Tausiyah: Musibah Covid-19 yang Menjadi Rahmat

Minggu 31 Mei 2020 00:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 30 330 2221833 tausiyah-musibah-covid-19-yang-menjadi-rahmat-xgTzi8uUQf.jpg

LEBARAN tahun ini memang terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun yang kemarin. Pasalnya, kita semua sekarang sedang dirundung musibah, yang bukan saja mengguncang ekonomi dunia, tetapi juga mengubah pola perilaku kita dalam berinteraksi sosial dan dalam melaksanakan kegiatan ritual keagamaan.

Jika tahun-tahun kemarin, kita bisa melaksanakan sholat Tarawih berjamaah ke masjid, takbir keliling, buka bersama dan kegiatan sosial-keagamaan yang melibatkan kerumunan massa, maka tahun ini rasanya kita harus bersabar untuk sementara, mengurangi kegiatan-kegiatan yang banyak melibatkan kerumunan massa.

Kita juga harus rela untuk tidak mudik sementara, bukan karena kita tidak cinta keluarga, tapi justru karena kita cinta kepada mereka, dan karena kita taat kepada aturan agama dan pemerintah, demi memutus dan mencegah penyebaran virus COVID-19.

Namun demikian, satu hal yang harus tetap kita syukuri bersama adalah bahwa kita telah dapat menyelesaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh. Bahkan kita masih diberikan kesehatan prima dan bisa berkumpul dengan anak-anak dan keluarga. Teriring harapan dan doa semoga Allah Swt berkenan meridhoi kita semua, menerima semua amal ibadah kita, dan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita.

Semoga ibadah puasa yang kita kerjakan selama bulan Ramadhan mampu memberikan nilai transformasi spiritual dan sosial.

(Baca Juga: Ketika Kening Bertakwa, Lidah Memfitnah)

Teguhkan nilai-nilai religiusitas dan solidaritas sosial di tengah wabah virus Corona ini. Mari kita terus menjaga istiqamah dalam ibadah dan berdoa kepada Allah SWT agar tetap diberikan kekuatan dan kesabaran menghadapi musibah ini. Berusaha menjadi lebih arif dan bijaksana, santun dalam bertutur kata dan berperilaku. Tidak mudah emosional dan tidak suka menebar ujaran kebencian kepada siapapun.

Itulah di antara ciri-ciri orang yang berhasil puasanya, yang dalam bahasa Alquran diungkapkan dengan frasa la `allakum tataqûn (Q.S. al-Baqarah [2]: 183). Oleh sebab itu, jangan dengan dalih demokrasi dan sikap kritis, lalu kita tak dapat mengendalikan diri, sehingga suka menebar berita dan ujaran kebencian di dunia medsos.

Berikan saran dan kritik yang konstruktif kepada pemerintah untuk menyelesaikan problem bangsa ini. Sampaikan dengan bahasa yang santun dan bijak. Namun di sisi lain, berikan apresiasi dan dukungan kepada pemerintah, yang telah bekerja keras menangani wabah COVID-19. Semoga wabah ini segera berlalu dan situasi bisa normal kembali.

(Baca Juga : 4 Nabi yang Dipercayai Masih Hidup Sampai saat Ini)

Ambil hikmah dari musibah ini. Sabar dan tabah, serta produktif bekerja dan beribadah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Biasakan pola hidup yang disiplin, cuci tangan, physical distancing, memakai masker jika ke luar rumah. Sebab semua itu bagian dari tuntunan agama dan cara menyempurnakan ikhtiar.

Meski aktivitas dan kegiatan memang menjadi lebih terbatas, karena adanya pandemi COVID-19, hal ini harus menjadi perhatian kita semua sebagai warga masyarakat yang baik. Tidak boleh ceroboh dan apalagi ‘sombong’ yang dibungkus dengan baju tawakal kepada Allah SWT.

Sekali lagi, teguhkan kembali sikap solidaritas sosial dengan bersedia berbagi, ikut membantu kesulitan saudara-saudara yang terkena dampak COVID-19. Konsep silaturahim bisa diubah polanya dengan memberikan santunan dan bantuan sembako kepada yang sangat memerlukan uluran tangan dan saling mendoakan.

Semoga musibah ini juga bisa menjadi rahmat, meski hal ini memerlukan kejernihan hati nurani. Agak sulit rasanya memahami musibah sebagai rahmat, kecuali orang-orang yang sudah mencapai maqam “mukmin plus” (baca muhsinîn).

Siapa muhsinin itu? Dalam Alquran dijelaskan, mereka adalah orang yang ahli mendermakan hartanya di jalan Allah SWT, mereka yang berinfak baik di saat senang maupun susah dan menahan amarahnya serta mau memberi maaf kepada orang lain, mereka yang beriman, beramal shalih dan bertakwa kepada Allah SWT (Q.S. Ali Imran 134).

Orang-orang shalih sering mendapat musibah dalam hidupnya, tetapi musibah tersebut pada hakikatnya merupakan rahmat Allah SWT. Sebab dengan begitu, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya dan atau meninggikan derajatnya di sisi-Nya.

(Baca Juga : Viral Video Imam Sholat Idul Fitri Lari Tinggalkan Jamaah karena Didatangi Polisi)

Musibah sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin, pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW ketika terjadi wabah penyakit tha`un atau lepra (untuk konteks sekarang virus Corona), hadis Shahih Bukhari sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي «أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ صحيح البخاري (4/ 175)

Dari Aisyah ra, istri Nabi Saw dia berkata, Saya bertanya kepada Rasulullah Saw tentang wabah penyakit tha`un (lepra). Maka beliau memberi kabar, bahwa wabah itu adalah azab yang dikirim Allah SWT untuk orang yang dikehendakiNya, namun Allah menjadikan wabah itu sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidaklah seseorang mau tetap tinggal di rumah (stay at home) –dengan tetap sabar dan ikhlas, sembari dia yakin bahwa wabah tersebut tidak akan menimpa seseorang kecuali yang sudah ditetapkan Allah Swt—kecuali baginya akan mendapat bahala seperti orang yang mati syahid. (HR al-Bukhari).

Di antara bentuk rahmat adalah nilai pahala kesabaran dan ampunan bagi mereka yang tabah menghadapi ujian dan musibah ini. Termasuk bentuk rahmat adalah bahwa alam dan lingkungan pasca COVID-19 semakin membaik.

(Baca Juga : Tradisi Sungkem Lebaran Selebritis, Sesuai Syariat Islam?)

Tengoklah berbagai riset ilmiah yang sudah dipublikasikan terkait dengan perubahan lapisan ozon yang semakin membaik, air laut dan udara yang semakin bersih, sebab tak ada lagi yang buang sampah di tempat-tempat rekreasi. Tempat-tempat maksiat di berbagai belahan dunia juga tutup.

Rupanya, COVID-19 telah membersihkan dunia ini dari berbagai limbah kegiatan manusia yang mencemari bumi dan langit. Kalau mau jujur, jangan-jangan sebenarnya yang menjadi virus itu perilaku manusia yang mengotori dunia, sedangkan Corona itu anti virusnya. Wa Allâhu a`lam bi shawâb.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم و ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم استغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Oleh: Prof. Abdul Mustaqim

Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pengasuh Pesantren Lingkar Studi Quran (LSQ) Arrahmah, Bantul

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini