Doa Selamat dari Wabah Penyakit, Termasuk Virus Corona

Hantoro, Jurnalis · Rabu 27 Mei 2020 14:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 27 618 2220345 doa-selamat-dari-wabah-penyakit-termasuk-virus-corona-Zn3yeahn25.jpg Ilustrasi doa. (Foto: Shutterstock)

CORONA virus disease atau covid-19 melanda hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Berbagai cara dilakukan untuk menanggulangi wabah penyakit ini. Pemerintah pun memberikan sejumlah imbauan kepada masyarakat agar terhindar dari virus corona, baik secara fisik maupun nonfisik.

Secara fisik bisa berupa menjaga jarak di antara sesama (social and physycal distancing), sering-sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, hindari menyentuh mata dan hidung, selalu mengenakan masker, segera ganti pakaian dan mandi sepulang dari bepergian, hingga sering membersihkan benda-benda yang sering disentuh.

Sementara penanggulangan secara nonfisik, sebagai seorang Muslim, yakni menempuh jalur syari, tentunya harus bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa ta'ala dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang sahih.

Mengutip dari Rumaysho, Rabu (27/5/2020), terdapat doa untuk berlindung dari penyakit menular dan setiap penyakit jelek:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ

Alloohumma innii ‘auudzu bika minal baroshi wal junuuni wal judzaami wa min sayyi-il asqoom.

Artinya: "Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan dari segala keburukan segala macam penyakit." (HR Abu Daud Nomor 1.554; Ahmad, 3: 192, dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)

Ilustrasi doa. (Foto: Shutterstock)

Sementara Syaikh Dr Shalih bin Abdullah al Ushaimi hafizhahullah, ulama besar dan pengajar tetap di Masjidil Haram serta Masjid Nabawi Arab Saudi, dalam buku ‘Ushul Sittah fil Iftiqar ilallah fisy Syiddah’ atau 'Enam kaidah dalam mewujudkan perasaan fakir/butuh kepada Allah dalam kondisi musibah yang sangat berat', menyatakan ada kaidah yang diajarkan Islam ketika tertimpa kesulitan dan musibah wabah penyakit semacam virus corona ini.

Berikut pemaparannya, seperti dinukil dari Muslim.or.id:

Kaidah pertama. Setiap Muslim harus meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala telah menakdirkan segala sesuatu. Allah berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Artinya: "Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan sebenar-benarnya." (QS Al Furqan: 2)

Maka itu, kita mengimani takdir Allah ini dan menghadapi musibah yang menimpa dengan kesabaran.

Kaidah kedua. Umat Islam wajib menyempurnakan tawakal kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Katakanlah; Tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Allah menimpa kami, Dia-lah penolong bagi kami. Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." (QS At Taubah: 51)

Kaidah ketiga. Umat Islam harus kembali kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan bertaubat kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: "Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali/bertaubat." (QS Ar-Rum: 41)

Kaidah keempat. Kaum Muslimin wajib menempuh sebab-sebab (upaya nyata) untuk menghindar dari wabah.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Artinya: "Dan janganlah kalian dengan sengaja menjerumuskan diri kalian menuju kebinasaan." (QS Al Baqarah: 195)

Misalnya dengan tidak mendatangi tempat-tempat yang terkena wabah dan melakukan upaya-upaya fisik (secara medis) untuk terhindar atau selamat dari wabah atau penyakit tersebut.

Kaidah kelima. Bersungguh-sungguh mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah penyakit ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya.

Kemudian harus menjauhi berbagai berita yang tidak jelas kebenarannya (kabar burung). Hendaknya mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya dan tidak menerima informasi yang tidak jelas hingga akhirnya justru merugikan orang banyak.

Kaidah keenam. Terus bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala karena doa merupakan intisari dari ibadah. Contohnya dengan ucapan doa, "Ya Allah, singkirkanlah dari kami wabah ini." Bisa juga dengan doa-doa serupa.

Para ulama juga telah menyampaikan anjuran untuk banyak-banyak berdoa agar wabah ini diangkat dan disingkirkan, bahkan hal tersebut telah tertulis dalam kitab-kitab hadis sejak ratusan tahun lalu.

Ilustrasi doa. (Foto: Istimewa)

Bisa juga dengan membaca doa-doa secara khusus seperti ini:

- Membaca Surah Al Falaq dan An-Naas.

- Membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya."

- Rutin membaca zikir pagi-petang, misalnya:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

Artinya: "Dengan nama Allah yang apabila disebut, tidak akan berbahaya segala sesuatu yang ada di bumi maupun di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Zikir ini dibaca sebanyak tiga kali setiap pagi (habis Subuh) dan sore (habis Asar).

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini