MUI: Pelaksanaan Zakat Harus Perhatikan Protokol Kesehatan

Rizka Diputra, Jurnalis · Senin 18 Mei 2020 22:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 18 614 2216153 mui-pelaksanaan-zakat-harus-perhatikan-protokol-kesehatan-ln5ft73uco.JPG Sekretaris Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh (Foto: BNPB)

ZAKAT fitrah merupakan perkara wajib bagi setiap muslim yang memiliki kecukupan harta dan memenuhi syarat lainnya. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, selain menyucikan harta, zakat juga digunakan untuk menyucikan jiwa bagi umat Islam yang berpuasa selama bulan suci Ramadhan.

"Zakat fitrah diwajibkan untuk kepentingan konsumtif untuk kepentingan mensucikan jiwa bagi orang yang berpuasa dan juga tho’matan lil masakin, memberi makan bagi orang yang miskin,” terang Asrorun dalam konferensi pers yang disiarkan via live streaming melalui channel YouTube BNPB, Senin (18/5/2020).

Adapun waktu pelaksanaan zakat lanjut Asrorun, tidak terikat waktu, fleksibel dan bisa kapan saja. Sejak awal Ramadhan sampai menjelang salat Idul Fitri.

Namun, dalam kondisi di tengah pandemi corona, dia mengimbau umat Islam dapat segera melaksanakannya sesegera mungkin, sebelum malam Idul Fitri tiba.

Baca juga: 11 Macam Pahala untuk Orang yang Membayar Zakat Fitrah

Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan orang, sehingga anjuran protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona dengan menjaga jarak aman dapat tetap diterapkan.

“Untuk kepentingan itulah, kami mengimbau kepada masyarakat muslim untuk segera menunaikan zakat fitrah, tanpa harus menunggu malam Idul Fitri tiba.

Ilustrasi

Ini setidaknya memiliki dua hikmah, yang pertama, agar manfaat zakat bisa segera diterima mustahik yang membutuhkan, dan yang kedua agar tidak terjadi penumpukan orang dan barang di satu waktu, sehingga potensial terjadinya penularan,” jelas Asrorun.

Lebih lanjut dia mengimbau kepada para amil zakat, LAZ, BAZ untuk proaktif dalam mensosialisasikan teknik kewajiban membayar zakat dengan senantiasa memertimbangkan, serta memperhatikan protokol kesehatan.

Baca juga: Hukum Membayar Zakat Secara Online

Selain itu, ia meminta agar seluruh amil juga memfasilitasi cara pembayaran berbasis digital, serta meminimalisir interaksi secara fisik. Dalam hal ini, pembayaran zakat tidak harus bertemu secara fisik. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam keterangan fikih.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Menunaikan zakat kata dia, tidak harus ada ijab qobul atau secara fisik bertemu. Para amil juga diimbau lebih kreatif melakukan diagnosis atas kebutuhan riil yang dihadapi oleh mustahik atau penerima zakat, dengan harapan harta zakat yang diberikan kepada mustahik, dapat menjadi solusi yang substantif atas masalah yang dihadapinya.

"Bisa untuk mengatasi masalah kesehatannya, jika mustahik atau penerima zakat sedang terbaring sakit, baik terkena Covid, maupun sakit yang lain, masalah kebutuhan pokoknya, dan juga masalah ekonominya,” papar dia.

Asrorun menambahkan, kebutuhan penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya yang jika tidak mungkin dipenuhi melalui harta zakat, maka masih bisa memperolehnya melalui instrumen keagamaan lain, seperti infaq shodaqoh, maupun jenis sumbangan lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya