Tausiyah Ramadhan: Puasa dan Empati Sosial

Minggu 17 Mei 2020 04:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 17 330 2215474 tausiyah-ramadhan-puasa-dan-empati-sosial-cUSyMH8fTN.jpg Esensi Puasa (Foto: Okezone)

Ajaran Islam tidak selalu berisikan hubungan ketuhanan atau hablun minallah saja, tetapi inti beragama adalah praktek syariat yang bernilai kemanusiaan yang disebut hablun minannas.

Aspek kemanusiaanlah yang paling dominan atas diperintahkannya seluruh perintah-perintah dan larangan-larangan dalam agama. Praktek ibadah selalu mencakup apakah bermakna bagi makhluk Tuhan atas praktek itu atau sekedar melaksanakan kewajiban kepada-Nya dengan nilai hampa yang nol untuk kemanusiaan.

Shalat, puasa, zakat, dan haji yang didukung oleh komitmen hati yang disebut dengan syahadat mesti berfaedah dan bernilai bagi aspek kemaslahatan manusia. Shalat misalnya seharusnya tanha anil fahsyai walmunkar (mencegah dan menjauhkan manusia dari praktek-praktek kejahatan), entah itu indisipliner, kolusi, dan korupsi, rakus dalam kepemilikan. Shalat bukanlah vertikal semata kepadaNya tetapi hubungan horizontal kepada ciptaanNya.

Demikian pula puasa. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa bernilai lebih dari itu. Ia adalah momentum introspeksi diri dan uji kesabaran, memelihara kesehatan, serta harapan munculnya empati sosial.

Praktek beragama yang berlangsung sepanjang hidup kadang menjauhkan manusia dari nilai agama. Religiusitas sangat tampak pada bulan Ramadhan. Orang berlomba-lomba meramaikan masjid, kantor-kantor dan organisasi-organisasi ramai dengan kultum (kuliah tujuh menit) entah kultum dzuhur maupun kultum menjelang buka puasa yang juga diiringi dengan bersedekah menjamu orang-orang lapar dengan suguhan bukan puasa.

Ibu-ibu PKK, Dharmawanita, majelis taklim semarak dengan tarling (tarwih Keliling)nya dan program berbagi keringanan dengan belanja murah sembako. Seakan ingin memanen pahala yang sebanyak-banyaknya dalam bulan Ramadhan.

Semangat ini patut diapresiasi. Kalaupun ramadhan tahun ini tidak seramai dengan tahun-tahun sebelumnya itu karena masih pandemi Covid 19. Para orientalis dan peneliti Islam yang non muslim sangat tertarik meneliti fenomena semarak beragama umat Islam Indonesia.

Puasa bukanlah semata kewajiban bagi umat Islam. Dalam sejarah umat-umat terdahulu diperintahkan untuk melaksanakan puasa. Orang-orang Mesir Kuno sebelum mereka mengenal agama Samawi (Islam, Yahudi, dan Nasrani) telah mengenal puasa. Praktek berpuasa pun lalu beralih kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Puasa juga sangat populer pada agama-agama penyembah bintang. Pun demikian dengan agama Budha, Yahudi, dan Kristen.

Dalam kitab al Fharasat karya Ibn an-Nadim menyebutkan bahwa agama para penyembah bintang berpuasa 30 hari setahun. Juga ada puasa sunnat sebanyak 16 hari dan 27 hari. Puasanya bertujuan sebagai pemuliaan kepada bulan, bintang, dan matahari. (Quraish Shihab, 2007).

Dalam Budha demikian juga dikenal puasa, sejak terbit sampai terbenamnya matahari, mereka melakukan puasa 4 hari dalam sebulan. Mereka menamainya Uposatha, pada hari –hari pertama kesembilan, kelima belas, dan kedua puluh.

Orang Yahudi mengenal puasa selama 40 hari bahkan dikenal beberapa macam puasa yang dianjurkan bagi penganut –penganut agama ini, khususnya untuk mengenang para Nabi atau peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah mereka. Demikian juga Kristen. Dalam kitab perjanjian baru tidak ada isyarat tentang kewajiban puasa namun dalam prakteknya mereka mengenal puasa yang ditetapkan oleh pemuka-pemuka agama mereka (Quraish Shihab,2007).

Ajaran puasa bagi umat Islam tidaklah berdiri sendiri. Ia memiliki ketersambungan sejarah dengan agama-agama dan keyakinan-keyakinan sebelumnya. Paling tidak, puasa tidak hanya pemuasan batin, mental, dan spritualnya tetapi puasa menggembleng umat beragama untuk memiliki empati dan kepedulian sosial. Agama tidak semata kewajiban aini (individu) tetapi selalu berefek sosial. Orang-orang yang berpuasa mampukah mereka menyerap perasaan orang-orang miskin yang kadang ada kadang tiada. Maka puasa mengajari amal sosial.

Berpuasa bukan hanya berdampak sehat individu tetapi sehat sosial. Andaikan setiap orang peka akan kondisi-kondisi sekitarnya maka musnahlah kemiskinan di kolom langit ini. Sesungguhnya Tuhan telah mencukupkan dunia dan isinya untuk segenap makhluknya dengan perhitungan seluruhnya sudah mendapatkan hak berupa harta untuk mencukupi kebutuhannya dalam kehidupannya.

Akan tetapi di antara mereka ada yang rakus, tak peduli hak orang lain, semua dijepit dalam ketiaknya sehingga yang lainnya tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sumber kemiskinan hanya satu, orang tidak rela berbagi dan tidak menunaikan hak yang lainnya. di sinilah pentingnya aktualisasi puasa.

Aspek lain puasa adalah mencegah berbagai penyakit, baik fisik maupun mental. Sejumlah Peneliti menyebutkan dengan puasa, kerja sel getah bening membaik 10 kali lipat. Jumlah sel T limfosit yang berfungsi sebagai kekebalan semakin bertambah banyak, antibody semakin meningkat dan reaksi imun semakin aktif akibat bertambahnya protein lemak.

Puasa dapat menghindarkan diri dari penyakit kegemukan. Penyakit ini bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Penyebabnya macam-macam selain karena kegemukan, obesitas juga bisa disebabkan oleh tekanan jiwa, lingkungan, ataupun masyarakat.

Kegamangan jiwa juga kadang menimbulkan gangguan pencernaan. Puasa disertai ibadah lain, seperti zikir, membaca Al Qur’an dapat menjauhkan diri dari ketegangan, jiwa dan pikiran menjadi tenang. Puasa mampu mengekang nafsu serta mengarahkan energi tubuh dan pikiran kepada sesuatu yang positif dan bermanfaat.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ada juga pakar menyebutkan bahwa puasa mencegah terbentuknya batu ginjal di dalam tubuh. Kadar sodium dalam darah meningkat pada saat berpuasa sehingga hal ini dapat mencegah pengkristalan garam kalsium. Puasa juga dapat menambah albumin pada air seni yang berfungsi menghilangkan pengendapan garam. Pengendapan garam inilah yang nantinya dapat terbentuk menjadi batu pada saluran kemih.

Selain itu, puasa dapat menghindarkan dari bahaya racun yang menumpuk dalam sel-sel tubuh dan jaringan-jaringannya. Racun ini menumpuk akibat konsumsi makanan selama 1 tahun penuh tanpa puasa, terlebih makanan yang diawetkan dan makanan kemasan. Selain itu, racun tersebut juga berasal dari obat-obatan atau udara yang tercemar saat bernafas.

Kemuliaan berpuasa mendorong setiap hamba untuk menahan dan mengendalikan hawa nafsu kebinatangannya. Dalam diri manusia ada 2 potensi, potensi nasut (potensi binatang) dan potensi lahut (potensi ketuhanan). 30 hari lamanya berpuasa lalu dilanjutkan dengan puasa syawal 6 hari plus puasa senin dan kamis yang konsisten.

Keseluruhannya akan melahirkan manusia yang beremosi dan berjiwa lawwamah. Sebuah emosi yang mampu mengendalikan kecintaan duniawinya menuju kepada kesejatian diri yang dekat dengan penciptanya, tidak diperhamba oleh angan-angan duniawi kecuali harapan penghambaan dirinya kepada Tuhan semata. Nafsu dan emosi lawwamah bagi shaimun-shaimaat menjadi harapan tattaqun (agar kalian bertaqwa kepadaNya).

Puasa tidak mengenal agama, suku, kebudayaan, dan etnis. Puasa adalah panggilan kemanusiaan untuk sehat, sabar, berkehidupan sosial, dan berkepribadian. Andaikan ada orang yang tidak meyakini puasa maka sebenarnya ia pun telah mengusahakan dirinya utuk berpuasa minimal ia mengatur pola makannya karena panggilannya untuk sehat.

Bagi umat Islam yang berpuasa telah mendapatkan kelipatan keuntungan atau pahala. Pada satu sisi terpelihara tubuhnya untuk makin sehat, di sisi lain akan mendapatkan pahala dari sisi-Nya. Wallahu a’lam bishshawab.

basnang ISNU

Oleh: Basnang Said

(Wakil Sekretaris PP ISNU 2018-2023)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya