MUI: Zakat Boleh Dimanfaatkan untuk Penanganan Covid-19

Rizka Diputra, Jurnalis · Senin 18 Mei 2020 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 18 614 2216046 mui-zakat-boleh-dimanfaatkan-untuk-penanganan-covid-19-M0lnPiGNvN.JPG Sekretaris Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh (Foto: YouTube BNPB)

WABAH virus corona (Covid-19) tak dipungkiri telah berdampak multidimensi terhadap pranata kehidupan sosial masyarakat. Tak hanya dari aspek kesehatan, sosial, ekonomi juga mempengaruhi perilaku hidup masyarakat berbangsa dan bernegara.

Memasuki penghujung bulan suci Ramadhan, umat Islam diwajibkan membayar zakat, meski di tengah pandemi corona.

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh menyatakan, zakat sangat boleh digunakan untuk membantu penanganan pandemi corona.

Baca juga: Ini Panduan Takbiran Idul Fitri Berdasarkan Fatwa MUI

"Zakat boleh dimanfaatkan untuk kepentingan penanggulangan Covid-19 dan dampaknya, dengan ketentuan-ketentuan tentunya," ucap Asrorun dalam konferensi pers di Graha BNPB Jakarta, yang disiarkan melalui live streaming di channel YouTube BNPB, Senin (18/5/2020).

Menurut dia, penanganan wabah Covid-19 harus jadi komitmen komitmen bersama sebagai bangsa. Seluruh elemen harus bergerak mengerahkan segala kemampuan secara kolektif dan masif.

Ilustrasi

"Distribusi (zakat) boleh dalam bentuk modal kerja, bahan makanan pokok, keperluan pengobatan, atau hal yang sangat dibutuhkan oleh mustahik. Pemanfaatan harta zakat juga boleh bersifat produktif untuk stimulasi ekonomi masyarakat terdampak wabah," tuturnya.

Baca juga: MUI: Fatwa Takbir dan Sholat Id untuk Menjawab Pertanyaan Masyarakat

Mengenai jenisnya, Asrorun mengatakan zakat terbagi dua yaitu zakat fitrah dan zakat mal (harta). Khusus untuk zakat mal kata dia, boleh disalurkan lebih cepat sebelum pelaksanaan Idul Fitri, apabila telah mencapai nishab. Hal tersebut bertujuan agar lebih cepat diterima mustahik.

"Sedangkan zakat fitrah diwajibkan kepada setiap muslim yang memiliki kecukupan kebutuhan pokok pada akhir Ramadhan.

Yang didasarkan kepada jiwa, zakat fitrah diwajibkan untuk kepentingan konsumtif, untuk kepentingan mensucikan jiwa bagi orang yang berpuasa. Waktunya pun fleksibel mulai awal Ramadhan hingga menjelang pelaksanaan sholat id," terang Asrorun.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dia pun mengimbau para badan amil zakat agar lebih proaktif mensosialisasikan teknik membayar zakat, dengan senantiasa mempertimbangkan protokol kesehatan, serta memfasilitasi pembayaran berbasis digital dengan tujuan mencagah terjadinya kerumunan orang yang berpotensi membuka celah penularan Covid-19.

"Pembayaran zakat tidak harus ketemu fisik. Di dalam keterangan fikih tidak harus ada ijab kabul secara fisik bertmu. Amil perlu kraetif memberi diagnosis atas kebutuhan riil yang dihadapi mustahik dengan harapan harta zakat itu dapat jadi solusi substantif atas masalah yang dihadapi," pungkasnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya telah mengeluarkan Fatwa Nomor 23 tahun 2020 tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan dampaknya.

Fatwa tersebut ditetapkan di Jakarta saat rapat pleno Komisi Fatwa pada 22 Sya’ban 1441 H/16 April 2020 M. Setelah melalui rangkaian finalisasi dan disetujui Ketua Komisi Fatwa MUI dan Dewan Pimpinan MUI resmi dikeluarkan pada Kamis 23 April 2020.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya