Alasan Disunnahkan Menikah di Bulan Syawal

Sabtu 30 Mei 2020 01:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 29 616 2221814 alasan-disunnahkan-menikah-di-bulan-syawal-aW7u07AC1W.jpg

وَمِن أيَاتِهِ أَن خَلَقَ لَكُم مِن أَنفُسِكُم أَزواجًا لِتَسكُنُوا إِلَيها وَجَعَلَ بَينَكُم مَوَدَّةً وَ رَحمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لأيَاتٍ لِقَومٍ يَتَفَكَّرُن

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dari dijadikannya kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21)

Ayat di atas merupakan sebuah dasar hukum tujuan melaksanakan pernikahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia cenderung memiliki hasrat dan keinginan untuk hidup berkelompok (homosocious) dan berdampingan satu sama lain. Salah satu implementasinya adalah dengan menikah.

Umumnya, manusia melaksanakan pernikahan dengan tujuan untuk memperoleh ketentraman dan ketenangan (sakinah), memadu cinta kasih (mawaddah wa rahmah) dan kebahagiaan bersama dalam mengarungi kehidupan yang begitu kompleks ini.

Pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan tentu akan memikirkan dan mempertimbangkan waktu terbaik untuk melaksanakan pernikahan. Ada yang disesuaikan dengan tanggal lahirnya. Ada juga yang masih kental dengan hitung-hitungan berdasarkan adat budaya dan kearifan lokal.

(Baca Juga : Tradisi Sungkem Lebaran Selebritis, Sesuai Syariat Islam?)

Di dalam Islam sendiri, bulan Syawal, di samping menjadi mulia karena di bulan ini kita merayakan Hari Raya Idul Fitri juga karena terdapat sebuah kesunnahan untuk melaksanakan pernikahan. Sayyidah Aisyah pernah suatu ketika meriwayatkan sebuah hadits:

عن عائشة رضي الله عنها قالت تزوجني رسول الله صلى الله عليه و سلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه و سلم كان أحظى عنده منى

“Sayyidah ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menikahiku dan mengadakan malam pertama pada bulan Syawal. Istri Rasulullah mana yang lebih bentuntung ketimbang diriku di sisi beliau?” (HR Muslim)

(Baca Juga : Viral Video Imam Sholat Idul Fitri Lari Tinggalkan Jamaah karena Didatangi Polisi)

Asbabul wurud adanya hadits ini adalah untuk menampik mitos masyarakat pada masa jahiliyah. Mereka meyakini bahwa bulan Syawwal merupakan bulan pantangan untuk melangsungkan pernikahan.

Kesunnahan menikah pada bulan Syawal sebagaimana termaktub dalam hadits di atas kemudian dikuatkan oleh Imam Nawawi. Beliau berkata:

فيه استحباب التزويج والتزوج والدخول في شوال وقد نص أصحابنا على استحبابه واستدلوا بهذا الحديث

“Hadits tersebut mengandung anjuran untuk menikahkah, menikahi, dan berhubungan suami-istri pada bulan Syawal. Para ulama syafi’iyah menjadikan hadits ini sebagai dalil terkait anjuran tersebut.”

(Baca Juga : 4 Nabi yang Dipercayai Masih Hidup Sampai saat Ini)

Lebih dari itu, ada hal yang lebih penting dan perlu untuk digaris bawahi dalam membangun bahtera rumah tangga. Pondasi yang harus dibangun dalam sebuah pernikahan adalah relasi yang saling menopang, saling bekerjasama, dan saling membantu satu sama lain. Bukan relasi yang menimbulkan hegemoni dan melahirkan kedzaliman.

Wallahu a’lam wa ahkam

Oleh: Agustini Nurur Rohmah

Penulis adalah Ketua Kopri PKC PMII DKI Jakarta, Pengurus Perkumpulan Alumni Maroko, Awardee Unusia International Student at Abdelmaleek University Morocco dan Alumni Pondok Pesantren Mazro’atul Ulum Lamongan

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini