.jpg

Ruang publik virtual kini terasa nyata dan bagian dari keseharian. Sejak pembatasan sosial dilakukan, migrasi ruang publik dari sosial ke virtual terjadi. Media sosial menjadi hingar bingar. Apa yang tak luput, semuanya serba online. Kuliah, diskusi, rapat, belanja, anak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas belajarnya online.

Namun tentu, seperti halnya ruang publik konvensional, ruang interaksi pada ruang publik virtual ini juga membutuhkan etika atau norma. Sehingga tercipta proses interaksi transpersonal yang beradab, baik dan lancar. Maraknya informasi yang beredar di media sosial menuntut penggunanya untuk lebih bijak dalam merespon informasi yang ada.

Mengingat banyak informasi yang beredar hanya berita bohong. Setiap postingan, komentar, like, subscrib (sebagai bukti interaksi di ruang publik baru), tentu memiliki sejumlah konsekuensi. Untuk itu perlu adanya kesadaran diri dalam berinteraksi di dunia maya tersebut.

Momentum Ramadhan ini sangat tepat rasanya bagi kita untuk lebih bijak dan arif dalam berinteraksi di ruang virtual ini. Spirit ibadah puasa harus teraplikasikan dalam dunia virtual. Dimana kita berpuasa untuk menghindari mengkonsumsi dan juga mungkin memproduksi berita bohong. Tidak terpancing dengan isu-isu negatif dan provokatif. Memilah konten-konten yang lebih positif dan bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Jadikan ruang virtual sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagai wujud ketundukan sebagai hamba. Jauhi dari sifat-sifat kemunafikan yang biasa ditampilkan dalam ruang virtual berwujud media sosial. Mari kita shaum dari media sosial yang cenderung banyak menyebarkan kebohongan. Polusi kemunafikan kita bersihkan, sehingga ruang publik virtual bersih dari kebencian.

Terkait penyebaran berita bohong atau hoak di bulan puasa, Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhori, "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (malah) melakukannya, maka Allah tidak butuh dengan lapar dan haus yang ia tinggalkan (tahan)."

Ibnul ‘Arabi dalam Fath Al-Bari, memberikan penjelasan bahwa "Konsekuensi dari hadis tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya." Tentu perkataan bohong yang dimaksud bukan hanya di dunia nyata, tapi juga dalam ruang sosial virtual.

Perlu disadari bahwa media sosial yang kita ikuti ini dipenuhi dengan “citra diri” individu (kemunafikan), sehingga akan sulit sekali kita menemukan jati diri individu dalam ruang virtual ini. Oleh sebab itu, sosial media sebagai ruang publik virtual, menuntut setiap individu untuk menampilkan dan menjadi diri sendiri.

Apabila terjebak pada orientasi citra diri, maka dikhawatirkan akan masuk pada kemunafikan lebih jauh lagi pada ranah pelanggaran hukum. Kasus terakhir yang heboh karena berorientasi pada citra diri adalah prank sembako berisi sampah yang dilakukan oleh Ferdian cs pada Jumat (1/5/2020).

Aksinya dilakukan di pinggir Jalan Ibrahim Adjie, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung dengan objek sasaran para transgender. Aksi yang dilakukan awalnya iseng guna menaikan subscriber di You Tube ini berujung petaka menjadi tersangka penyalahgunaan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Untuk itu, momentum Ramadhan yang dijalani saat ini, hendaknya digunakan untuk meningkatkan kesadaran akan diri sendiri sehingga menjadi pribadi yang bertaqwa. Ketaqwaan hadir di ruang virtual dalam bentuk kehati-hatian, ketaatan akan norma dan etika dalam berkomunikasi. Terlebih lagi di masa sulit seperti sekarang ini kesalahan kecil yang dilakukan akan berakibat patal baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Rustam Hakim (1987) mengingatkan bahwa ruang publik adalah ruang yang berfungsi untuk tempat menampung aktivitas masyarakat, baik secara individu maupun secara kelompok, dimana bentuk ruang publik ini sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan.

Ruang publik ini memungkinkan terjadinya pertemuan antar manusia untuk saling berinteraksi. Interaksi yang terjadi di ruang publik ini bersifat egaliter, melampaui skat-skat dan status sosial. Individu biasanya mendapatkan eksistensinya di raung publik ini.

F Budi Hardiman (2005) menggambarkan bahwa ruang publik atau yang dalam bahasa Jermannya offentlichkeit ini berarti keadaan yang dapat diakses semua orang dan mengacu pada ciri terbuka dan inklusif ruang ini. Ruang publik merupakan ruang diskursus masyarakat, yang mana warga negara dapat menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif.

Di era revolusi industri 4.0, kita dihadapkan pada ruang publik baru. Ruang publik yang tersaji di dunia maya. Media sosial merupakan transformasi ruang publik yang hadir di genggaman. Keberadaannya bahkan pada aspek tertentu bisa menggantikan ruang publik yang sesungguhnya. Meskipun demikian, keberadaan ruang publik masih sangat diperlukan sebagai wadah interaksi sosial antar individu.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, dimana ruang aktualisasi dan ruang gerak masyarakat dibatasi, maka alternatifnya adalah berinteraksi pada ruang publik virtual ini. Namun lagi-lagi, mari kita bijak, mari kita merefleksikan ketakwaan dalam ruang publik dengan sikap hati-hati, santun dan tak menjadi aktor aktif penyebar hoaks. Wallaahu’alam

Oleh: M. Lukmanul Hakim

(Ketua PP Pemuda Muhammadiyah dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini