Tentang Sungkeman Online di Masa Pandemi Corona

Minggu 24 Mei 2020 00:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 23 330 2218447 tentang-sungkeman-online-di-masa-pandemi-corona-yJ8LJrwKem.jpg Ilustrasi sungkeman seorang anak kepada ibunya (Foto: Bramantyo/Okezone)

Tahun 2020 adalah tahun yang penuh kejutan. Ada sederet fakta yang mencuri perhatian banyak orang, mulai dari meninggalnya orang-orang baik seperti Kobe Bryant (pebasket NBA), KH Shalahudin Wahid (Gus Sholah) Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, musisi kenamaan Glen Fredly, hingga yang paling terbaru adalah Lord of the broken heart, Didi Kempot.

Kejutan berikutnya adalah munculnya pandemi global Covid-19 yang telah menggemparkan umat manusia di muka bumi. Virus yang disinyalir berasal dari kelelawar itu sontak mengubah semua tatanan dunia.

Data per Sabtu (23/5/2020) tercatat ada lebih dari 5.3 juta orang di dunia terinfeksi Covid-19 dan 340 ribu orang telah kehilangan nyawa akibat tidak bisa menaklukkan virus tersebut.

Di Indonesia juga tak kalah genting, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 per Jumat 22 Mei telah menginformasikan ada 20.796 terinfeksi, kematian sebanyak 1.326 orang dan pasien yang berhasil sembuh menyentuh 5.057 pasien. Saat ini ada 229 negara di belahan dunia yang sedang berjuang melawan Covid-19, termasuk negara kita Indonesia.

Berbagai negara di dunia telah berupaya segigih mungkin memerangi pandemik global ini, termasuk di Indonesia. Segudang kebijakan dipersiapkan salah satunya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Masyarakat diminta untuk senantiasa menerapkan physical distancing, wajib menggunakan masker, membiasakan cuci tangan dan juga meniadaka berbagai kegiatan yang menimbulkan kerumunan.

(Baca Juga : Tawadhu Pangkal Kemenangan)

Umat Islam yang biasanya menyambut Ramadhan dengan penuh kemeriahan dan suka cita kini harus diekspresikan hanya di rumah saja bersama keluarga inti. Masjid-masjid yang biasanya dipenuhi jamaah tarawih kini tampak sepi, sayup-sayup tadarus Alquran yang biasa terdengar di lorong-lorong mushola kini jarang terdengar. Semua beralih di rumah saja.

Pada masa lebaran Hari Raya Idul Fitri, kebijakan pemerintah dalam upaya menangani Covid-19 yang paling dirasakan oleh umat Islam di Indonesia adalah larangan mudik. Larangan mudik ini benar-benar mengubah tatanan sosial kemasyarakatan.

Sebagian besar umat Islam di Indonesia menjalani tradisi “wajib” saat lebaran, yakni pulang kampung untuk melakukan sungkem terhadap orang tua mereka. Melebur rasa kangen dengan memohon maaf kepada orang tua. Sebagian besar umat muslim di Indonesia akan merasa belum lengkap ibadahnya apabila saat lebaran belum menjalani aktivitas sungkem pada orang tua.

(Baca Juga : Ini yang Dilakukan Iblis di Hari Raya Idul Fitri)

Puncak dari pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan akan berujung pada Hari Raya Idul fitri. Hari dimana sering kali dimaknai sebagai hari kemenangan oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Umat Islam merasa bahagia bercampur haru setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa sebagai simbol untuk memerangi hawa nafsu, baik menahan lapar dan berbagai larangan lainnya.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, jelang Hari Raya Idul Fitri tiba, masyarakat akan berbondong-bondong untuk mudik ke kampung halaman. Biasanya disebut dengan istilah mudik, ada yang mengatakan mudik ini berasal dari istilah “mulih dhisik” atau “pulang dulu” dengan tujuan untuk bersua dengan orang tua dan sanak famili.

(Baca Juga : Hukum Sholat Idul Fitri di Rumah)

Pulang untuk menjenguk orang tua di kampung ini tidak hanya sekadar bertemu. Seorang anak melepaskan rindu yang begitu dalam pada orangtua dan leluhurnya di kampung halaman, menumpahkan seluruh keluh kesah. Seorang anak kemudian bersimpuh memohon maaf pada kedua orang tua. Orang Jawa biasa menyebut ini dengan istilah “Sungkeman”.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sungkeman merupakan proses spiritual sang anak seolah menyerahkan sepenuh jiwa raga demi mendapatkan keikhlasan restu untuk mengarungi lautan kehidupan. Hanya dengan bekal keridhoan orang tua itulah si anak meyakini menjadikan bekal kita untuk keselamatan dunia akhirat.

Seperti syair yang dikarang oleh Bang Haji Rhoma Irama “Tiada keramat di dunia yang ampuh di dunia, selain dari doa ibumu jua”. Sepotong lirik dari lagu “Keramat” yang sarat akan nilai filosofis. Maka tidak heran jika di kalangan pesantren ibu ini seringkali diibaratkan sebagai “jimat” yang harus dijaga jika kita ingin selamat di dunia maupun di akhirat.

Sungkeman ini bisa dimaknai sebagai suatu ritual peleburan atau pengakuan dosa kepada kedua orangtua, terkhusus kepada ibu. Bagi saya pribadi sungkeman di hari raya idul fitri memiliki banyak dimensi yang bisa ditafsirkan.

Pertama, sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada orang tua yang telah ikhlas merawat dan mendidik kita hingga dewasa. Jasa itu tak mungkin bisa terbayar dengan apapun dan sampai kapanpun. Kedua sebagai upaya mencari keridhoan orang tua, sebagai mana Islam mengajarkan bahwa ridho Allah Subhanahu wata’ala ada pada ridho orang tua.

Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata, Rosulullah Saw. bersabda: “Keridhoan Allah itu di dalam keridhoan orang tua dan kemarahan Allah itu di dalam kemarahan kedua orang tua.” (HR. al-Tirmidzi).

Islam sendiri menganjurkan kepada setiap umat Islam yang beriman agar senantiasa baik budinya, termasuk berbudi luhur pada orang tuanya. Rasulullah bersabda: Berbudilah dengan akhlak yang baik kepada sesama (HR. Al Tirmidzi). Sayyidina Alli juga mengajarkan "Beretika yang baik adalah mengikuti tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan (Syeikh Nawawi al bantani, Syarh Sullam Taufiq, halaman.61.).

Masih banyak basis rujukan fikih dari tradisi Sungkeman yang kerap dilakukan saat Bulan Syawal tiba. Sayang bagi anak rantau yang berada di luar kota tradisi sungkeman pada tahun 2020 ini, tidak akan terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak bisa duduk bersimpuh di hadapan ibu lantaran sebagai anak rantau harus mengurungkan niat mudik demi kebaikan bersama.

Saya meyakini, setiap anak akan tetap menjalankan sungkeman, meskipun dengan saluran media online. Banyak cara yang bisa dilaukan melebur dosa memaafkan khilaf, menjemput ridho Allah yang ada dalam kebahagiaan batin orang tua kita.

Seiring berkembangnya zaman, kendala proses permohonan maaf yang biasanya dilakukan dengan bersimpuh, kali ini karena imbas Covid-19, kita semua melakukan ikrar saling melebur khilaf dengan video call. Jika biasanya saat sungkeman langsung bercucur air mata, kali ini mungkin kita akan meneteskan air mata dengan jarak yang terpaut jauh.

Kita semua mahfum hal ini sangat sulit dan menyesakkan dada. Tapi dengan keyakinan Iman bahwa ada rahasia Allah atas penciptaan makhluk yang maha kecil Corona akan memberikan suatu hikmah pembelajaran hidup yang akan bermanfaat untuk kelangsungan makhluk hidup di muka bumi ini.

Harus diakui, rasanya pasti akan sangat berbeda, namun inilah pilihan terbaik yang bisa dilakukan seraya kita berdoa supaya kondisi bisa lekas membaik. Kondisi tanpa ada pandemi Covid-19 yang telah mengubah sistem kehidupan bermasyarakat dan budaya kita. Wallahu’alam bishhowab.

Agus Fuad Santri PMII

Oleh : Agus Fuad

Penulis asal Jombang. Pernah mengenyam pendidikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Lulusan Universitas Indonesia. Semasa kuliah aktif di beberapa kegiatan seperti riset, sosial dan aktivis mahasiswa. Pernah menjabat Ketua BEM FIB UI 2016. Saat ini menjabat sebagai Wasekjen PB PMII. Selain itu juga aktif dibidang gerakan santri usahawan dengan mendirikan prototipe bisnis Kopi Abah

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya