Share

Heboh Habib Bahar bin Smith, Apa Beda Habib, Syarif dan Syarifah?

Rizka Diputra, Jurnalis · Rabu 20 Mei 2020 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 20 614 2217026 heboh-habib-bahar-bin-smith-apa-beda-habib-syarif-dan-syarifah-O1GuyaZrAL.JPG Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar bin Smith (Foto: YouTube)

HABIB Bahar bin Smith kembali jadi sorotan publik usai kembali ditahan karena dianggap melanggar aturan asimilasi padahal baru saja menghirup udara bebas dari Lapas Kelas IIA Pondok Rajeg, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat beberapa hari lalu.

Istilah 'habib' lantas ramai diperdebatkan, ikhwal siapa sebenarnya yang layak dipanggil dengan sebutan habib? Benarkah mereka yang dipanggil habib/sayyid atau syarif benar-benar masih memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW? Lalu, apa perbedaan sebutan habib/sayyid, syarif atau syarifah itu?

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar bin Smith menjelaskan, jika diuraikan secara detil mengenai asal mula kata habib/sayyid maupun syarif dan syarifah akan panjang. Namun, perlu diketahui bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW kata dia, berasal dari cucu beliau yang merupakan putra-putra Sayyidatina Fatimah Azzahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein.

"Keturunan Nabi ini diturunkan dari Sayyidatina Fatimah Azzahra berdasarkan hadits Rasulullah SAW. Keturunan Sayyidina Hasan umumnya disebut syarif dan keturunan Sayyidina Husein disebut sayyid. Itu merupakan panggilan umum," ucap Habib Zen saat berbincang dengan Okezone di Jakarta, Rabu (20/5/2020).

Habib Bahar bin Smith

Habib Zen menjelaskan, sejak abad ketiga sampai abad ketujuh Hijriyah, keturunan dari keduanya selalu dipanggil "Imam" lantaran ketokohannya dalam bidang agama. Seperti misalnya Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berhijrah dari Irak ke Hadhramaut, Yaman. Sampai pada masa Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'alawy yang dikenal dengan sebutan Al-Ustadhul A'dham (Guru Agung ).

"Keturunan beliau, dan keturunan Alwi Ammul Faqih (pamannya), sampai kepada Imam Abdurrahman Assegaf. Generasi berikutnya dipanggil 'Syaikh' yang artinya guru, seperti Syaikh Abubakar bin Salim (Mawla Inat), seorang wali besar di zamannya. Setelah era tersebut barulah mulai ada panggilan 'Habib' yang diawali oleh Al-Habib Umar bin Abdurahman Al-Atthas, dan lainnya," tutur Habib Zen.

Baca juga: Para Sufi Timur Tengah Sebut Rabithah Alawiyah Indonesia Catat Nasab Nabi Paling Rapi!

Habib Zen menambahkan, para habaib ini kebanyakan adalah ulama dan auliya yang berkepribadian luhur dan menjadi tokoh rujukan keilmuan. Sebutan 'Habib' yang artinya dicintai kepada mereka karena para habaib ini memang begitu dicintai para muridnya dan juga masyarakat sekitarnya.

"Jadi bukan beliau-beliau itu yang menamakan dirinya habib untuk diri mereka sendiri, tetapi lingkungan yang mencintainya. Khusus di Indonesia panggilan itu menjadi populer dari generasi ke generasi sampai kini. Hanya saja terjadi pergeseran makna," kata dia.

Habaib

Di mana panggilan Habib lanjut dia, disematkan kepada seorang sayyid (jika perempuan syarifah) dan menjadi panggilan keseharian, bukan lagi untuk panggilan ulama yang berilmu dan menjadi tokoh yang dicintai, dan berakhlak mulia. Intinya terjadi degradasi makna.

Sehingga, mungkin ada seorang yang berasal dari keturunan tersebut di atas, tetapi bukan ahli ilmu atau tokoh yang dituakan atau dihormati, berarti dia seorang sayyid, dan belum sampai pada tingkatan seorang Habib yang betul-betul dicintai masyarakat.

Baca juga: Anjuran Mencintai Ahlul Bait Rasulullah

"Sedangkan sebutan syarif dari keturunan Sayyidina Hasan sampai saat ini populer di negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara dan belahan dunia yang lain. Kebenaran silsilah dari keturunan ini dicatat di lembaga-lembaga nasab yang ada di banyak negara," tuturnya.

Adapun di Indonesia kata Zen, silsilah nasab para habaib itu bisa dilihat di Al-Maktab Addaimi, Rabithah Alawiyah.

"Belakangan, beberapa pihak yang ingin membuktikan secara ilmiah biasanya melakukan tes DNA di luar negeri seperti Jerman dan Italia, yang menghasilkan banyak data tentang jalur kesamaan etnik dari keturunan di atas yang terbukti sama, walaupun berasal dari berbagai negara," tuntasnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Hal senada disampaikan da'i muda NU, Habib Ahmad bin Hasan Alaydrus. Menurutnya, sejarah mencatat, bahwa satu-satunya putri Nabi Muhammad SAW yang memiliki keturunan adalah Sayyidah Fatimah Azzahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan keduanya, lahirlah dua orang putera yang bernama Hasan dan Husein.

"Keturunan Hasan dan Husein inilah yang hingga saat ini masih membawa trah keturunan Fatimah binti Muhammad SAW dan disebut sebagai dzurriyyah (anak keturunan) Nabi Muhammad SAW atau yang sering juga disebut dengan istilah Bani `Alawiyyin (nisbat dari kata Ali) yang berarti keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib," terang Ahmad Alaydrus kepada Okezone, terpisah.

Pengasuh Majelis Taklim Al-Murtadha ini menjelaskan, beberapa kalangan muslim sering juga menggunakan istilah sayyid (tuan) dan syarif (yang mulia) sebagai gelar kehormatan yang diberikan kepada orang-orang yang masih memiliki garis keturunan Rasulullah SAW melalui cucu beliau Hasan dan Husein. Sedangkan untuk keturunan yang wanita mendapat gelar sayyidah atau syarifah.

Ilustrasi

"Sebutan sayyid/sayyidah sering digunakan oleh keturunan Husein bin Ali sedangkan syarif/syarifah disematkan bagi keturunan Hasan bin Ali. Menurut catatan sejarah, di Indonesia, para keturunan Nabi Muhammad SAW ini banyak berasal dari Husein bin Ali, oleh karenanya banyak yang disebut dengan sayyid," papar Ahmad.

Sementara untuk keturunan Hasan bin Ali lanjut Ahmad, kebanyakan menjadi raja-raja seperti di Maroko, Jordania dan kawasan Timur Tengah lainnya.

Baca juga: Benarkah Walisongo Keturunan Putri Rasulullah?

Habaib

Untuk menjaga kemurnian garis keturunan nabi yang tersebar di belahan dunia dibentuklah sebuah organisasi dari kalangan Bani Alawiyyin yang memiliki tugas mencatat para dzurriyyah, seperti halnya lembaga Rabithah Alawiyyah, di mana untuk wilayah Indonesia saat ini diketuai oleh Habib Zen Umar bin Smith.

"Terdapat fenomena sosial yang tersebar luas di kalangan masyarakat selama ini terkait penyematan kata habib (habaib) kepada setiap dzurriyyah nabi, baik sayyid atau syarif. Biasanya, sebagian masyarakat menyebut para dzurriyyah yang masih anak-anak dengan sebutan yik, syarif, sayyid, dan akan memberikan gelar 'habib' kepada mereka pada saat usianya menginjak dewasa," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini