Kaidah kelima. Bersungguh-sungguh mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah penyakit ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya.
Kemudian harus menjauhi berbagai berita yang tidak jelas kebenarannya (kabar burung). Hendaknya mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya dan tidak menerima informasi yang tidak jelas hingga akhirnya justru merugikan orang banyak.
Kaidah keenam. Terus bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala karena doa merupakan intisari dari ibadah. Contohnya dengan ucapan doa, "Ya Allah, singkirkanlah dari kami wabah ini." Bisa juga dengan doa-doa serupa.
Para ulama juga telah menyampaikan anjuran untuk banyak-banyak berdoa agar wabah ini diangkat dan disingkirkan, bahkan hal tersebut telah tertulis dalam kitab-kitab hadis sejak ratusan tahun lalu.

Bisa juga dengan membaca doa-doa secara khusus seperti ini:
- Membaca Surah Al Falaq dan An-Naas.
- Membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ
Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya."
- Rutin membaca zikir pagi-petang, misalnya:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.
Artinya: "Dengan nama Allah yang apabila disebut, tidak akan berbahaya segala sesuatu yang ada di bumi maupun di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Zikir ini dibaca sebanyak tiga kali setiap pagi (habis Subuh) dan sore (habis Asar).
(Hantoro)