Meraih Predikat Lulus Bulan Puasa

Minggu 24 Mei 2020 00:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 23 330 2218683 meraih-predikat-lulus-bulan-puasa-thvxxHjXLg.jpg

Usai sudah Ramadhan 1441 H menyapa kita semua, genap 30 hari kita puasa, menjalankan salah satu perintah Allah SWT yang menjadi fondasi agama selain syahadat, sholat, zakat, dan naik haji bagi yang mampu melaksanakannya. Bulan yang penuh kasih sayang dan ampunan Allah SWT akan menghampiri kita lagi setahun yang akan datang.

Secara lughowi atau bahasa, arti dari puasa adalah menahan, adapun secara syara’ atau fiqh puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar shodiq sampai terbenamnya matahari, yakni menahan diri untuk lapar dan dahaga, menahan untuk tidak berbuat maksiat, menahan untuk tidak melakukan perbuatan menyakiti orang lain bahkan menahan supaya tidak berhubungan suami istri di siang hari, dan yang paling penting menahan diri supaya selalu taat kepada Sang Pemberi Kehidupan.

Bulan puasa bisa diibaratkan sebagai tempat pengkaderan dan tempat penempaan diri supaya manusia memperbaiki diri, ada yang sungguh-sungguh mengikuti proses kaderisasi ini adapula yang kurang serius menjalaninya sebab sekedar menjalani perintah semata.

Bagi yang serius menjalaninya tentu akan sangat kehilangan bulan penuh berkah ini. Disisi lain bagi golongan kedua, berakhirnya bulan ini bagai anak ayam yang dilepaskan dari kurungannya, merasakan kebebasan seperti hari-hari biasanya.

Mengikuti apa yang dinasihatkan oleh Imam Ghazali, Ada empat hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi hari-hari untuk menjaga ketaatan kita kepada Allah SWT.

Pertama, menyibukkan diri kita dengan menuntut ilmu, lebih-lebih ilmu yang berkaitan dengan agama kita, seperti ilmu fiqh untuk mengetahui hukum-hukum Islam, ilmu tajwid untuk mengetahui tata cara membaca Alqur’an dengan benar.

Ilmu tafsir untuk memahami Alqur’an dengan benar serta ilmu hadits supaya kita benar-benar memahami hadits Nabi, hal pertama inilah yang sebenarnya banyak kita lakukan selama bulan puasa, banyak sekali kajian-kajian agama yang telah kita ikuti dan dengarkan meskipun secara daring akibat adanya pandemic Covid-19, bahkan Pesantren-Pesantren di Indonesia selalu menyelenggarakan ngaji pasan yakni mengkaji banyak kitab selama bulan puasa. Menuntut ilmu ini harus kita niati tiada lain hanya untuk meraih ridha Allah SWT dan memperbaiki kualitas ibadah kita.

Kedua, selalu beribadah kepada Allah SWT dengan memperbanyak sholat, berdzikir dan membaca Alquran, ini pula telah kita latih secara serius selama sebulan ini, dengan melakukan sholat taraweh dan tadarus, banyak sekali grup-grup whatssapp yang membuat khataman harian serta melakukan berbagai dzikir tambahan yang terkadang tidak kita lakukan diluar bulan puasa. Sebagaimana disebutkan dalam dalam Alquran Surat Ar-Ra’du ayat 28 bahwa berdzikir kepada Allah bisa menenangkan hati kita.

Ketiga, bersosialisasi dengan baik terhadap umat manusia, semisal dengan berkumpul dengan orang-orang saleh dan bersedekah bagi yang membutuhkan, inipula yang kita lihat banyak dilakukan dibulan puasa, banyak sekali orang yang membagi takjil di jalan atau memberi paket sembako bagi kaum papa terlebih puasa kali ini bersamaan dengan datangnya musibah wabah Covid-19.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dengan derajat Hadits Shahih Rasulullah SAW bersabda “(seseorang) tidak bisa disebut sebagai orang yang beriman (secara sempurna) jika dirinya kenyang akan tetapi tetangganya kelaparan”.

Keempat, Bekerja demi mencukupi kebutuhan rumah tangga kita dan sebagai bekal untuk beribadah kepada Allah SWT, bagi umat Islam, bekerja bukan sekedar untuk memebuhi kebutuhan akan tetapi juga merupakan kewajiban supaya kita bisa tenang beribadah kepada Sang Pencipta.

Empat hal diatas merupakan kombinasi amal perbuatan yang harus kita lakukan selepas bulan puasa ini berakhir supaya tidak ada celah waktu kita untuk berbuat durhaka kepada Allah SWT, kita tidak hanya sibuk bekerja, namun juga sibuk beribadah, menuntut ilmu dan bersosialisasi dengan orang lain secara baik, begitu saja terus menerus.

Apabila empat hal tersebut secara komplit kita lakukan tanpa jeda, maka tujuan diwajibkannya puasa atas kita semua menjadi tercapai, yakni menjadi insan yang bertaqwa kepada Allah SWT sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Albaqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Jika puasa ini membuat kita semakin bertaqwa maka berarti kita lulus menjalani proses kaderisasi yang diperintahkan oleh-Nya.

Semoga kita berjumpa dengan Ramadhan selanjutnya, amien.

Parameter puasa sejati

Oleh: Hadiqun Nuha

(Alumni Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien, Ngunut Tulungagung/Ketua Bidang Keagamaan dan Pluralisme DKN Garda Bangsa)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini